Salah satu teman saya dari UGM dan mendapat beasiswa yang sama seperti saya, yang belajar Sejarah di Leiden University. It must be so fun to see Indonesia, particularly Indonesian history from broaden perspective in the place wherein has deep historical relationship with Indonesia. Moreover, Leiden University is so impressive with its biggest manuscripts collection of South-East Asia History, especially Indonesia, in the library. He also took some pictures of Indonesian history manuscripts regarding the library's collection, many Soekarno, Hatta, Sjahrir, and Kartini's books. Very lucky, because It's difficult to access the library unless we are Leiden's student. But someday, I'll go there somehow.
Kamis, 16 Oktober 2014
Cerita Virtual Dari Leiden
Salah satu teman saya dari UGM dan mendapat beasiswa yang sama seperti saya, yang belajar Sejarah di Leiden University. It must be so fun to see Indonesia, particularly Indonesian history from broaden perspective in the place wherein has deep historical relationship with Indonesia. Moreover, Leiden University is so impressive with its biggest manuscripts collection of South-East Asia History, especially Indonesia, in the library. He also took some pictures of Indonesian history manuscripts regarding the library's collection, many Soekarno, Hatta, Sjahrir, and Kartini's books. Very lucky, because It's difficult to access the library unless we are Leiden's student. But someday, I'll go there somehow.
Minggu, 12 Oktober 2014
Nostalgic The Hague
Sabtu, 11 Oktober 2014
Hujan dan Sepeda
.... aku mau cerita juga:
Aku mengerti mengapa orang sini memang butuh minum yang tidak hanya air putih, minuman penghangat tubuh dan menyegarkan. Seperti aku sekarang, aku tak bisa hanya minum air keran seharian. Pasti aku meluangkan waktu untuk menyeduh teh (dan karena hanya itu yang aku punya) yang aku bawa dari Jawa. Teh tubruk Dandang Biru satu pak. Aku merasa bersyukur aku membawa beberapa makanan yang awet berbulan-bulan dan praktis disajikan untuk dibawa sebagai bekal ketika kuliah dari pagi sampai sore. Bukan pula itu adalah makanan berkuah. Maka, tiap makan di kampus, aku selalu memesan sup kuah kental 'vegetarish'. Untuk menyegarkan mulut, tenggorokan, lambung tentu saja, dan menghangatkan badan. Hidup di sini aku selalu gemar makanan berkuah. Bila ada waktu, aku selalu memasak makanan berkuah. Karena udara yang kering. Kau tak hendak mendapati hujan deras, yang ada hanyalah hujan gerimis singkat yang galau dan romantis. Mungkin, para bule ketika melancong ke Nusantara, mereka terkaget-kaget diterjang air yang tersiram dari langit dengan volume besar dan mendadak. Sedangkan aku di sini hanya heran, ketika hujan aku tak pernah sampai basah kuyup, bahkan aku masih bisa bersepeda menikmati titik-titik air yang segera mengering ketika aku sampai lokasi tujuan.
Yang selama ini jadi pertanyaanku ketika di jalan adalah, bagaimana negeri kincir angin ini mengawali budaya bersepeda dan membangun jalur sepeda di setiap ruas jalannya, dengan rapi, teratur dan tertib. Betapa asoi bila di kota-kota di negeriku tercinta bisa menirunya. Jakarta, misalnya. Macet dan polusinya jangan ditanya. Mungkin nomer satu di dunia. Karena selama ini, hanya Jakartalah yang aku dapati kemacetan berkilo-kilo meter. Tanah di Jakarta kan rata-rata datar, untuk bersepeda tentulah asyik, tidak seperti tanah di desa yang kadang berbukit naik turun. Tidak Jogja, karena di daerah selain kota Jogja, tanahnya sudah berbukit naik turun, katakanlah Sleman. Namun begitu aku masih mendapati mahasiswa sederhana yang bersepda dari Jalan Kaliurang KM. 13 sampai kampus UIN SuKa, karena dia tidak memiliki motor. Apa boleh buat. Seharusnya aku meminjamkan motorku yang nganggur di rumah untuk dia.. :(
Jalur sepeda dan jalur pejalan kaki, aku masih membayangkan itu ada di Jakarta. Entah siapa yang bisa menginisiasinya. Satu yang aku tangkap tentang sebab, bahwa semakin banyak manusia, semakin sulit menciptakan tata kelola yang rapi dan terstruktur. Aku sudah mewanti-wanti suami untuk mulai bersepeda ke kantor. Toh cuma dari Cempaka Putih ke Lapangan Banteng, tak lebih jauh dari Vossenveld ke Hayendaalseweg. Tiga puluh menit adalah waktu yang aku perlukan pulang-pergi setiap hari dari apartemen ke kampus dan aku tidak mengeluh sama sekali, karena semua orang beitu, sama seperti aku. Apalagi bersepeda membuat otot perutku lebih kencang dan mengecil yang pada awal di sini agak melar. Apalagi bersepeda membuatku tubuhku hangat melawan udara dingin karena pembakaran kalori.
Itulah, What I love to stay here and about the Dutch.
Nijmegen pukul 23.43
Kamis, 09 Oktober 2014
Selasa, 07 Oktober 2014
Kangen, Mimpi, Realita
Saya kangen. Kangen sama suami, diikuti kangen sama ayah ibuk di Indonesia. Sampe nangis sesenggukan tanpa henti, mata merah, hidung meler, perasaan rindu mengharu biru, sangat biru di relung jiwa. Sudah puluhan kali di sini saya seperti ini. Mungkin iya, waktu itu, pergi ke sini adalah keputusan paling bodoh yang pernah saya ambil. Menjauh dari frekuensi semua orang-orang yang saya cintai. Hingga hampir 2 bulan perpisahan ini, saya lupa bau suami saya, bau rumah ayah ibu saya, meskipun suara mereka masih sangat aku ingat. Mungkin iya, bila waktuku di sini banyak kuhabiskan untuk menangis, aku akan menyesal pada akhirnya. Apalah arti menyesal kalau sekarang pun saya merasa menyesal telah menjauh dari mereka. Mungkin iya, menyesal itu akan selalu ada, baik di saat saya memutuskan iya atau tidak. Mungkin iya, bahwa hal paling baik yang bisa saya lakukan adalah mengikhlaskan segalanya. Mengikhlaskan seluruh keputusanku, baik yang sudah maupun yang akan. Mengikhlaskan segala sesuatu yang terjadi, baik yang sudah maupun yang akan. Tapi berat! Mana ada manusia yang setiap waktu bisa ikhlas.
Saya tak juga memandang-mandang kehidupan dari kacamata orang banyak. Padahal saya berada di sini salah satunya adalah untuk itu. Dan juga untuk menjalani mimpi-mimpi yang saya kira indah di masa lalu. Sekarang pun saya masih bermimpi, setinggi-tingginya. Ah mungkin saya adalah manusia yang hidup dalam mimpi yang tak juga sadar akan realita. Karena realitanya adalah saya harus menyelesaikan mimpi masa lalu saya dengan realistis dan membuatnya berakhir dengan indah yang orang lain tak tahu betapa puasnya diri saya nanti.
Ikhlas dan Chemistry
Aku tau rasanya, ketika aku ikhlas, pelukmu mampu meliputi seluruh jiwa ragaku. Ketika serotonin dan dopaminku mengaktivasi reseptor-reseptornya dengan maksimal, membuatku merasa bahagia. Ikhlas adalah sesuatu yang lain, ia tidak tergantung pada chemistry. Ia berdiri sendiri, dengan sebab yang tidak aku ketahui asalnya. Sedangkan chemistry-ku sangat bergantung padanya. Bahkan aku bisa membedakannya, pelukmu tak berasa seperti apa-apa, kau seperti seseorang yang lain, bukan bagian dariku ketika aku tidak ikhlas.
Selasa, 23 September 2014
Obrolan dengan Teman Belanda
Kalau dibilang mereka ini orang yang sadar, mereka sadar. Mereka sadar pada keindahan, kerapian, kedisiplinan, semangat berilmu, keingintahuan, kehidupan sosial, dll namun tidak pernah berlebihan. Sebatas apa yang menjadi budaya mereka selama ini.
Jadi, hari ini selama kuliah jam 9.30-12.00, aku duduk bersama seorang perempuan Belanda. Aku memberinya sapaan Hello. Dia langsung bilang "Hi" dengan senyum sangat lebar. Sewaktu break, dia mengajakku bicara
Dia : "actually I wonder where you come from, Are you Indonesian?"
Aku : "Yes exactly, I am Indonesian. Well, have you ever gone to my country?"
Dia : "Of course I have, with my boyfriend. Such a beautiful country"
Aku : "..Ow, and hot, right? haha.. was that Bali, the place you visited?"
Dia : "Yap. Bali. But I went to Yogyakarta as well. Where is your home? in what Island? Do you live in Jakarta, the capital town? I didn't go to Jakarta and just went to Java and Bali."
Aku :" But, you must have had transit in Soekarno-Hatta airport close to Jakarta. Great! My home is in Klaten, the town next to Yogyakarta."
Dia : Really? I think Yogyakarta is more beautiful than Bali, Java is more graceful. Gorgeous. Well, I met Borobudur after Yogya.. what a big architecture! Then I came to Bromo with the car. I don't know how I could get that car, but it was so trembling to get on that kind of car. I was so restless from Borobudur to Bromo while everybody got sleep. Huuuffhhh... finally, I ended up with Bali. Bromo ".
.......Trus aku musti ngomong apa.. aku bahkan belum pernah ke Bromo atau Bali..... (Dear netizen, please understand about tourism of your country very well before you talk to foreign traveler. It will increase your country's GDP!)
Aku : "You must make a plan to go to another place in Indonesia. If only you know, we have some spots in which people call it heaven. Do you ever hear Raja Ampat, Senggigi, Derawan, Karimun Jawa, Baduy, and many others I can not mention it all? Take a look around there. You'll love it."
Dia : "Ya. Someday, I will send you email before going there again and make the lists. Actually, if you know, I even never go to travel around The Netherlands. Trust me, I never visit Groningen. But, If you want, I will recommend you some places. Let me write it, where?"
Aku menyodorkan buku tulis ku, "Alsjeblieft.."
Dia pun mulai menuliskan beberapa tempat seperti: Gliethoorn, den Bosch, Madurodam, Museeum in Nijmegen, Middelburg, Maastricht, Utrecht, dan Burgers Zoo Arnhem. Dia juga menuliskan website yang bisa aku subscribe untuk mendapatkan diskon-diskon, seperti: Social deal Nijmegen.
"Bedankt!" kataku. "Thank you for the good information".
Lalu kami membicarakan tentang kuliah master dan prospek setelah master. "I will take my Ph.D. and apply for some jobs in my field of interest, this is my second year and I have to contemplate before doing my thesis research because it will influence the research field in Ph.D., you know.."
"Well, me too.. I have a plan to continue my study until Ph.D. I hope everything will be going well".
Tidak cuma sekali, setiap aku duduk bersebelahan sama mahasiswi Belanda, dia selalu bilang kalau dia pernah ke Bali. Jadi kemungkinan, turis-turis di Bali kebanyakan orang Belanda. Orang Belanda memiliki ciri khas berperawakan tinggi. Mereka adalah bangsa dengan postur tubuh paling tinggi dibanding penduduk Eropa lainnya. Tidak percaya? coba buktikan sendiri ke Eropa sini. Ketika saya kesini naik pesawat Garuda pun, kebanyakan penumpang adalah orang Belanda. Mereka adalah orang yang suka traveling. Tentu saja bersama "boyfriend". Orang indonesia menyebut orang Belanda adalah manusia yang pelit, penuh perhitungan, dan irit. Mereka bilang, mereka suka traveling ke belahan dunia lain. Mereka mengumpulkan uang untuk pergi naik pesawat terbang berlibur kemana mereka suka bersama pasangannya. Di sini mereka suka makan nasi goreng dengan lauk sate. Bagi kita tentu aneh. Orang Belanda, selepas usia 18 tahun mereka hidup bersama pasangan mereka. Entah menikah atau tidak, mereka tinggal serumah dengan pasangannya. Kembali ke rumah hanya setahun sekali, sewaktu natal. Sehingga banyak orang Belanda yang memilih untuk memelihara anjing daripada memelihara anak. Anjing sudah pasti setia dari lahir sampai mati, kalau anak, umur 18 tahun sudah cabut dari rumah. Haha..
Kau akan mendapati, mereka sangat perhatian dengan kesehatan. Mereka makan sayuran dan buah, menjaga pola makan, melakukan penelitian (tidak sedikit dari mereka adalah peneliti). Tapi di saat yang sama mereka pun merokok, mengkonsumsi ganja, dan minum alkohol. Aneh kan.. Hidup di sini tidak perlu banyak memikirkan hal-hal aneh kalau tidak ingin mengalami culture shock. Just live with your own way, and they won't think over about you. They respect as well as help you to have a pleasant life here.
....
Hari ini, setelah kuliah sampai jam 12 siang, aku melanjutkan diskusi dengan 5 orang Belanda di ruang diskusi di Faculteit der Natuurwetenschappen, Wiskuende en Informatica Bibliotheek. Jam 13.30 ada kelas presentasi sampai jam 5. Hari yang melelahkan..

