Sabtu, 28 November 2015

Kritik kepada Guru


Ketika scrolling facebook, tidak sengaja membaca memo status mas tersebut di atas. #EAN, atau Mbah Nun, adalah salah satu guru saya yang saya hormati. Kali ini saya ingin melontarkan kritik atas pernyataan tersebut di atas.

Sebenarnya saya paham maksud Mbah Nun mengatakan hal tersebut di atas, yaitu bahwa orang Islam harus pintar menafsirkan Al-Qur'an dan Hadits. Orang Islam harus membuka pikiran selebar-lebarnya, berkreasi sepatut-patutnya, dan berpikir sekritis-kritisnya dengan akalnya sendiri ketika membaca firman Allah SWT maupun membaca sabda Kanjeng Nabi SAW. Kita tidak harus mengikuti pendapat selain apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Kanjeng Nabi, karena pendapat manusia itu hanya mengandung kebenaran yang relatif. Sedangkan kebenaran mutlak adalah hak prerogratif Allah SWT yang mana kita tidak bisa mencapai atau menemuinya, kecuali apabila Allah sendiri yang menemui kita. Kita tidak seharusnya membatasi diri kita dengan hanya mengikuti pendapatnya orang lain kecuali pendapatnya Kanjeng Nabi yang dibimbing langsung oleh Allah SWT melalui Jibril. Mungkin Mbah Nun juga bermaksud menyampaikan bahwa umat Islam tidak perlu bertengkar dan terpecah belah hanya karena perbedaan pendapat ulama panutannya masing-masing, hanya karena perbedaan madzhab. Tidak perlulah mengkultus-kultaskan dan bersikap fanatik menjadi entah itu Sunni, Syi'ah, Wahabi, Ahlussunnah wal jama'ah, dll. Toh, ulama-ulama tersebut tidak pasti benarnya, yang paling benar tentu saja pendapatnya Kanjeng Nabi, karena beliau adalah kota ilmu atau sumbernya ilmu di dunia fana ini. Bahwa hanya dengan syafa'at dari Baginda Rasulullah saja saya bisa masuk surga, itu saya tidak mengingkarinya. Untuk sudut pandang yang seperti ini saya setuju.

Tapi bila dilihat dari sudut pandang lain, pernyataan Mbah Nun juga mengandung tafsir bahwa orang Islam zaman sekarang maupun orang Islam di zaman bukan sekarang tidak butuh, misalnya Khulafaur Rasyidin, Imam Syafi'i, Hasan Al Asy'ari, Imam Ghazali, dan 'ulama lainnya. Padahal, keberadan ulama tersebut di tengah-tengah umat Islam adalah takdir yang tidak bisa kita sangkal, seperti sebuah keniscayaan. Aku tak yakin, bila tidak ada mereka, akankah aku seperti ini? Akankah Islam tersebar ke seluruh dunia? Akankah Islam sampai ke Indonesia? Akankah aku beragama Islam? Akankah aku mengenal shalawatan, maulidan, burdahan, barzanjen, dsb yang syair-syairnya sangat indah itu? Kalaupun aku beragama Islam, maka Islam seperti apa bila tidak ada para ulama tersebut? Sholatku atau hajiku bakal seperti apa? Masihkah seperti sholat dan hajinya Rasulullah SAW? Umat Islam sekarang jadi seperti apa bila tidak ada mereka? Sulit sekali dibayangkan. Sepertinya, sepertinya ya, mustahil Islam sebegini ada atau Al-Qur'an sebegini abadi dan otentik sejak ia diturunkan  sampai hari ini, apabila ulama-ulama tersebut tidak ada. Pada kenyataannya, Allah menjaga Kitab Suci ini lewat keberadaan para ulama tersebut. Satu hal yang paling aku syukuri ketika hidup di dunia ini adalah Tuhan memberikan nikmat Islam sebagai agamaku dan Al Qur'an sebagai kitab suciku. Salah satu ayat favoritku adalah QS. Al Maidah 3:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhoi Islam itu sebagai agamamu.

Ayat satu ini berkali-kali menggetarkan jiwa setiap kali aku baca, yang membuat aku sangat bersyukur bahwa aku beragama Islam. Selanjutnya membuatku berandai, mungkin saja Islam sampai padaku dan sampai pada orang tuaku berkat para ulama. Meskipun, mungkin saja juga, tanpa ada ulama tersebut, maka Allah bisa membuatku beragama Islam bagaimana pun caranya. Karena Dia sungguh misterius, ketetapanNya tidak bisa ditebak, Kun Faya Kun. Tapi kenyataanya Allah memiliki skenario dan aku tidak mengingkari takdirNya. Apabila Kanjeng Nabi adalah katalis, maka mungkin saja Allah menciptakan para ulama sebagai kofaktor. Bukankah orang yang berilmu itu berbeda? bukankah Allah mengatakan bahwa orang yang berilmu adalah manusia berderajat tinggi? bukankah orang yang berilmu itu adalah ulama? Darimana manusia mendapatkan ilmu-ilmu mendasar kalau tidak melalui ulama yang bersanad kepada Kanjeng Nabi? Sangat jarang manusia dapat langsung ditemui Allah SWT, yang mungkin karena manusianya tidak sadar kalau ia harus mendekat dulu padaNya. Bagaimana kita bisa mendekat kepadaNya tanpa perantara ulama yang memberitahu kita bahwasanya kita harus mendekat padaNya? Jadi kalau aku memuliakan para ulama di samping Kanjeng Nabi, lalu mengikuti pendapatnya yang menurutku masuk akal atau bahkan tidak masuk akal (karena pengetahuanku yang terbatas ini), maka aku tidak salah. Sehingga aku pikir, menurutku saja, aku tidak mungkin berislam tanpa keberadaan ulama.

Namun, terimakasih kepada Mbah Nun yang selalu setia mengajak umat Islam untuk terus bebas berpikir mencari kebenaran sejati, sampai kepada "the wildest thought that we can ever make" tanpa harus terbatasi oleh pendapat/pemikiran orang lain.

Senin, 23 November 2015

A Drama in the Sky

Ada sebuah bintang
Bintangnya sendirian
Ia single
Ia tanpa teman
Hanya dikitari saja oleh bintang-bintang biner
Oleh bintang-bintang berwarna-warni yang indah dilihat manusia di dunia
Karena sendirian, cahaya tidak terang
Cahayanya hanya berkelip mungil, tidak indah, manusia tak peduli padanya
Lalu ia sedih
Tapi apa daya, Tuhan menakdirkannya demikian
Suatu saat ia kehabisan energi
Umurnya pendek karena harus bersinar sendirian
Ia ingin bisa bersinar lagi, tapi tak bisa
Ia pun sedih
Ia frustasi
Ia bunuh diri
Ia meledak
Ia menjadi blackhole
Ia tamat
Ia kembali pada ketiadaan

Sabtu, 14 November 2015

"Pray for .."

Aku beneran anak Bapak Hanafi, ternyata. Sebuah pernyataan konyol. haha..
Betapa miripnya kami. Aku bersikap biasa saja akan suatu kejadian, tidak pernah heboh. Misalnya pada kejadian musibah Asap di Kalimantan dan Sumatera, musibah perang di Syria, perang di Palestina, atau yang baru-baru ini serangan penembakan ratusan orang di Paris.

Tadi pagi bangun tidur aku di-whatsapp temanku bahwa dia ingin membatalkan rencana kami ke Delft untuk mengambil baju-baju donasi buat refugee. Rencananya kami cewek berdua mau ke sana, tapi tidak jadi. Heran deh, kemana sih para cowok. Kenapa harus selalu cewek yang bergerak untuk hal kayak gini? Banyak cowok apatis di Nijmegen ini, sayang sekali. Kami tidak jadi ke Delft karena ada kejadian penembakan di Paris. Temanku takut pergi ke tempat-tempat umum semacam stasiun dan centrum di luar kota. Saya kurang paham karena tadi baru saja bangun tidur. Lalu aku membaca deh berita-berita di social media, dari telegraph, dailymail, bbc, dsb. Mereka bilang bahwa tersangkanya kemungkinan Muslim yang menyusup ke gelombang Refugee di Eropa Barat. Lalu di Facebook, Twitter, Path, banyak yang mengirim statement "Pray for Paris". Aku masih biasa saja.

Sedikit mencermati, sebenarnya serangan di Paris itu bukan hal baru dalam hal konflik. Dunia ini dipenuhi konflik yang ratusan tahun tak selesai. Kalau bicara kejahatan genosida, banyak korban konflik lainnya. Di Palestina, Afganistan, Irak, Syria, Afrika, Ukraine. Di Indonesia pun sampai sekarang masih berlangsung pembunuhan-pembunuhan oleh militer, yaitu di Papua. Dulu pernah ada konflik juga di Aceh, dan di Poso sampai sekarang. Jadi, kejadian di Paris mungkin bukan hal baru.

Yang membuatnya beda adalah peran media dan tempat kejadiannya. Media Internasional begitu menggemborkan kejadian ini, melakukan bias opini, menggiring pandangan publik ke arah isu SARA, membuat marah sebagian kelompok. Tidak heran, karena media Internasional yang beredar sekarang memang juga dikuasi oleh orang-orang yang destruktif. Tidak cuma media Nasional saja. Parahnya banyak penduduk dunia yang percaya saja dengan media semacam itu. Tempat kejadian juga membuat kesan berbeda dari peristiwa serangan di Paris. Paris, kota seribu turis. Bayangkan ada teror di tempat yang dianggap penduduk dunia itu tempat yang aman dan terkenal yang oleh karena itu semua orang bermimpi ingin ke sana. Tiba-tiba ada tembakan peluru dan bom di sana-sini. Tidak seperti tempat-tempat di Timur Tengah yang konfik sejak dulu. Bahkan di Paris bermukim para WNI yang hidup aman dan damai untuk kuliah dan bekerja atau berwisata.  Bisa jadi mereka adalah kolega, anaknya, istrinya, suaminya, ayahnya, ibunya, temannya penduduk dari mana saja. Tentu saja kesannya beda. Karena dua hal ini, tentu saja banyak yang heboh, banyak yang mengirimkan statement "Pray for Paris". Beda kasusnya dengan konflik di Timur Tengah yang sudah sejak dulu orang-orang menghindari berkunjung ke sana karena memang banyak peperangan. Beda pula kasusnya dengan Papua, yang tidak banyak penduduk dunia singgah ke sana, lagi pula tidak ada media yang sanggup mengabarkan pembunuhan di Papua karena suara media tersebut dimatikan oleh militer TNI.

Lagi-lagi aku cuma bersikap biasa saja dengan seluruh kejadian ini, seperti Bapak saya yang pasti juga hanya bersikap biasa saja dengan segala kejadian di luar sana. Mungkin kami menganggap dunia dari dulu memang seperti ini, nanti akan seperti itu, selanjutnya seperti apa pun boleh. Karena semua itu adalah Takdir, jadi pasrah aja. Nah, kalau anggapannya demikian, tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi kan?

Framing Paris

Paris kembali berdarah-darah. Tahun ini tercatat 2 kali serangan teror, di kota yang bernama Paris. Kota yang terkenal di seantero dunia, yang orang-orang pada umumnya sangat ingin mengunjunginya tidak terkecuali saya dulu. Musim dingin tahun lalu, ketika saya berkesempatan mengunjungi Paris selama 4 hari, mengubah pandanganku tentang Paris. Memang, aku tidak sempat lebih jauh membaca sejarah tentang Paris sebelum aku ke sana. Aku tidak mempunyai fluktuasi pandangan tentang Paris, melainkan di sana ada gigantic menara Eiffel yang terkenal, Louvre yang legendaris, Versailles yang megah, kota Mode sedunia, dan sekelumit cerita Revolusi Perancis yang aku kurang begitu mendalaminya. Begitu aku tiba di Paris, hampir semua itu buyar oleh pandanganku dari sudut yang sama sekali lain. Paris tidaklah seromantis yang orang-orang bilang. Paris tidaklah seglamor yang orang-orang bilang. Paris tidaklah se-fashionable yang orang-orang bilang. Paris tidaklah secantik yang orang-orang bilang. Lebih dalam dari itu, ketika aku menyelami sudut-sudut dan pedalaman kota beserta museum-museumnya, Paris begitu menyimpan aura sejarah kelam masa lalu yang resonansinya terasa sampai sekarang.

Paris menyuguhnya banyak cerita dari museum-museumnya, monumen-monumen, bangunan-bangunan tua di setiap ruas jalan, yang kalau kita cermati dan dengarkan lebih teliti, mereka seolah bilang "Hey, umurku udah tua dan menyimpan banyak cerita yang masih sangat segar, ini lho sejarahku. Hey, dulu aku menyaksikan sejarah kejadian dan revolusi seperti ini. Hey, tahu nggak sih aku dibangun untuk apa?". Menyelami Paris membuatku menyadari arti sesungguhnya dari setiap monumen-monumen terkenal di seluruh dunia itu. Kebanyakan orang berfoto riang gembira bahkan berciuman romantis di depan menara Eiffel, Arc de Triomphe, Louvre, Sacre Cour tanpa tahu kejadian di balik pembangunan monumen itu semua. Tanpa menyadari, revolusi berdarah-darah dan kekejaman adalah hal yang mendasari monumen-moumen itu ada. Aneh sekali bukan? Begitulah, merantau membuatku terbiasa dengan segala keanehan yang terjadi di dunia ini. 

Kemarin adalah kali kedua Terror Attack di Paris tahun ini. Ratusan korban berjatuhan dan menumpahkan darahnya, di Paris. Paris kembali berdarah-darah lagi. Aku masih belum tahu, kenapa Paris? Kenapa tidak kota lain? Paris masih menorehkan sejarah kelamnya hingga sekarang. Media mengklaim bahwa teror tersebut dilakukan oleh orang Islam dan ada penyusupan teroris melalui gelombang pengungsi Syria. Sebagai orang Islam, aku takut penduduk Eropa melakukan penyamaan stereotype kepada semua Muslim yang tinggal di Eropa. Betapa tidak amannya situasi seperti ini. Eropa, benua yang kupilih untuk aku merantau karena amannya, karena damainya, karena penduduknya yang toleran, bisa saja berubah seketika menjadi benua yang Islamophobia karena kejadian ini. Apalagi Paris adalah kota yang sangat mewakili Eropa dalam berinteraksi dengan dunia Internasional. Semoga penduduk Eropa bersikap dewasa dalam memandang peristiwa teror ini. 






Jumat, 13 November 2015

Menyoal Tragedi 1965.

Sebenarnya masalahnya kompleks sekali kalau dibahas dari berbagai sisi.
Tapi juga sangat simpel dari salah satu sisi.

Simpelnya:
Apa sih yang bisa kita lakukan menyoal sejarah?
Menurutku hanya dua. Pertama, "We may forgive, but we can not forget". kedua, Ikhlas. Itu aja.

Kompleksmya:
Kita tidak boleh melupakan sejarah, seharusnya begitu. Oleh karena itu, kita harus mengusut setransparan mungkin tentang apa yang sebenar-benarnya terjadi tanpa ada bias.
Hal ini menimbulkan masalah lain. Jarang aku temui seoarang peneliti sosial yang benar-benar netral, tidak bias dalam memberikan pandangannya. Selalu ada kecenderungan tentang keberpihakan dari seorang peneliti. Karena pada umumnya orang atau pembaca mudah terbawa-bawa, maka ia akan ikut larut saja pada pandangan peneliti tanpa bisa bersikap kritis. Tidak berhenti di situ, pembaca memiliki pandangan bermacam-macam tentang apa yang dibacanya. Kita tidak bisa memprediksinya untuk keperluan proyeksi di masa depan. Sejarah bisa kita ketahui lewat tulisan, media, dan cerita langsung dari orang. Semuanya mengandung pembiasan, tidak bisa dipastikan validitasnya kecuali mengacu pada banyak data dari berbagai sudut pandang. Kesimpulan pun bisa salah yang kita tidak tahu seberapa salah.
Jadi, OK kita tidak akan melupakan sejarah. Tapi sejarah versi yang mana nih? Nah, demikian.

Ada yang bilang, orang Indonesia yang paling bertanggungjawab atas peristiwa pembantaian 1965 adalah Pak Harto. Saat itu, Pak Harto dan sekelempok militer semacam Sarwo E.W. disetir oleh USA untuk menumbangkan rezim Orde Lama, yang mengakibatkan penumpasan PKI dan banyak manusia tak tahu apa-apa menjadi korban pembantaian. Jadi di sini, yang paling bertanggungjawab Pak Harto, tapi Pak Harto dkk sendiri disetir oleh pihak lain. Pak Harto dkk itu pun sekarang sudah wafat pula. Apa lantas anak dan keturunannya yang harus dihukum? Tentu saja keturunan mereka akan bilang, "Why us? We did not do such terrible thing. Our ancestor did, not we". Menurutku juga nggak adil menghukum keturunan mereka, seperti apa yang dilakukan orang Perancis, menumpas seluruh keturunan Louis saat Revolusi Perancis. Itu hanya akan menimbulkan nafsu dendam kesumat berkepanjangan. Mari baca dan belajar dari sejarah Revolusi Perancis! Seperti Paris yang berdarah-darah sampai sekarang. Seperti Dinasti Islamiyah abad 11-14 masehi. Seperti konflik Sunni-Syi'ah yang nggak kelar-kelar. Tau nggak sih, ketika orang Indonesia menceritakan kepada orang Belanda betapa dulu nenek moyang mereka menjajah negeri kita, mereka akan dengan simpel bilang "Oh.. menyedihkan memang ya. Tapi itu kan pendahulu kami, bukan kami, ya jangan salahkan kami donk. Sekarang kan jaman udah beda.".

Kemudian, negara melakukan permintaan maaf? Tidak segampang itu. Apalagi negara Indonesia yang memiliki beragam macam suku bangsa. Ada yang setuju, ada yang tidak, ada yang tidak peduli. Bagaimana negara mampu meng-cover seluruh aspirasi warganya yang sedemikian? Kecenderungan langkah yang diambil adalah memihak salah satu sudut pandang dan "ignore" sudut pandang lain. Dan itu dilakukan tanpa ada rekonsiliasi yang menimbulkan pertentangan di sana-sini. Baru masalah sepele aja warga negaranya ribut-ribut, apalagi masalah segedhe keadilan gini. Eh, tapi orang sekarang nggak bisa mbedain mana masalah gedhe, mana masalah urgent, mana masalah kecil. Gitu kan ya?
Intinya adalah, menegakkan keadilan dalam masalah ini tidaklah mudah. (Emang enak jadi Presiden???)

Dinamika cerita tiap Bangsa memiliki suatu pola, terkadang sama, menarik untuk disimak dan dipelajari.

Masalah lain lagi. Tidak semua orang bisa hanya memaafkan. Kalau ada pengakuan bahwa "negara memang salah (waktu itu)", tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang ingin membalas dendam atas kekejaman yang mereka terima waktu itu. Kehilangan keluarga, penyiksaan, diasingkan, dll. Tentu, memori pedih yang mengakar kuat bisa jadi menjadi sebuah boomerang untuk membalas dendam.

Lebih jauh dari itu, keterlibatan USA dalam masalah ini, sepertinya tidak bisa diakhiri hanya dengan pengakuan dan permintaan maaf dari mereka saja. Bisa saja, hal ini hanya dijadikan "alat" saja bagi mereka untuk mengejar misi selanjutnya. Okelah mengakui, dan meminta maaf. Tapi dibalik itu, masih ada hal terselubung lain yang mereka rencanakan, yang kita tidak tahu, tapi mungkin bisa diprediksi.

Bisa nggak sih, masalah dihentikan sampai klarifikasi sejarah, pengakuan, peradilan, dan permintaan maaf saja? Kalau itu bisa, selesai. Kita tinggal ambil pelajaran dari peristiwa tersebut. Yang masih mengganjal, biarlah waktu yang akan mengungkapnya. Tapi, ya, mana bisa ..

Konflik tidak untuk diselesaikan, tapi untuk diminimalisir. Setidaknya itu yang dikatakan Carl Marx dulu (kata teman saya). Sejauh apa International People's Tribunal 1965 menyidangkan permasalahan ini? Apakah IPT1965 di Den Haag dimaksudkan untuk membesarkan konflik yang sudah-sudah serta untuk mengadu-domba bangsa kita biar terpecah belah? Mungkin itu pandangan sebagian orang. Namun sebagian lain beranggapan bahwa bagaimana pun, upaya menegakkan keadilan setransparan mungkin tetap harus dilakukan untuk meluruskan cerita sejarah dan membangun peradaban yang lebih baik. Saya setuju yang kedua. Tapi apabila niat baik ini disalahgunakan, menurut saya sih mending masalah ini biarkan saja tenggelam, tidak usah dibahas lagi. Biarkan para korban berkorban, mendapat kemuliaan di kehidupan selanjutnya. Case Closed.

Kamis, 05 November 2015

Indonesia Layak Diperjuangkan


"...walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur permai dikata orang
tetapi kampung dan rumahku
di sanalah kurasa senang
tanahku takkulupakan
engkau kubanggakan..."

Lagu ciptaan Ibu Soed ini benar-benar cocok banget untuk orang yang besar di Indonesia lalu merantau ke luar negeri, seperti saya.
Merantau membuat kita lebih  mencintai tanah kelahiran kita, membuat kita sadar betapa berharganya kampung halaman kita, membuat kita bersyukur bahwa kita memiliki Tanah Air jauh di sana.
Terlebih bila mengingat ada bangsa yang masih saja berperang memperebutkan dan mempertahankan Tanah Air-nya, ada bangsa yang penghuninya sibuk berperang dan membuat penghuni lainnya harus mengungsi jauh ke negeri lain untuk menghindari peperangan.
Aku bersyukur memiliki Indonesia.
Jadi ayolah kita jaga sama-sama, jangan sampai konflik menjadikan ia terpecah belah.
Seperti kata Panji, "Indonesia memang nggak sempurna, tapi ia layak kita perjuangkan."
Jangan tanya apa yang telah bangsamu perbuat untuk kamu, tanyakan saja pada dirimu apa yang bisa kamu perbuat untuk bangsamu? Apa yang bisa kita sedekahkan untuk Indonesia kita?

Rabu, 04 November 2015

Merantau

Mungkin aku sudah bercerita tentang sedikit kehidupanku di rantau. Namun aku rasa, aku belum banyak bercerita tentang pentingnya “Merantau” menurutku. Aku pikir, aku sedang sangat bersyukur karena dalam hidupku, aku dibiarkan olehNya untuk merasakan kehidupan di rantau.

Flashback dulu..Menurut hematku, aku sudah menjadi seorang perantau sejak berumur 13 tahun. Waktu itu aku dengan keputusanku sendiri, memutuskan untuk meninggalkan rumah dan hidup bersama budhe, menemaninya di hari tuanya. Waktu itu aku diminta budhe untuk tinggal bersamanya selepas pakdhe meninggal. Aku tidak pernah pulang, pulang hanya 2 bulan sekali, dan itu pun hanya 2 hari Sabtu-Minggu saja di rumah. Aneh sekali, aku tidak merasa kangen dengan ayah, ibu, dan para kakakku. Aneh sekali, sekecil itu aku sudah betah hidup di luar rumah ayah-ibu yang surgawi itu, memilih untuk tinggal bersama orang tua yang aku tidak tahu karakternya bagaimana. Di tempat budhe, aku ditempa menjadi orang yang disiplin, rajin, dan relijius. Aku membiasakan diri hidup dengan budhe yang karakternya sangat kuat dan keras. Aku tidak merasa teraniaya, aku senang aku bisa menjadi demikian. Lalu, selang 1,5 tahun kemudian, aku pun memutuskan pulang. Aku pikir aku sudah cukup kenyang dengan kehidupan bersama budhe. Aku kembali ke rumah, tapi bukan karena aku kangen dengan rumah. Entahlah, aku hanya menuruti kata hati saja, bahwa aku harus pulang. Sewaktu SMA, aku pun memutuskan untuk tidak tinggal di rumah. Jadi, selama 3 tahun itu aku hidup di sebuah kos. Meskipun jarak rumah dan sekolah tidak begitu jauh, namun aku memilih untuk tidak tinggal di rumah. Pulang hanya ketika akhir pekan saja. Pun aku juga memutuskan untuk belajar bahasa Inggris di Kediri selama sebulan penuh, tinggal di asrama, bertemu dengan orang-orang dari berbagai suku. Aku sangat senang. Beberapa waktu kemudian, aku menyadari, ternyata orang tuaku semakin lama semakin bertambah umur saja, beruban di sana-sini. Aku memutuskan untuk selalu pulang, dimana pun aku berada. Aku memutuskan untuk harus bertemu dengan ayah-ibu sesering aku bisa. Namun begitu, aku tetap menjalani kehidupan rantauku. Ayah adalah orang yang senang anaknya merantau dan berkembang. Aku pikir, aku telah hidup sesuai dengan apa yang ayah mau. Ketika kuliah, aku hidup bersama kakakku yang karakternya pun juga sangat kuat, berkenalan dengan para koleganya yang beraneka ragam, dengan kehidupan sosial tingkat tinggi karena kakakku adalah seorang aktivis. Namun aku masih selalu pulang ke rumah bertemu dengan ayah ibu. Di masa kuliah S1, aku mengumpulkan semangat dan mimpi-mimpi untuk hidup di luar negeri. Kakakkulah yang benar-benar memberikanku banyak cerita, bahwa manusia perlu merantau. Kakak iparku yang pernah tinggal di banyak negara di luar negeri, sungguh menyarankanku untuk juga merasakan kehidupan di luar negeri, merantau, sejauh yang aku bisa. Setelah itu, aku bekerja dan melanjutkan kuliah lagi.

Di masa kehidupan S2 inilah aku merasa aku benar-benar merantau, full time. Tidak bisa pulang sesering aku mau. Namun demikian, di masa inilah aku benar-benar mengalami kehidupan yang sungguh sangat berbeda, yang membuatku selalu berpikir dan berpikir ulang, tentang untuk apa aku hidup, kehidupan seperti apa yang aku cari, mengapa orang lain seperti itu, mengapa aku seperti ini, dsb dsb. 

Aku merasakan dinamika pemikiran yang lebih fluktuatif daripada sebelum-sebelumnya, yang akhirnya membuatku berpikir, bahwa benar apa yang dikatakan orang: merantau membuat kita semakin mengenal asal muasal kita. Aku sangat setuju, anak muda perlu merantau untuk mengenal berbagai karakter orang, mengenal berbagai macam situasi dan lingkungan di luar zona nyaman, berdiskusi dengan banyak orang dari berbagai kalangan dan berbagai bidang ilmu, mengecilkan rasa takut dan mengembangkan keberanian.

Merantau membuat hidup kita sangat dinamis dengan setting cara berpikir yang sangat luas. Merantau membuat kita mudah memaklumi segala keanehan yang terjadi di dunia ini, yang kita akan memiliki argumen pribadi tentang segala keanehan tersebut, karena cara berpikir kita yang meluas itu. Cara berpikir kita yang luas sungguh sangat penting sebagai landasan dalam melakukan manajemen konflik. Kalian tahu, hidup di rantau membuatku dapat meneropong dan memetakan beberapa konflik yang ada di dunia ini, khususnya di Indonesia. Aku melihat, betapa banyak orang yang masih mudah diadu domba, betapa mudah orang-orang dipecah belah. Selain itu, merantau memberikan kita banyak ide dan landasan tentang apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Merantau dapat menyadarkan kita bahwasannya teori Relativitas itu sungguh sangat relevan bagi kehidupan manusia. Merantau dapat membuat kita mampu meredefinisi segala terminologi yang dibuat orang lain, yang mana kita mampu berpendapat sendiri tentang terminologi tersebut, sesuai standar kebenaran kita masing-masing. Merantau dapat menyadarkan kita tentang hakekat kehidupan yang sesungguhnya sejelas-jelasnya, meskipun tidak banyak perantau yang bisa meneruskan kesadaran ini dalam kehidupan praktisnya. Merantau membuat kita sadar, bahwa betapa berharganya kampung halaman kita, bahwa kita akan menemukan resonansi-resonansi kampung halaman kita di tempat-tempat tak terduga di dunia ini, yang membuat kita ingin segera pulang dan melakukan banyak hal di sana. Merantau mempertemukanku dengan kasih sayang (rahmat) Tuhan yang ternyata sungguh sangat luas sekali bagi segala ciptaanNya tanpa kecuali. Merantau tidak seperti hanya membaca buku (jendela dunia), merantau mempertemukan kita dengan kehidupan sebenarnya, bukan seperti cetakan tinta saja. Pun tidak seperti cetakan tinta dalam tulisanku ini, yang sebenarnya adalah lebih dari sekedar tulisan ini. Tulisan ini terlalu datar, tidak memiliki banyak rasa dan emosi, rasa sesungguhnya tidak dapat kuceritakan semuanya di sini. Oleh karena itu, aku setuju, setiap orang perlu merantau, untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan matang, dengan pemikiran yang sangat lapang.

Aku pikir aku belum menuliskan semuanya, tentang betapa pentingnya merantau menurutku. Tulisan di atas hanya mewakili sebagian kecil saja. Namun, aku akan melanjutkannya bila aku ingat, bahwa mengapa kita perlu merantau.

ditulis di Geert Groteplein
di tengah persiapan presentasi
pukul 13.32