Minggu, 31 Januari 2010

Di Dalam Ruang Sidang Unit 1

Wednesday on the last week of January, still in a holiday moody nih ya, aku mruput ke kampus jam 07.30 pagi special untuk menyaksikan kakak kelas yang bernama mbak Yekti sidang terbuka untuk mempertanggungjawabkan skripsinya. Ehm, bukan menyaksikan aja dhenk, melainkan juga mencari ilmu (ehehee… biar pergiku pagi itu lebbii afdhol! :D)

Nah, sebenarnya niatku hanya menyaksikan sidang terbukanya mbak Yekti aja. Tapi ternyata mbak disebelahku (mbak Bondhan) yang dari tadi ngasi pertanyaan sadis ke mbak Yekti juga ikutan sidang terbuka… weee lha! Hahaha… gek judul skripsi keduanya itu lho… almost similar. Check it out, “Pengaruh Pelarut Polar Aprotik Pada Sintesis Tetrahidropentagamavunon-0 (THPGV-0) dan Uji Aktivitasnya Sebagai Antijamur” [Yekti, 2009] dan “Pengaruh Pelarut Polar Protik Pada Sintesis Tetrahidropentagamavunon-0 (THPGV-0) dan Uji Aktivitasnya Sebagai Antibakteri” [Bondhan, 2009]. Perbedaannya hanya pada kata Aprotik-Protik dan Antifungi-Antibakteri saja. Waaah semangat deh aku ngikutin sidang terbuka ini, soalnya ada bau-bau organiknya. Itu looh, pada kata “…pelarut polar protik-aprotik pada sintesis THPGV-0…”-nya, heheeh…

Senyawa THPGV-0 ini adalah salah satu senyawa analog dari Pentagamavunon-0 (PGV-0). Sedangkan PGV-0 sendiri adalah senyawa analog dari kurkumin yang telah berhasil dikembangkan oleh Tim MOLNAS Fak. Farmasi UGM dan memiliki aktivitas sebagai antioksidan, penghambatan enzim siklooksigenase, dan efek anti-inflamasi (anti-nyeri). Pada penelitian sebelumnya telah disinyalir bahwa kurkumin juga mempunyai efek anti-mikrobial. Maka kemudian mbak Yekti dan mbak Bondhan meneliti dengan mengembangkan efek anti-mikrobial senyawa analognya (THPGV-0).

Pada penelitiannya mbak Yekti, THPGV-0 disintesis dengan hidrogenasi senyawa PGV-0 dengan katalis Paladium dan dengan bantuan pelarut polar aprotik yang bervariasi ( DMSO, asetonitril, dan Tetrahidrofuran) kemudian senyawa yang terjadi diisolasi dengan teknik Kromatografi Kolom. Sedangkan oleh mbak Bondhan, THPGV-0 disintesis dengan cara sama namun menggunakan pelarut polar protik (methanol, etanol, dan isopropanol). Untuk mengetahui senyawa ini murni atau tidak maka dilakukan uji kemurnian dengan analisis jarak titik lebur THPGV-0, Kromatografi Lapis Tipis, dan Elusidasi struktur berdasarkan spectra inframerah. Setelah itu dilakukan uji anti-mikrobial dengan teknik difusi agar. Uwoooo….! Kebayang nggak berapa besar biaya buat nglakuin satu penelitian sampai selesai? Seliter asetonitril aja harganya 20jete…!! Beruntunglah kalian yang kuliah di UGM, kebanyakan penelitian kayak gini ini nggak pake biaya sendiri… :) Jadi kebanyakan banyak sponsor yang ngasih dana hibah untuk jalannya penelitian. Nggak tahu deh ya di Univ. lain gimana. Alhamdulillah… semoga penelitian buat skripsiku kelak juga gratis. Aamien. Hhhee…

Hasil penelitian skripsi ini menunjukkan bahwa THPGV-0 menunjukkan aktivitas antimkrobial, baik antifungi maupun antibakteri. Dan lebih poten daripadi PGV-0. Selanjutnya pada session tanya-jawab, aku pun bertanya. Pada mbak Yekti, “Bila dilihat dari struktur molekul organic THPGV-0, mengapa efek THPGV-0 sebagai senyawa antifungi bisa lebih poten daripada PGV-0?”. Haha… cukup membuat mbak Yekti kalang kabut juga. Akhirnya Pak Jim sang ahli ke-organik-an membantu menjawab dengan memberikan clue2 terkait. Ladies and gentlemen, THPGV-0 itu adalah PGV-0 yang kehilangan ikatan rangkap tak jenuhnya pada atom carbon utama nomor 2 dan 5. Dan kata Pak Jim, jawaban dari pertanyaan saya adalah karena THPGV-0 kehilangan ikatan rangkapnya maka gugus metoksinya tak bisa beresonansi lebih jauh sehingga membuat efek antifunginya lebih poten daripada PGV-0. Kurang lebih seperti itu, dan hal ini bisa dikaji lebih lanjut bila mau. Hehehh… siiip! Siapa yang berminat, dipersilakan.

Lalu kepada mbak Bondhan saya bertanya, “Mengapa pada pelarut protik yang lebih polar dapat memberikan hasil rendemen THPGV-0 lebih banyak daripada bila menggunakan pelarut protik yang kurang polar? Sebenarnya apa hubungan kepolaran dengan kuantitas hasil rendemen?”. Nah, ini dia organic lagi. Haha… Kemudian dijawablah oleh mbak Bondhan dengan memakai interpretasi bahwa karena senyawa polar lebih banyak memiliki pasangan atom bebas. Dalam kasus senyawa polar protik, yang lebih non polar itu (seperti isopropanol) senyawanya lebih bulky (tumpuk undung, bahasa nenek moyangnya haha) sehingga lebih sulit berikatan dengan katalis. Maka dari itu rendemen yang dihasilkan lebih sedikit. Kita kan tahu, senyawa protik yang lebih non-polar itu memiliki gugus alkil yang lebih banyak, jadi sulit berikatan dengan katalis yang mana katalisnya sangat selektif, jadilah rendemennya lebih sedikit. Yeaaahh!! Selamat mbak. Jawaban yang masuk akal. Hhe

Yang sadis itu adalah pertanyaan dari Mas Napi, Raja-nya ke-organikan. Masakan tanya, tiap dijawab selalu menemukan celah keraguan dan akan dikejar terus dengan pertanyaan-pertanyaan mematikan sampai mbaknya nggak bisa njawaaaaab……..hadoooo kan kasian. Menggebu-gebu lagi suaranya. Hingga akhirnya dihentikan oleh moderator. Gawat dah kalo sidang terbuka ada mBahurekso satu ini. Bisa mati kutu di depan… Ckckck =_=

Kemudian setelah acara sidang selasae, mbak Yekti dan mbak Bondhan disuruh keluar dari ruangan untuk menenangkan diri sekaligus menunggu hasil nilai yang akan keluar. Inilah saat-saat mendebarkan jiwa, apakah nanti lulus dengan nilai skripsi apa. Unforgettable history telah terangkai sejak pagi dan sekarang saatnya mencapai klimaks. Setelah para pemberi nilai bermusyawarah, akhirnya keduanya dinyatakan lulus dengan nilai skripsi A! Mereka berdua sampai sujud syukur di depan.Yihiii… ucapan selamat pun mengalir deras. Buah manis dari usaha yang telah sekian lama diperjuangkan. Seneng banget ngeliat wajah bahagia, bangga, dan surprise dari mereka… begitulah ternyata. Semoga ceritaku di kampus ini nanti juga akan berakhir dengan wajah-wajah seperti yang tengah kulihat saat itu. Aamiin Ya Rabbal ‘alamiin.

Selasa, 26 Januari 2010

Vacation Part 4 "Menu Saji in Titis' Home"

Kawan, bila kalian berminat tinggal di rumah Titis, maka pastikan kalian adalah seseorang yang rendah kolesterol. Sewaktu di sana, aku berencana sepulang ke rumah nanti aku harus olahraga sit up secara teratur. Mengapa? Aku beritau ya, di rumah titis itu buanyak sekali makanan enak, dan kerjaanku paling banyak adalah menemani Titis makan dan memasak!! Ajaib nih anak, pagi-siang-sore nggak bosan-bosannya memasak. Setiba disana, Titis memasakkanku panggang dengan bumbu ala Titis yang sudah aku suka sejak kelas satu SMA. Itulah salah satu alasanku tamasya kesana… karena kangen sama panggang buatan Titis, dan sayangnya itu hanya tersedia di daerah Cepu dan Jatim yang deket pantai. Bumbunya itu ya, 11 siung bawang merah, 3 siung bawang putih, 10 cabe rawit hijau, 2 tomat, garam, sama sedikit gula. Fancy, how spicy it is… tapi anehnya, aku nggak merasa pedas sama sekali. Malah aku suka sekali mengunyah itu cabe. Padahal lidahku ini tipe anti pedes looh. Yaa begitulah ajaibnya. Makanan-makanan di sana berpotensi membuat otot lambung makin melebar, watch out!!! Jadi jangan lupa sit up ya, haha…

The Spicy Panggang

Kemudian aku juga selalu disuruh makan jagung uey! Membuat wafer dan chocolatos bawaanku nggak laku di mulut, huehehe… ibu Titis kalau pulang dari mengajar tak pernah lupa ngebawain gorengan banyak dan ayah Titis juga not in absentia beli mie ayam. Wadooo asupan lemak dan kalori sangat tinggiiii, Oh No! menu sarapan Sabtu pagi adalah nasi goreng merpati putih. Jadi maksudnya adalah Nasi goreng tanpa kecap dan pakai telur jawa yang diambil putihannya aja, karena kuning telurnya telah sedap dilahap Titis mentah-mentah. Katanya buat jamu! Ahduhh nianaaak… pasrah dah aku. Yang penting nggak maksa aku buat ngikutin dia aja. Nasi goreng tadi tersaji berlaukkan ikan laut. Yummiii! Malamnya titis membuatkanku telur penyet, pedas yang terasa nggak pedas. Asiik dah… Menu spesial lainnya adalah pada sarapan minggu pagi yang merupakan menu terakhirku, yaitu kerikil kuning terperangkap pasir putih. Apaantuu?? Setelah masakan jadi,taulah aku mengapa. Judulnya pantes juga sih. Itu semacam nasgor juga, tapi pake nasi jagung yang kecil-kecil putiiih, trus pake telur komplit ama kuningannya. Jadi yang dimaksud kerikil kuning itu adalah kuning telurnya itu. Hmmm, begitulah kawanku Titis pinter dan gemar masak nggak kayak aku yang malesnya minta ampun bila deket ama penggorengan. Gimana lagi, aku punya hal genetik berupa hidung yang sensitif sama bau-bauan. Jadi bila membau bauan ekstrem kayak racikan bumbu gitu aku suka bersin-bersin sendiri. Hadooo syusyah… setelah itu aku melanjutkan perjalanan pulang jam 10-nya. Karena senin aku harus kembali ke kampus. Yaah, aku akan merindukan Titis, Cepu, masakan khas, dan keluarganya. They are a quite warm family.

Buat Titis, thanks for accompanying me for five days.

Ricefields in Cepu, Blora

Vacation Part 3 "At Cepu, Blora"

Bertolak dari Tembalang aku naik ANGkutan KOTa dua kali menuju Stasiun Poncol. Trus jalan kaki… bagus deh, sekalian jalan-jalan pagi plus burning fat (padahal belum sarapan T_T). Hari itu panas banget… hari terakhirku di Semarang. Aku dan temanku telah memperkirakan rencana-rencana kami nanti. Yaitu sesampai Poncol nunggu satu jam naik Blora Express trus di kereta, setengah perjalanan nanti kan akan ada ibu-ibu jualan pecel yang kata kawanku rasanya sangat leuzaaatz, trus dibeli buat sarapan. Haha… siip dah. Selama satu jam di stasiun, aku bergemelutuk dalam hati dan kepada Titis (kawan perjalananku) karena stasiun Poncol ini kok nggak terawat banget, mana keretanya jelek-jelek semua, nggak ada yang bagus, kotor lagi dalemnya.Bentuk keretanya nggak keruan, yang dibilang eksekutif menurutku kayak bisnis, yang dibilang bisnis serupa ekonomi, trus apa jadinya yang ekonomi yah?? Hmhmhm Titis seperti bisa membaca pikiranku, bahwa apakah kita nanti akan naik kereta macam ini?? Dia langsung berkata, “Jangan kuwatir, Tul. Saksikan 10 menit lagi kendaraan penjemput kita akan datang dengan sapaan klaksonnya dari timur sana. Kemudian aku akan menunggu komentarmu selanjutnya. Tunggu saja. Hahaha”. Kalimat Titis membuatku penasaran.

Akhirnya datanglah kereta penjemput kami. Dan… tak percayalah penglihatanku, yang benar saja, kereta penjemput kami serupa densha-densha di Eki Negeri Sakura sono, hanya saja yang ini belum electric. Pintu-pintunya aja terbuka secara otomatis, dalemnya bersih, dan ada jam digitalnya gitu deh di tiap gerbong. Begitulah kereta Semarang – Cepu. Kontras sekali dengan penampilan kawan kereta lain yang ada di kanan-kirinya.

Hmmm, sepanjang perjalanan aku tak mau melewatkan suguhan sceneries yang sungguh sugoooii…! Mataku tak bosan melihat hijau, kuning, biru, putih, coklat, abu-abu yang tersaji di balik bingkai jendela, sebagai sajian dari tanah merah ibu pertiwi. Benar-benar sangat Indonesia. Di jauh ke utara ada bukit-bukit memanjang ke timur dan katanya dibalik bukit itulah perairan Laut Jawa bersinggasana. Jadi nih cerita, kereta kami ini bergerak menyisir pesisir Laut Jawa. Nah sesampai di suatu stasiun Randu Blatung, setengah perjalanan, sesuai prakira rencana datanglah ibu-ibu penjual pecel langganan Titis, kami beli deh beserta keripik-keripiknya buat sarapan. Heheheh (kebiasaan sarapan jelang siang)… Aku heran, kata Titis, ibu penjualnya selalu tiba-tiba nongol di depan tempat duduk Titis dekat pintu kereta. Gimana bisa tau Titis ada di tempat duduk gerbong nomer berapa? kan nggak tetep. Seperti sebuah misteri saja, absurd.

Stasiun Cepu

Oke then, kami sampai di stasiun Cepu pukul 11.44 a.m. dan di sana telah ada ayahmaminya Titis. Ternyata begitulah suasana Cepu, tak panas yang panas. Aku sudah bertemu ayahmami Titis berkali-kali karena dulu sering stay di kos Waroka sewaktu anaknya dulu ber-SMA di Klaten. Jadi bisa langsung akrab deh. Selama berada di Cepu, aku tak banyak keluar jalan-jalan karena…… PANAS rek!! Hahaha… Percaya nggak sih, hari Sabtu itu aku sempat tidur siang karena ngantuk tak tertahan, dan bangunnya, aku mendapati keringatku meleleh deraaaasss dan berlanjut sampe menjelang sore nggak mau stop. Sungguh sangar nian panasnya… Sampai-sampai saat itu juga aku menobatkan Klaten sebagai kota paling bersahabat nomor satu sedunia! Trust me!

Kesan yang menempel dalam anganku selain panas, Cepu bagiku juga sangat misterius. Sewaktu jalan-jalan ke daerah SMP 3 Cepu (sekolahnya Titis doeloe) di sekitar perumahan Migas sana, aku seperti seorang putri raja yang sedang jalan di atas catwalk beraspal. Sepi disaksikan penyaksi-penyaksi bisu. Pikirku, ini desa berpenghuni nggak sii?? Dan lagi, bangunan-bangunan rumahnya itu looh, kaya udah ratusan tahun satjah. Pagarnya udah karatan, halaman berilalang lebat, namun rumah-rumahnya gedong pake jendela-jendela jadoel serta melihara pohon-pohon sebesar beringin. Teduh sih iya, sejuk juga, tapi… such a severely scary!. Kata Titis sih, sebenarnya itu ada manusianya, tapi pada keluar kota semua dan udah puluhan tahun nggak balik. Kebanyakan dulu mereka bekerja di Migas. Olala! Siapa yang berminat nyewa rumah-rumah itu? Atau mungkin membelinya? Jangan lupa tiap malam mbakar kayu manis biar tambah terasa horornya! Hahaha… di daerah kawasan perumahan migas itu aku juga diajak melihat-lihat suasana Cepu lewat pinggir-pinggir lapangan golf. Yaa hanya pinggirnya doank sih, karena security di situ sangat sensi dan cinta ilalang. Masak mau mendaki bukit aja pake nggak boleh nginjek ilalang. Lihat donk Pak, ilalang aja kan bukan bonsai… dianya aja mau aku injek. Yasudalah daripada rame brabe! *masih sebel nggak jadi ndaki bukit*

Dan tahu nggak sih, di dekat situ juga ada makam pahlawan, makam tua (iyalah namanya juga pahlawan meninggalnya nggak di jaman modern).

Perjalanan berangkat dan pulangnya, kami melewati taman kota seribu lampu.

Vacation Part 2 "At Semarang"

Setelah turun dari bus, aku menyaksikan Semarang menyambutku dengan udara dan kondisinya yang khas seperti yang tengah terasa bertahun-tahun lalu ketika aku kerap tinggal di sini. Kesanku tentang Semarang adalah kota yang seharusnya menjadi desa yang sungguh luas namun dipaksa untuk dijadikan sebuah kota. Bukan hanya kota, ibukota malah. Gimana nggak, lihat ya disini itu, ketika engkau bertolak dari Banyumanik dan menuju pusat kota, misalnya di daerah Simpanglima sono maka jalan yang dilalui adalah turun, turun, dan turun. Tak heran kalau aku sering mendapat kabar kalau Semarang sedang kebanjiran atau longsor. Gesture tanahnya naik turun, padahal tak kutemukan panorama gunung. Namun, kutemukan tanah-tanah berbukit-bukit seperti pegunungan yang telah disulap menjadi tanah aspal dan berpenghuni ramai. Aku pernah membaca, di salah satu bukit itu bertenggerlah candi-candi peninggalan leluhur, yang menarik bila dijadikan asset pariwisata.


Simpang Lima dari Citraland

Lihat juga ya, silakan traveling pada malam hari meretas Salatiga sampai Tugu Muda. Maka yang kalian lihat adalah panorama luar biasa berupa kerlipan beribu-ribu lampu dari bukit-bukit berpenghuni ramai tadi. Sepanjang kanan kiri jalan deh pokoknya. Bagai melihat bintang-bintang nempel di kulit bumi. Apalagi bila melewati tol, kesan menakjubkan akan sangat terasa bagi mereka yang gemar memaknai segala sesuatu, salah satunya adalah bahwa betapa kecilnya manusia itu. Hal ini mungkin sama layaknya memandang kota lewat menara tertinggi di Masjid Agung Jawa Tengah. Gelap yang penuh dengan kerlipan cahaya. Beritau aku, dimana dijumpai hal seperti ini selain di Semarang? Kalau pun ada mungkin tak akan seindah kesan pertama seperti di Semarang, bagiku. Hehe… Itulah yang ayah perlihatkan padaku dulu, sebagai hadiah ulang tahunku yang keempat, ketika long term memory-ku mulai bekerja maksimal. Dan aku menikmatinya.

Selanjutnya, saat aku di Semarang, Dewi Fortuna sedang tertawa hebat. Gimana nggak, aku datang di saat yang sangat tepat. Musim dingin tanpa hujan di sini adalah hal yang sangat mahal. Kata kawanku, sehari-hari kalau nggak panas yang mendera-dera maka hujan sehari-harilah yang ada. Ketika aku di sini, tak panas pun juga tak hujan. Membuatku betah berlama-lama tinggal. Karena suasananya sangat mendukungku untuk hunting all things new maka aku sangat berminat sekali naik angkot. Jadi selama lima hari itu aku jarang sekali memakai kendaraan pribadi. Paling cuma pas ke kampus UNDIP itu saja. Aku memilih naik angkot karena sangat bermimpi akan kehidupan orang-orang di Negeri Matahari Terbit sono yang hidupnya gandrung akan budaya jalan kaki, naik kereta, maupun naik bus. Jadilah akhirnya aku mau bersusah-susah ria. Maka dalam keadaan sesusah apa pun, tetap kulontarkan senyum pada dunia, karena aku telah memilihnya. Haha… dan hasilnya adalah “ternyata hidup seperti itu menyenangkan, kalau dinikmati. Dan walau kamu tersesat, you’ll always find your way back home!!”. Jadi tak usah takut pada sebuah perjalanan, karena tanpa perjalanan kau tak akan terantarkan kemana-mana menjelajahi hidupmu. Asal berbekal perhitungan-perhitungan yang matang yang bisa kau pikirkan dengan otakmu. Karena sesuatu itu terjadi bukan tanpa alasan dan bukan pula karena kebetulan. Let’s try…!!!