Minggu, 16 September 2012

Kepercayaan

Satu pertanyaan, "Bagaimana mekanisme datangnya kepercayaan?" Aku memang pernah mengalaminya, namun ku tak bisa mengejawantahkan secara sistematis. Sulit sekali buatku merangkai bahasa itu. Padahal, bahasa buatku adalah segala-galanya. Betapa sulitnya hidupku, kurasa inilah yang membuatku sering merasa sepi sendiri.

Kepercayaan, sesuatu yang dapat dengan sangat kuat menjadi pondasi dan motivasi bagi seseorang dalam mewujudkan apa yang diharapkan dalam hidupnya. Kepercayaan adalah sebentuk energi. Mungkin kepercayaan memang hanya datang dari Sang Penyuplai Energi. Dia mengkaruniakannya hanya kepada makhluknya yang berjulukan manusia. Berbagai macam kepercayaan, Dia memberikannya kepada manusia yang dikehendakinya.

Pernahkah merasa beruntung telah dikaruniai sebuah kepercayaan? Atau merasa sial? Mungkin tergantung kualitas dan kekuatan doa dan usaha seorang manusia juga.
Kepercayaan. Barangkali dari sebuah adanya kepercayaan di hati, maka Tuhan begitu mudah mengambil langkah "Kun Fa Yakun". Tidak segan-segan.

Katakanlah, bahwa ketika kau berumur 2 tahun kau sudah mulai diajari membaca Al Qur'an. Umur 5 tahun sudah fasih membacanya. Umur 6 tahun, kau berhasil mengkhatamkannya. Dan mulai saat itulah kau membangun kepercayaan diri bahwa kau akan mampu menghafalkannya pada umur 12-13 tahun nanti. Sebentuk angan yang lebih banyak porsi ketidakmungkinan daripada kemungkinan, bukan? Itu untuk yang tidak percaya bahwa kau sebenarnya bisa. Karena, sudah banyak bukti. Kau memiliki porsi kemungkinan yang sama dengan orang-orang yang telah sukses itu. Untuk benar-benar bisa hapal kau hanya bermodal percaya saja bahwa suatu hari nanti kau bisa menghafal 30 Juz tanpa cacat dengan lagu yang begitu indah. Itulah bagian tersulit. Membangun kepercayaan diri. Setelah kau percaya kau bisa, maka seolah-olah tangan Tuhan benar-benar ikut campur langsung dalam proses usahamu. Dan memang Tuhan ikut campur. Tidak segan-segan, Tuhan pun seperti berucap "Kun Fa Yakun" untukmu. Dan memang demikian. Dari kacamataku, seperti mustahil saja bahwa kau telah benar-benar bisa menghafal 30 Juz tanpa cacat dengan alunan lagu yang merdu. Sepertinya baru kemarin kau mengeluh bahwa kau tidak akan bisa menghafal sebanyak itu. Selamat, usia 12 tahun sudah berhasil menjadi Hafidz/Hafidzah bil ghaib. Sungguh hebat. Terutama hebat dalam membangun kepercayaan diri dan istiqomah dalam berusaha. Kau sudah lupa kesulitan-kesulitanmu dulu bukan? Pastilah kini segalanya terasa mudah bagimu. Keajaiban adalah campur tangan Tuhan secara langsung. Sekarang apalagi cita-citamu? Menjadi Sarjana? Doktor? Imam Masjid? Scientist? Atau aktivis kemanusiaan? Kau hanya tinggal percaya saja selanjutnya, tidak sulit lagi bagimu menyulut sebentuk api yang lain itu.

Bagi yang tidak menyadari bahwa Tuhan benar-benar ikut campur dalam cita-cita luhur tersebut, itulah orang-orang yang sebenar-benarnya sial. Bagi yang menyadari kehendak dan kekuasaanNya, merekalah sebenar-benarnya manusia yang beruntung. Baginya, terjagalah ia dari segala aib yang disembunyikan dunia. Apalagi bagi Sang Penghafal KalamNya, kalianlah rahmatNya yang juga nyata. Kalian yang terkasih dan berlimpah kasih sayangNya. Betapa irinya aku.. Ah, sebenarnya dulu aku bisa. Seharusnya. Namun apatah, aku tidak percaya. Tuhan pun enggan mengulurkan tanganNya padaku. Aku bukan bagian dari kehendakNya yang itu.

Kini, aku sedang berusaha membangun sebentuk kepercayaan pula akan sebuah cita-cita. Alangkah susahnya.. Demi meraih rangkulan kasihNya. Doakan saya.

I know who you are. You're never very far..
We'll be higher than we thought we'd be, because you showed me How to Believe. ~ Bridgit Mendler

Tidak ada komentar: