Rabu, 17 Desember 2014

1st Culture Shock

Awal tinggal di Eropa aku nggak peduli kalau aku minoritas. Hidupku masih berjalan normal seperti aku tinggal di Indonesia, asal aku masih bisa mengurus diriku sendiri. Begitulah pikirku. Aku muslim, orang Asia, Indonesia, Jawa, orang Timur, yang mana berkebalikan sekali dengan orang Eropa baik dari cara makan, minum, bergaul, berpakaian, berbicara, tertawa, menyapa, mandi, pokoknya segala hal tentang budaya. Awalnya hidupku masih biasa, karena menurutku sejak di indonesia aku orang yang cukup toleran akan perbedaan. Orang lain mau apa terserah. Kawan-kawan mau minum bir, makan daging babi, masak daging anjing, memanggang daging menjangan, mabuk, pesta sampai malam, terserah. Yang penting aku hidup dengan caraku sendiri, tidak bisa diganggu gugat, caraku yang tidak banyak merugikan dan merepotkan orang-orang di sekitar.

Sampai tiba saatnya aku diundang pesta oleh kolega di kampus dan di apartemen. Karena yang mengundang menyangkut kehidupan inti sosialku, maka aku memenuhi undangan mereka. Sebelum-sebelumnya aku juga diundang pesta di bar dan di suatu tempat tertentu, karena yang mengundang bukan kawan dekat, maka tidak aku pedulikan. Masa bodoh kalau dianggap tidak gaul. Aku selalu mengatakan ke kawan-kawan "I don't like party, I don't like crowded place, I'm sorry". Namun aku menghargai mereka yang mengundangku, yang menyadari keberadaanku di sini (sehingga mereka mengundang). Menjelang natal ini, teman di apartemen dan laboratorium mengundang dinner party.

#1
Dinner Party bersama teman di laboratorium berlangsung di daerah Malden, desa kecil area kuliner dekat Nijmegen yang dapat ditempuh dengan bus selama 30 menit. Mereka memesan restoran Italy dan Jepang, Lime Restaurant. Hidangan yang disajikan berupa wine, red wine, cookies, sushi, salad, cocholate, ikan koolvis, daging menjangan, potato, peer, ice cream, pancake, pokoknya sampai lambung kita tidak muat menampung semuanya. Semuanya gratis karena Prof. Geert yang baik hati. Di sana kami berbagi cerita. Terutama tentang pasangan masingmasing. Aku menceritakan bagaimana aku berkenalan dengan mantan pacar dan sampai sekarang yang sudah menjadi suami saya. Ketika aku bercerita kalau aku LDR sejak kami pacaran, mereka menganggapku gila, tidak habis pikir, tidak bisa membayangkan, dan demi apa aku menjalani hidup seperti ini. Suzanna bahkan berkata "Even if I'm capable of taking my PhD in USA, I won't do that, I don't like to be separated from my boyfriend. I'd rather do something makes much sense for me". Manja, kawanku bertanya mengapa aku tidak minum wine padahal menurutnya wine sangat enak. Lalu aku bingung menjawabnya. "Just because wine usually contains much alcohol, I do not drink alcohol". Tidak puas dia bertanya, mengapa? Aku mendapat clue untuk menjawab secara ilmu medis. “You must ever read that if we drink alcohol while we are in the middle of consuming drugs, the drug effect will be more toxic, its concentration in the blood will be significantly elevated. In other words, alcohol is intoxicating. It is worse when we drink alcohol while we consume so much fatty food, or herb-rich food” Dia bilang kalau alkohol tidak dikonsumsi setiap hari, paling-paling kalau lagi pesta. “Who can guarantee me not become contagious? You said that wine is really good, I can not take for granted something like this. The same as smoking, I won’t try to smoke just for knowing how it feels like.” Teman-teman berkomentar kalau aku sungguh normal, orang yang sangat normal dan mereka tidak normal. Well, I do not say that, they do. Aku pun bertanya mengapa mereka memakan daging rusa, mereka bilang karena lezat. Aku bilang, aku tidak doyan, tidak biasa, dan merasa aneh kalau aku sampai memakannya. Aku bilang aku hanya makan daging ayam dan daging sapi, itu pun yang bercap halal. Sehingga mereka memesankanku ikan laut untuk main course-nya. Thank you! Dari obrolan selanjutnya aku baru tahu kalau teman seruanganku, orang Polandia, seorang lesbi. Satunya gay. Oh my God.. Aku kira selama ini mereka normal. Hingga detik ini aku menjadi bingung bagaimana harus bergaul dengan mereka, bingung bagaimana menyamakan cakrawala sudut pandang. Dalam hidup, it is OK if we have different perspective, but it will be easier if we have the same horizon of to where we look at, so at least we can point to somewhere or something the same. Takut juga kan bergaul sama lesbi, (dia lakinya atau dia perempuannya? Aku nggak tau momen seperti apa sehingga aku bertanya dia ini cowoknya atau ceweknya?). Trus ada gay, bagaimana aku harus memperlakukan dia? Aku memang kurang membaca buku-buku anti-mainstream tentang hal-hal semacam itu. Aku tidak berminat karena aku pikir aku tidak akan pernah tersentuh hal-hal semacam itu dalam kehidupan sosialku. Ternyata, dunia ini tidak seluas yang aku kira.

#2
Teresa (Tesa) mengundangku pesta makan malam sebelum dia pulang, sebagai Christmas dinner. Aku menyambut baik, dia bertanya apa yang akan aku masak atau bawa buat makanannya. Aku sedang tidak ada ide, maka aku spontan bilang kalau aku mau membawakan mereka Yoghurt Milbona yang enak itu. She replied “What? But we will not have breakfast, it’s dinner! Haha..” Dia tertawa, aku pun tertawa balik dengan kebingungan. Memangya ada aturan kapan harus makan yoghurt? “But why? Can we eat yoghurt at dinner? It’s really healthy anyway.” Aku jawab. Hari berikutnya Tesa mengirimiku pesan “Sorry for bothering you, but I don’t know what you will do tomorrow L at dinner party, I don’t know why you want to bring yoghurt.” Trus aku musti gimana.. Kan ya aku tidak tahu aku harus bawa apa, mereka suka makan babi dan minum anggur. Sehingga aku balsas “I’m sorry, because I never go to Christmas dinner so I don’t have idea what to bring for food or drink. Well, I was thinking to make Macaroni Schotel, I think it is good idea since we really loved Italian macaroni!” Teresa bilang, “Really? That will be fine. Just tell me if you need help”. Sehingga pagi harinya aku pergi ke took Turki membeli daging sapi cincang halal. Tentu saja HARUS halal. Aku tidak mau makan daging yang tidak halal sekalipun di Eropa, aku membeli macaroni, dan keju. Sore sepulang dari lab aku mulai meracik, 1 jam setelah dioven akhirnya jadi. Estelle membuat pancake dan waffle sebagai dessert. Teesa membuat salad, mentimun mayonnaise, salame (daging babi), terong rebus, sandwich, dan oseng paprika. Caterina membuat sekotel juga! Sekotel versi Italia tapi dicampur daging babi L. Leon membuat steak babi, Vlad dan Kevin membawa Alcohol dan Wine, Tesa dan Leon juga membuat jamu saripati red wine yang dicampur markisa dan apel, finally Jung membawa minuman yang dapat aku minum dengan lega.. Cocacola dan Juice. Aku pun harus pilih-pilih hidangan yang tersaji di meja. Jangan sampai mengambil makanan yang tidak halal. Di pesta makan malam itu pun ada ritual tukar kado. Namun Tesa mengkoreksiku “We are not exchanging Christmas presents, but we give Christmas presents”. Okay, noted.


Jadi, kali ini, setelah hidup selama 4 bulan di Eropa, aku baru benar-benar merasa culture-shocked!


Tidak ada komentar: