Sabtu, 06 Agustus 2016

10s vs 20s



Hai,

Baru saja aku membuka folder-folder lama jaman aku masih kuliah S1 di Jogja dulu. Aku yang familiar dengan isi folderku sekarang, merasakan betapa berbedanya aku sekarang dari aku yang dulu. Berbeda dari sudut pandang pengetahuanku akan isi dunia ini. Dulu aku udik sekali, betapa terasanya bahwa dulu aku benar-benar orang yang datang dari desa lalu hijrah sementara ke kota Jogja yang tidak bisa dibilang metropolitan. Aku orang yang tidak pernah pergi kemana-mana. Paling jauh aku pergi ke Jakarta, itu pun cuma sekali karena tabunganku tidak banyak. Selain Jakarta, aku hanya pergi ke pelosok desa-desa di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Itu pun kusebut piknik. Padahal dalam diri ini waktu itu sangat penasaran dengan isi dunia ini, di dunia ini ada apa aja sih?, orang-orang di luar sana seperti apa sih?, apa yang tidak kutahu?, sudah benar belum ya kalau aku bersikap begini dan begitu?. Segala pertanyaan ingin aku temukan jawabannya. Tidak heran, waktu itu aku memiliki mimpi yang waktu itu juga bagi diriku sendiri terbilang mimpi setinggi langit. Aku ingin terbang naik pesawat ke benua lain dan melihat kehidupan di sana semacam apa. Aku tidak ingin membaca majalah atau review tentang apa yang ada di luar sana, aku tidak ingin membaca buku tentang apa yang orang imajinasikan tentang sebuah kota dan desa di sebuah negara, aku tidak ingin membaca pengalaman orang-orang yang pernah singgah di tempat-tempat itu. Aku ingin melihatnya sendiri, menyaksikannya sendiri, merasakannya sendiri suatu hari nanti. Waktu itu, aku takut bila aku sudah tau dari buku, majalah, dan cerita orang, aku akan jenuh dan kehilangan mimpi yang setinggi langit itu, aku takut aku akan cepat puas.

Sekarang aku pikir, segala pilihan hidupku sudah tepat. Kini pikiranku sudah mampu menampung lebih banyak hal dari hasil interaksiku dengan segala hal di luar diriku, aku makin lihai bagaimana harus bersikap yang baik di segala kondisi, tidak seperti dulu lagi. Andai saja aku terlalu banyak membaca buku dan menonton film dulu itu, mungkin aku tidak ingin bermimpi tinggi-tinggi, tidak ingin pergi jauh-jauh karena toh aku sudah tau. Mungkin aku tidak jadi terbang ke negara-negara lain, tidak jadi berkenalan dengan orang-orang asing, tidak bisa memahami dan merasakan segala pilihan hidup mereka dan segala keragaman yang ada di muka bumi ini, tidak mengerti mengapa orang-orang asing itu suka belajar ini atau belajar itu, tidak mengerti bahwa tanah di belahan dunia di sini pernah mencecap sejarah menarik yang berlika-liku juga. Oleh karena itu, tidak ada yang bisa kulakukan sekarang ini selain sejenak bersyukur atas semua yang Tuhan berikan. Aku tahu ini tidak gratis. Aku sedang memikirkan cara untuk memberikan kembali kepada segala makhlukNya tentang apa yang sudah Tuhan berikan padaku. Aku ingin menjadi contoh yang baik minimal untuk anak-anakku nanti, bila tidak bisa untuk orang lain. Aku ingin mereka memiliki pikiran, minimal seluas pikiranku. Aku ingin mereka tidak udik. Aku kira, pengetahuan bisa didapatkan dari mana saja dan dari siapa saja. Namun, yang lebih dibutuhkan orang lain adalah daya tampung pikiran yang luas dan hati yang jernih untuk menerima segala pengetahuan itu. Itulah yang aku targetkan, karena udik adalah sebuah keterbelakangan.

Saat ini aku belum berani bermimpi lagi karena aku merasa aku sudah mendapatkan hal-hal baru yang berlebih, yang belum aku transfer balik ke orang lain yang mungkin membutuhkan, yang mungkin masih udik. Life is about taking and giving. I have taken a lot and I want to give half of it.