Minggu, 09 September 2012

Jenazah

Tadi pagi 2 jam duduk di depan jenazah, tepat 2 meter.
Sebelum duduk kusempatkan menyolatkan sang jenazah, simbah Mariyah, tetanggaku yang masih tergolong sebagai nenek meski trahnya agak jauh. Gara-gara ibu menceritakan bahwa dulu, saat aku lahir, mbah Mariyah bela-belain naik bus sendirian ke rumah sakit tempat aku dilahirkan, lalu menunggui ibu seharian di rumah sakit di kota Klaten itu, mungkin Mbah sempat kepanasan sewaktu perjalanan, dan tentu saja kecapean. hiks.... Terimakasih banyak mbah Mariyah.
Kalau itu aku, aku pasti nggak mau pergi-pergi kalau nggak ada kendaraan dan barengan buat jenguk tetangga atau siapa, oh... kau masih lebih baik Mbah, jauh lebih baik daripada cucumu ini.
Ibu juga cerita, Mbah Mariyah selalu mendengar tangis Mbak Us  sewaktu mbak saya itu masih bayi dan ditinggal ibu ke pasar. Mbah Mariyah pun mengambil mbak Us yang masih bayi untuk dininabobokkan kembali. Bapak nggak ada, karena saat itu Bapak sedang pergi ke Bandung selama seminggu untuk mencari pekerjaan.
Bertambahlah rasa hutang budiku ke simbah yang tadi telah menjadi jenazah di depan mataku.
Melihat badannya yang telah dibungkus kain kafan, berlanjut dengan gerimis di hati, dan menangisi diri... betapa dekat kematian itu.
Kini Mbah Mariyah telah berada di dimensi lain, begitulah nanti juga takdirku.
Sebelum simbah meninggal, beliau sakit, meski awalnya hanya dimulai dengan jatuh lalu keseleo, berlanjut dengan ketidaksembuhan selama berminggu-minggu dan akhirnya malaikat Izrail pun menjemputnya.
Konon, orang yang sakit parah lebih dari 3 hari maka segala dosanya terampuni. Itulah mengapa (mungkin) banyak orang yang meninggal setelah sekian lama sakit, Allah masih menyayangi hamba-hambanya, tentu saja.
Selamat jalan, Mbah..

Tadi sewaktu melayat, sempat terpikirkan, andaikan aku laki-laki, aku hendak menjadi pengantar jenazah kekuburan, bukan hanya pengantar, namun juga penggotong jenazah tiap kali ada orang meninggal. Ada bapak-bapak yang notabene teman dekat bapak, tiap kali ada orang meningggal di desanya, bapak itu selalu menggotong jenazah sampai kekuburan dan meletakkannya di liang lahat. Betapa arif pasti orang seperti itu. Namun aku perempuan, hal seperti itu tidak lazim dilakukan perempuan di desaku.

Nanti kalau aku meninggal, akan bagaimanakah diriku ini? Jiwa-Ragaku ini? Siapa yang akan mendoakanku? Niscaya kalau aku punya anak, akan kuajari mereka untuk senantiasa mendoakan para sesepuhnya.

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah... Irji''i ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyah.
Fadkhulii fii 'ibadi, wadkhulii jannatii.

2 komentar:

aidolku mengatakan...

Doa terakhir itu sering diucapkan mbah kakungku (adiknya mbah putriku dari garis ibu) kalo semua trah mbah buyutku lagi kumpul pas bakdo ^_^

Nihaya mengatakan...

Itu Q.S. Al Fajr ayat-ayat terakhir doel....