Minggu, 25 Mei 2008

unTitleD

Kini saatnya. Kurasa mereka sudah dekat. Aku bisa mendengar gema suara mereka terbawa angin subuh. Dengar, dini hari ini desir angin seperti sayatan sepanjang jalan. Menderitkan ngilu jendela kayu, mendesiskan retak daun pintu, menangkupkan dingin ke dalam rumah. Lilin tercakar, sebentar ia berkobar, sekejap ia mengerjap-ngerjap. Gelap memaksa masuk merasuk-rasuk.

Setelah semalam aku duduk disini, berdiang dekat cahaya lilin di dapur. Aku menatap kuning cahayanya meliuk kuning biru, menjatuhkan bayangku pada dinding kayu – ia bergerak ke sana-ke mari seperti penari, padahal aku duduk diam. Berjam-jam aku mengamati bilah-bilah kayu, menelusuri permukaannya yang memecah seperti urat nadi pucat. Tapi, aku tak bicara pada mereka. aku tak bicara padamu. Aku tak bicara pada siapa-siapa. Aku hanya duduk di sudut, menunggu.

Jam berapa ini. Lihatlah laut. Permukaannya telah berubah kelabu perak. Bintang tinggal dua tiga, dan cahaya keemasan menjanji matahari di cakrawala. Aku selalu suka langit pagi yang selalu cantik, juga langit sore. Matahari akan terbit ataukah terbenam. Langit akan tampak sama berlukis warna-warna lembut. Jingga. Merah-jingga. Merah muda. Biru. Ungu. Kelabu. Kita tak akan pernah tahu awal atau akhir sesuatu. Ragu akan waktu… kau akan belajar menikmati pagi.!

Tidak ada komentar: