Jumat, 14 November 2014

Late Autumn

Malam ini hujan turun lebih deras dari biasanya. Aku melaju di sepanjang Erasmuslaan dengan lampu belakang sepeda yang tidak menyala karena selalu lupa menyalakannya. Sudah 5 hari aku pulang malam, sebenarnya bukan malam, mungkin sore, karena pada musim panas lalu, jam 5 sore masih terang dengan matahari yang masih setia bersinar. Namun musim gugur memiliki kesannya sendiri, ia membuat malam lebih cepat datang, udara semakin dingin, angin tidak lagi bertiup dengan sepoi, orang tidak lagi bisa keluyuran tanpa membalut badannya dengan lapisan sweater dan jas hangat tidak pula tanpa sarung tangan atau sepatu boots.

Sekarang aku harus membiasakan diri untuk berangkat ke Geert Grooteplein-Zuid pukul 8.30 pagi dan pulang ke Vossendijk pukul 5 malam. Mungkin puncak dari ketidaknyamanan ini adalah pertengahan Desember hingga awal Januari dimana pukul 8.30 pagi masih gelap, dan pukul 5 sore sudah gelap. Aku mulai lupa panasnya Jakarta, Yogya, atau Semarang. Aku mulai lupa hangatnya matahari. Sudah sejak aku tiba di sini, segalanya dingin, dingin, dan dingin. Mungkin kamu bertanya-tanya, seperti apa dingin di sini. Uniknya, dingin di sini tidak sampai membuat badanku sakit, tidak sampai membuatku bersin-bersin, tidak sampai membuatku demam, tidak sampai membuat tulang-tulangku linu. Hanya saja ketika sedang di luar, dingin itu tetap menusuk tulangmu, dingin itu tetap membuat nafasmu mengeluarkan uap, dingin itu tetap membuatmu menyesal mengapa kau tidak memakai pakaian yang lebih tebal lagi.

Oh iya aku lupa, ini masih musim gugur, belum pula musim dingin. Mungkin aku akan memberitahukan seperti apa dingin musim dingin di sini, mungkin berbeda dengan dingin musim gugur.

Senin lalu, ketika pertama kalinya aku pulang malam setelah seharian berada di laboratorium, aku merasa terasing. Meskipun hampir 3 bulan di sini, saya adalah orang yang jarang pergi ketika hari sudah gelap. Aku akan mengalami sindrom keterasingan ketika aku harus menjumpai diriku berkeluyuran ketika hari sudah gelap. Diriku akan menjadi gelisah dan mulai merasa aneh seolah sedang di dunia lain. Aku berpikir "Kenapa aku bisa ada di sini sendirian? mereka yang ada di sini ini siapa? Bukankah aku sedang hilang? Ini dimana? Kenapa jalan pulang menjadi semakin jauh? Kenapa diriku tidak segera sampai rumah?", begitulah rasanya. Itulah rasanya hari Senin sore kemarin. Ketika aku harus mampir supermarket untuk membeli makanan, jalanan seperti perkampungan mati, sepi, terang dengan lampu jalan temaram, mobil satu dua di lampu merah, ada orang bersepeda kencang dengan mantel hitam tebal dan penutup kepala. Sampai kamar aku memutar film-film musim gugur di Eropa, dan begitulah kondisinya, seperti yang aku alami. Membuatku semakin sadar kalau aku ada, tidak hilang, tidak di dunia lain, hanya di Eropa, hanya sejauh 13 jam kecepatan pesawat terbang dari rumahku di timur jauh.

Hari ini aku memberhentikan pekerjaanku terkait protein data base pukul 5.15 sore, berpamitan dengan Profesor Vriend untuk pulang. Keluar Labortorium seperti biasa, hari sudah gelap. Aku berjalan dari Grooteplein ke Huygens karena aku memarkir sepedaku di sana. Aku ada janji dengan pihak KBRI di Thomas van Aquinostraat pukul 6 sore, maka aku memutuskan untuk minum segelas coklat panas dulu di Huygens. Entah kenapa aku sekarang memiliki hobi baru di musim gugur ini. Setiap pagi aku selalu minum Espresso, siang aku minum Cappucino, sore minum coklat panas. Espresso, Cappucino, dan Coklat di sini benar-benar sangat memanjakan lidahku, enak sekali bila dikombinasikan dengan udara dingin yang menusuk tulang. Gaya dalam meminumnya pun unik, aku selalu memegang cup dengan kedua tangan, meniup minumannya, dan mulai menyeruputnya dengan lidahku. Mungkin ini adalah sensasi yang hanya bisa kujumpai di negara empat musim. Terima kasih kepada teman-teman dari Italy yang mengajarkan bagaimana menikmati kopi dengan sebenar-benarnya nikmat.

Malam ini aku benar-benar menikmati hidup. Aku mengobrol dengan kawan-kawan di TvA sampai pukul 8.30 malam, pulang sendiri ke flat menikmati hujan yang mengguyur lumayan deras, sungguh tak peduli pada tubuhku yang kedinginan atau jaket dan sepatuku yang basah, tak peduli pada ketidaklengkapan suasana. Mungkin ini adalah waktu diriku menerima segala kondisi yang sedang terjadi, tidak merasa terasing lagi. Segalanya terasa indah dan membahagiakan. Musim gugur akan menjadi satu musim yang aku rindukan seumur hidupku nanti.

Vossendijk
Pukul 22.58

Minggu, 02 November 2014

Perempuan

Suatu hari di Jogja.

Setelah pulang dari kampus, rumah kakakku sepi. Keponakanku sedang bermain di luar bersama teman sekolahnya. Aku menuju meja makan, melihat hidangan makan malam sudah rapi tertata di meja. Mbak Umilah yang memasaknya. Keponakanku pun pulang, berteriak-teriak dengan suara khasnya mencari mamanya, mengira mamanya sudah pulang."Lek Niha, mama mana?" tanyanya. "Belum pulang sayang", jawabku. Dia balik badan dan kembali bermain di luar, di rumah tetangga. Anak itu tidak bisa dipisahkan dari ibunya. Ia selalu menghargai kakakku sebagai sebenar-benar ibunya. Hal yang paling membuatnya sedih adalah bila kakakku sedih, marah, atau merasa ibunya sedang tidak serius kepadanya. Itu membuatku sangat haru, betapa manisnya dia.

Kakakku pun datang, pulang dari kerja dan mencari anaknya. Suaminya waktu itu sedang ke luar negeri entah kemana aku tidak ingat saking seringnya dinas. Aku bilang kalau anaknya sedang bermain entah dimana. Kakakku bilang "kamu ini gimana kok nggak tahu dimana dia main". "Biarkan dia bebas", jawabku. Lalu aku mengambil makanan dan menyalakan TV sementara kakakku masuk kamar berganti baju dan mulai mencari anaknya.

Dua orang itu datang, keponakanku begeleyotan dipinggang mamanya sambil bercerita menggebu-gebu tentang kegiatannya hari ini. Kakakku setengah mendengarkan setengah tidak sambil melihat-lihat bunga anggreknya. Keponakanku mulai marah, "kok mama nggak memperhatikan aku sih! yaudah kalo gitu aku nggak mau lagi sama mama". "Kamu cerita aja, bunda dengerin kok" jawab kakakku. "Mama tu mbok ya kalau diajak ngomong lihat aku gitu lho", keponakanku protes. "Iya sayang, ayo dilanjutkan ceritanya. Oiya, mau makan apa? Bunda lapar nih makan yuk" jawab kakakku. "Nggak mau!" keponakaku sambil melipat kedua tangannya.  Akhirnya kakakku harus mengiming-imingi sesuatu pada anak kecil itu agar mau makan.

Keponakanku adalah anak yang "mama-sentris". Dia bisa dewasa, bisa juga manja, dengan taraf seperti anak kecil pada umumnya. Karena dia belum mempunyai adik juga sih..

Jam semakin menuju malam. Jam 7.30 malam saat kakakku menemani anaknya belajar, kakakku terlihat memegangi HP-nya. Keponakanku pun berkata "Kok mama diem, mama kenapa?", dia sensitif bila mamanya diam karena tidak mau melihat mamanya sedih. "Tidak apa-apa sayang, sudah belum belajarnya? kalau sudah ke kamar yuk tidur bareng bunda, ngantuk nih" kakakku menjawab. Bila aku mengamati, kakakku selalu pergi ke kamar lebih cepat bila tidak ada suaminya. Entah tidur cepat atau kenapa. Bila ada suaminya, mereka selalu lebih lama mengobrol dan bercanda di ruang tengah, terkadang bercanda bertiga di dalam kamar sambil tertawa-tawa bahagia. Setiap minggu mereka selalu pergi ke luar rumah mencari suasana baru, olahraga bersama, pergi ke desa-desa bersama, mudik ke kampung halaman sambil membawa banyak oleh-oleh, belanja bersama, masak makanan khas di rumah bersama, dll. Memang mereka keluarga yang harmonis dan menjadi panutanku.  Beruntung aku pernah tinggal bersama mereka. Tentu saja itu pula yang membuat keponakanku tidak mau lepas dari mamanya, karena bersamanya itu sudah cukup, bahagia.

Kakakku orang yang "suami-sentris", akan sangat sedih bila tidak ada suaminya di rumah. Bila suaminya di rumah, itu adalah hal yang paling membuatnya bahagia, meskipun ada anaknya atau aku atau ibu dan bapakku, tetapi tanpa suami, kakakku seperti kehilangan setengah jiwanya. Hari-hari dilewatinya dengan banyak diam dan murung. Meski pun ketika bertemu banyak orang dia cerewet, tetapi aku tahu, dalam lubuk hatinya paling dalam, kakakku merasa kesepian tanpa suaminya. Aku pikir perempuan yang seperti kakakku tidak salah, karena menurutku, ketika perempuan memutuskan menikah, dia sekaligus memutuskan untuk menyerahkan jiwa raganya untuk suaminya. Setidaknya perempuan Jawa kebanyakan seperti itu. Seperti ibuku, budheku, sepupu-sepupuku, dan kakak-kakakku yang lain. Ketika suaminya tidak ada, wajar bila hidupnya tidak lengkap.

Adakah kalian perempuan sedemikian? Mungkin memang perempuan memiliki dunia yang tidak mudah dipahami, mereka memiliki rahasia yang tak terungkapkan. Mereka ingin mengungkapkannya, tetapi dunia ini tidak cocok untuk mendengarkan ungkapannya yang dalam itu. Oleh karenanya mereka banyak diam, menunggu, dan pasif. Sulit memang. Aku pun tidak bisa menembus diamnya kakakku, sedihnya dia, atau tangisnya dia dikala ada perasaan yang tak tersampaikan. Mungkin hanya Tuhan yang tahu. Jadi, aku yang bersimpati ketika dia kesepian juga hanya bisa diam, melakukan apa yang bisa aku perbuat untuknya.


Jumat, 31 Oktober 2014

Threshold

Laki-laki yang terlalu mencintai perempuan itu bila dilihat dari satu sisi rasanya aneh, setidaknya bagiku. Agaknya kok gimana gitu, terasa seperti tidak mandiri dan tidak tangguh (laki-laki juga manusia ya? ya tapi kan rasanya sih, tidak mandiri, tetep). Bagiku, laki-laki yang tangguh ya biasa saja, normal sajalah. Bila mencintai perempuan, yang kerenlah gimana caranya, tidak cengeng. Atau mungkin tak terlalu mem-publish rasa cintanya, begitu cukup. Publish saja di wilayah privat, sebatas 2 orang. Oiya, tapi perempuan kan seneng ya bila pasangannya menyatakan cinta terang-terangan sampai seluruh dunia tahu. Hihihi.. saya sebagai perempuan terkadang juga begitu sih. Pingin banget suami menunjukkannya sampai semua orang tahu. Meskipun begitu, berlebihan itu tidak baik. Saya tetep memandang sebelah mata sama laki-laki cengeng yang getol menyatakan cinta ke perempuannya sampai mengganggu pemandangan. Sampai-sampai ketika orang itu muncul di permukaan, hal yang dilakukannya adalah memuji penuh puja perempuan yang dicintainya, tidak ada yang lain. Sesekali bolehlah, romantis, tapi tidak perlu berlebihan. Cinta ya cinta, tunjukkan dengan cara yang lebih enak dilihat oleh pasangan dan orang-orang di sekitar, dimana orang-orang akan bilang "so sweet" senormal-normalnya. Memang penting sih menyatakan rasa cinta ke perempuan, karena perempuan akan senang dengan begitu, itu yang membuat dunianya bahagia. Akan tetapi ketika tiap kali menyatakan cinta tidak harus orang lain juga harus tahu.

Pernah baca ini kan:

Wife: I love you
Husband: I love you too
Wife: Prove it. Scream it to the world
Husband: * whispers in ear * I love you
Wife: Why'd you whisper it to me? 
Husband: Because you are my world

^^

Wrong and Trouble

Today, I made a trouble in the road of which I was wrong by passing through bus way. A bus way here is a bus-special toll way. I was asking my classmate from Mexico: which the fastest way to get Nijmegen Central Station from Huygensgebouw is, because her flat is close to campus so I thought that she knew.

She gave me the direction and it was wrong at all. I felt strange because the way is too narrow to be passed by bus and bike, however, there is no direction that we, who are riding bike, are not allowed to pass through there. I was so scared, you know, can you imagine something like there is someone who rides his motor passing through a toll way? It’s alright to be fined, but what I was fear of is I was hit by the bus. What I thought along the way was that how I could be evacuated from that way because I was afraid of crash. I was going ahead as far as I can until I found the red bike road. Finally.. it was like finding a mainland after you are lost in the big sea with your little boat! Well, don’t ever ask about direction to the foreign people, you have to find the native one unless you get trouble like what happened to me today. 


Actually I know the way to go to Nijmegen Centrum from my campus, but I needed to find an Irakish shop where it sells a halal meat and the place is near the Central Station. You know, as long as I am here, I never eat meat if I do not go to Lent where a ‘Pasutri’ invited me to Indonesian student party. So I was going to Irakish shop because the shop sells chicken which the size is similar to Indonesian chicken, (at least that is what my friend told me). You will meet a very big chicken in every shop here. I’m not going to eat that kind of chicken because I will never be in the mood to eat something like that, moreover it is not halal. Today I am just feeling bored to be vegetarian. Because of it, I was almost hit by buses! What an incident!

Rabu, 29 Oktober 2014

A Year Ago

Hai,

Sudah setahun saya resmi meninggalkan Jogja dengan segala kenangannya. Meskipun selama 5 tahun Jogja tidak sepenuhnya lengkap karena kekasih saya tidak tinggal di Jogja, tetapi segala sudut-sudut kotanya terasa lengkap hanya dengan sekilas pandang dan kebersamaan dengan mereka yang pernah saya temui di Jogja.

Dimulai dari Mbak Lika, Shima, Mas Roni, Mbak Yun, Budhe Latip, tetangga rumah, para asisten rumah tangga mbak Lika, teman-teman dari berbagai kampus, teman-teman KKN, teman-teman magang, teman-teman di laboratorium, teman-teman organisasi, teman dolan (Ipah), teman dolan lain ke pantai dan ke desa-desa, para dosen, para mahasiswa, penjaja makanan di warung langganan, teman ngobrol di cafe dan di mall, teman-teman nonton film di bioskop, teman kursus, dan sebagainya yang menyaksikan aku berkembang di Jogja.

Rasanya sungguh klasik bila mengingat semua mereka di sana. Bila aku tak melalui kehidupan di Jogja, mungkin aku tak akan melalui kehidupan di tempatku sekarang.

Sudahlah.
Apakah ada kesempatan aku bisa kembali ke Jogja? Mungkin ketika aku datang, tempat itu sudah lebih baik lagi dari sebelum aku pergi.

Sekarang aku tengah bersiap untuk mengukir kenangan di sini, Nijmegen yang tua dan mungil.

Oiya, saya kangen sama keponakan saya yang masih lugu, Shima, anak umur 9 tahun. Aku bersamanya semenjak dia berumur 3 tahun, menyaksikan dia berkembang sebagai balita dan anak-anak. Sungguh menimbulkan haru bila mengingat keluguannya sebagai anak kecil tak berdosa. Segalanya indah. Baik-baik kamu di sana, Shima. Apakah 2 tahun lagi kamu masih selugu terakhir aku mencubit pipimu? :')

Vossendijk 219, Nijmegen
Pukul 21.37

Jumat, 24 Oktober 2014

Memori

Aku kadang bertanya, aku memiliki sindrom apa? Sebagaimanakah network sinapsis sel saraf di otakku? Kenapa aku selalu ingin kembali ke masa lalu? Apakah tiap orang seperti aku?
Kalau aku boleh jawab, sepertinya tidak semua orang ingin kembali ke masa lalu.
Aku selalu senang bila bercerita atau membaca cerita tentang masa laluku. Itu juga alasanku mengapa aku masih mempertahankan blog ini yang sudah berumur lebih dari 6 tahun, aku tak ingin pindah lapak. Mungkin aku orang yang tidak pernah menyesal untuk menjadi aku yang dulu. Aku selalu tertawa dan semangat membaca cerita-ceritaku jaman dulu, mengenangnya. Ingin sekali mengajak orang-orang yang bersangkutan untuk dapat larut bersamaku. Aku menyukai aku yang dulu apa adanya yang telah membentukku menjadi aku yang sekarang.

Bila aku jenuh memikirkan masa depan, dan terlalu kecewa dengan hari ini, aku pasti mulai menerawang ke masa lalu. Oh, memangnya ada ya detik ini? Well, aku tak terlalu paham dan sedang malas memikirkan bagaimana masa kini bisa terbentuk. Yang jelas, gambaran masa lalu itu begitu jelas, meskipun sudah tertinggal jauh di sana menjadi sebuah memori. Masa depan terlalu rumit bagiku, sekarang. (sekarang? sekarang kapan? waktu kan berjalan.. entahlah!)
Melihat masa lalu di perspektifku yang sekarang membuatku berpikir, mengapa aku dulu merasa begitu berat menjalani hidup (setidaknya berdasarkan cerita)? bukankah kejadiannya simpel (kalau aku ingat)? Sehingga, aku pikir, penting kiranya seruan "Take it easy! All will be going well! You will be what you think as now."
Tapi mungkin aku salah, bukankah tiap detik kita harus selalu mengusahakan yang terbaik? bukankah berusaha sebaik-baiknya itu tidak mudah? Kalau "take it easy", kita bisa terlena dan akhirnya kita tidak bisa memperoleh hasil seperti yang kita harapkan..
Mungkin pasrah adalah jawabannya. Setelah berusaha, selalu luangkan detik berikutnya untuk tawakkal, sehingga beban tidak menjadi berat. Sel sarafmu bisa istirahat dan bertumbuh kembang lagi.

Aku jadi sadar, betapa pentingnya menulis. Baiklah, aku akan mengabadi di sini dan di dimensi-dimensi lain, meninggalkan jejak, entah sampai kapan. Sebelum memoriku hilang seiring bertambah lemahnya vaskular dan metabolisme yang mempengaruhi kinerja otakku. Mungkin suatu saat ada kalanya aku tak ingat, namun aku masih bisa membaca kemudian ingat lagi, dan tertawa-tersenyum lagi dengan manis mengingat segala kejadian hari ini dan sebelum-sebelumnya.

Vossendijk 219, Nijmegen
Pukul 23.05

Selasa, 21 Oktober 2014

The Chosen One

Suatu waktu di rumah, saya didatangi kawan-kawan SMA. Mereka berbanyak orang hendak mengklarifikasi apakah benar saya sedang menjalin hubungan dengan calon suami saya (waktu itu). Apa mau dikata, memang benar, saya jawab iya. Lalu mereka bertanya lagi, apa sih yang membuat saya menyukai calon suami saya (waktu itu)? Reflex saya menjawab karena dia pinter. Hahaha.. bahkan anak TK pun mampu menjawab jawaban seperti itu. Tapi ya memang begitulah adanya. Lalu kawanku bertanya lagi, jadi kalau Wisnu (calon suami saya waktu itu) nggak pinter, saya nggak mau sama dia? saya jawab lagi, enggak. Pokoknya saya maunya sama orang pinter, titik. Mereka menyimpulkan: "Jadi kami-kami ini nggak pinter?". saya pun tertawa, "Ya disimpulin sendiri aja, terserah" . Lalu kawan-kawanku (yang juga kawannya Wisnu) mengiyakan kalau Wisnu itu pinter, memang pinter, dia pernah ikut oliampiade, mendapat nilai tertinggi di ujian akhir, bisa masuk STAN tanpa banyak kesulitan (siapa waktu itu lulusan SMA yang kalau keterima STAN lalu nggak mengambil kesempatan itu? mana ada), apalagi.

Itu salah satu cerita.

Hari ini suami saya memberitahu hasil skor TOEFL sama TPA Bappenas dia, saya nggak terlalu kaget, dia mengalahkan skor TOEFL dan TPA Bappenas saya tanpa banyak kesulitan. Awal tahun ini saya sempat ikut 2 tes itu untuk masuk S2 ITB dan semuanya jauh memenuhi persyaratan minimal. Tapi sayangnya saya nggak jadi masuk ITB karena ternyata mendapat unconditional letter of acceptance dari Radboud University Nijmegen. Good Bye ITB. saya tahu kemampuan kognitif suami saya, dia jauh di atas rata-rata, sedangkan saya cukup rata-rata saja. Bila tes IQ, nilai saya pas-pasan. Untung saja nggak kena genetic disorder Intellectual Disability, saya sudah bersyukur. Meskipun pas-pasan, saya punya mimpi tinggi untuk bisa sekolah sampai jenjang paling tinggi. Whatever everybody might say, I won't care.

Suami saya sampai sekarang masih lulusan D3, sedangkan saya sekarang hendak menamatkan S2. Namun hal itu tidak bisa dibandingkan karena nasib kami sungguh berbeda. Gelas kami bentuknya berbeda. Gelasnya berupa Abdi Negara, gelasku berupa sekolah. Meskipun kemampuan kognitifnya melebihi saya, namun dia belum bisa melanjutkan belajar sampai seperti yang saya capai sekarang. Namun saya tetap bangga padanya..

Dia selalu menjadi seseorang melebihi apa yang saya pikirkan. Cinta yang ada padanya kepada saya, seperti menjawab tantangan lagu klasik berjudul "More Than Words". Dia lebih memilih untuk menunjukkan secara nyata bukti cintanya daripada hanya berkata-kata. Tapi sebagai perempuan saya terkadang sering nggak melihatnya kalau dia benar-benar mencintai saya. Seperti yang suami saya bilang, manusia terkadang ingin melihat apa yang tidak dilihatnya daripada apa yang benar-benar tampak di depan mata. Itu membuat saya merana sendiri dan buru-buru melihatnya dari sisi lain. Setelah itu saya sadar, suami saya sungguh cinta, sungguh dewasa, sungguh sabar, dan menyayangi saya apa adanya.

Saya beruntung menjadi seseorang yang dia cintai. Bayangkan saja, mana ada laki-laki yang mau ditinggalkan istrinya 2 tahun lamanya dengan alasan ingin sekolah. Pasti hanya sedikit dan suami saya termasuk yang sedikit itu. Bahkan dia yang mendukung saya habis-habisan, sejak saya masih S1 dulu, “Lakukan dulu, jangan bilang nggak bisa” dia bilang, hal itu mengubah pola pikirku. Kalau dia tidak seperti itu, mungkin sekarang saya masih berdiam diri di suatu tempat di Indonesia, tidak berkembang, dan stagnan. Di Eropa, saya belajar banyak hal, banyak sekali, semua sedang ada di otak saya dan belum mampu saya tumpahkan ke dimensi lain.

Sekarang, suami saya sedang sendiri di sana, saya merasa bersalah karena dia bilang bahwa dia melakukan banyak hal sendirian. Yah, tidak berbeda dengan saya, saya juga sendiri. Bahkan untuk bisa ngobrol via Skype pun kesulitan karena perbedaan waktu 5 jam, apalagi di sini lama waktu siang dan malam tidak seperti di Indonesia. Suami saya harus meluangkan waktu sampai tengah malam untuk bisa mengobrol. Tentu itu mengganggunya karena dia harus bekerja pagi harinya, pekerjaannya menuntut produktifitas dan profesionalisme sebagai abdi negara. Sampai-sampai saya berpikir, mengapa kita yang saling mencintai bisa terpisah seperti ini? Mengapa harus begitu? Sampai sekarang saya tidak habis berpikir. Suami saya pun bilang “karena ini jalan kita, dijalani saja dulu, pasti nanti akan ada waktu kita bisa bersama-sama”. Aneh kan.. Karena kami sudah memilih dan karena memang semua ini harus dijalani, apa boleh buat. Tanggal 29 Oktober nanti adalah mensiversary pernikahan kami yang ke-5, dan kami terpisah jarak yang jauh, sangat jauh. Ketika berada di dalam pesawat dalam perjalanan saya ke sini, saya selalu memperhatikan peta digital, melihat pesawat saya sedang berada di mana, yang menjauh dari posisi suami saya dan orang-orang yang saya cintai berada. Ketika saya sudah berada di sini, membuat saya ingin pulang, tidak percaya bahwa kami benar-benar jauh di benua yang berbeda.

Dear my husband, thank you for becoming the best man ever for me, thank you for becoming the one I want to annoy for the rest of my life. I’m really proud of you and do respect you as my leader. Don’t get lost in your way for the sake of ours. I’ll be your love as the best as I can.



Vossendijk 219, Nijmegen
Pukul 19.15