Rabu, 20 April 2011

Catatan 18 April Pagi

(00.01 - 03.30)

  • Cerita Patub. Dalam sebuah performa, rencana-rencana itu jadi tidak penting kalau suatu start sudah terpegang dulu, dengan kata lain sudah bisa mengambil hati audience, lalu terbawa suasana…menikmati, akhirnya SUKSES! Memang goal-nya itu adalah mengajak audience berinteraksi dan pementasan bagus. Pelajaran yang bisa diambil adalah : penonton pun menganggap yang pentas adalah satu team-nya, jadi harus disukseskan bersama “ini acara kita semua, mari kita kompak mensukseskannya bersama-sama”. Perlu sikap menaklukkan keadaan. Omonglah kepada massa apa yang ada di hati mereka. Penonton itu sebenarnya tidak tahu persis apa yang mereka butuhkan, kita yang harus membaca kebutuhan mereka. Mereka datang, duduk-berdiri, menikmati, diam, tepuk tangan. Jadi, hidup itu tidak hanya 1 toples saja, tapi prasmanan.
  • Kelakar Cak Nun : yang namanya Islam Liberal, kalau sama bocah-bocah Maiyah itu, diem mereka. Hahhaha… kalah Liberal mereka.
  • Sebenarnya, spiritualitas kita dahsyat, musuh bisa dikalahkan hanya dengan 1 atau dua kalimat. Orang sini hidup pakai filosofi. Jadilah orang kaya, kuasailah dunia, tapi kita khilafahi. Kita kuasai materi untuk mendapatkan nilai. Indonesia butuh sebuah teknologi untuk mengeliminir keadaan buruk dalam diri kita.
  • Sangat banyak Allah memberi retorika, banyak ayat-ayat-Nya seperti sebuah ‘tawaran’. Ketika engkau dijahati, maka kamu berhak untuk membalasnya. Tapi Dia ‘menawari’ akhlaq. Kalau kita memaafkan, maka tinggi derajat kita dihadapan-Nya.
  • Segala sesuatu yang tidak bisa kita atasi, maka kita tawakali. Segala sesuatu yang sudah ketara jeleknya, busuknya, ya sudah percaya saja akan Kun Faya Kun dari Allah. Kembali ke rumus-rumus jagad malaekatan. Akan ada rumus-rumus dari-Nya yang tidak dapat kita duga dan akali. Anda punya kemampuan yang dahsyat, tapi nggak ada lapangannya, nggak diadakan pertandingannya, jadi ya yasudahlah…mau apa kita. Ada, saking mlaratnya orang, disuruh main scene apa saja mau. Yang main film/sinetron seperti diperbudak, tidak tau dia mau main apa karena tidak ada cerita yang jadi sejak awal.

Aku tangisi hati matahari
Yang disakiti cahaya cintanya
Menaburi bumi, ada yang menghalangi

Gerhana rembulan dan gerhana bumi berlomba menutupi
Berkahnya Tuhan hamparan rejeki jadi tak sampai

Tuhan hakiki, Kaulah matahari
Penerang gelapnya hidup kami
Kiriman kasih sayangmu ada yang meracuni

Takkan bisa terus begini sejenak saja lagi
Zaman kan terkesima
Berganti Cahaya Cahaya Cahaya

(Hati Matahari – performed by Novia Kolopaking)
  • Allah kafir kepada kedzaliman. Ini soal bahasa, tapi ini kontekstual, bukan substansial. Yang dimaksud kafir adalah menutupi kebenaran. Bahkan di al-Qur’an, ada  makna kafir itu adalah petani, karena apa? Karena petani menutupi tanah dengan tanaman. Jadi, kalau disebut kafir jangan marah. Tolong Islam juga dipahami lewat epistemologi, makna, dan lughoh. Ada syahid, jihad, kafir, dll. Misalnya mati syahid itu artinya mati dengan mempersaksikan. Tapi selama ini, mati syahid itu diukur dengan parameter-parameter yang tidak tepat. Menafsir sesuatu jangan terlalu dalam, tapi luweslah, istiqomah, dan muthmainnah. Hati yang selesai, ketabrak apa pun akan luwes, lentur, tidak skeptis.
..ku menepi, di sejuknya pagi.


Bulan Purnama di Fajar 03.54


End.


Tidak ada komentar: