Jumat, 15 Mei 2015

Sahabat

Hai, kali ini saya ingin cerita bahwa ternyata setelah saya sadari, mendapatkan teman yang 'klik' itu sulit sekali. Minggu lalu saya berdiskusi dengan salah seorang teman saya di sini tentang banyak hal, salah satunya tentang perkawanan. Menurut dia, dia tidak membutuhkan seorang teman untuk menjadi sahabat dekat karena dia hanya membutuhkan 'link' dan suami. Pada akhirnya semua orang akan menikah dan suami/istrinyalah nanti yang pasti menjadi teman hidupnya. Sehingga bukan sahabat, dia lebih membutuhkan 'link' atau 'network' yang bisa bermanfaat baginya. Bagi saya, tentu ada beda pengertian antara 'link' dan sahabat. Namun, di umur segini (sudah hampir seperempat abad) pencarian sahabat memang tidak semenarik waktu masih 'teenager' sih buat kebanyakan orang. Tapi bagiku, sampai tua pun aku akan tetap mencari seseorang yang bisa aku jadikan sahabat baik. Karena memiliki banyak sahabat itu.. 'priceless'.

Aku yang sudah memiliki suami dan belajar dari semua orang yang sudah memiliki keluarga mempunyai pemikiran bahwa tidak secara kontinyu suami akan pasti ada untuk kita. Suami dan sahabat tidak bisa dibandingkan. Ada momen ketika kita membutuhkan jarak darinya untuk 'refresh' dari kehidupan rumah tangga yang tentu tidak jauh-jauh dari masalah lalu kembali berasosiasi dengan sahabat dekat kita untuk berbagi cerita. Menurutku, menggantungkan diri kita 100% ke suami tidaklah terlalu bagus untuk diri kita. Begitu pula bila seorang suami tidak memiliki teman dekat kecuali istrinya, itu tidaklah keren. Aku sendiri bersyukur memiliki suami yang memiliki banyak sahabat dekat, dia selalu ada untuk sahabat-sahabatnya, dia pandai membangun hubungan sosial. Dengan kehidupan yang seperti itu, aku merasa sangat aman dan nyaman di dekatnya. Oleh karena itu, aku juga tidak boleh hanya memilik suami saja, aku harus juga memiliki sahabat dekat dan membangun hubungan sosial yang membuat hidup menjadi tidak membosankan. Sahabat yang bisa diajak berbagi cerita, berbagi pengetahuan, meningkatkan kualitas spiritual, memperlebar tali silarurahmi, mengisi ruang-ruang di jiwa, dll.

Kembali ke masalah sulitnya mencari sahabat dekat tadi. Menurutku, menemukan sahabat dekat seperti menemukan jodoh. Kalau belum dipertemukan maka nggak akan ada. Ketika kita bersosialisasi, tidak mudah menemukan seseorang yang cocok dengan tipe diri kita. Ada teman yang bisa membuat kita menjadi diri kita sendiri, teman yang terbuka kepada kita, yang membuat kita mau menceritakan hal-hal mendalam tentang diri kita kepadanya tanpa ada perasaan yang tersekat-sekat. Ada pula teman yang membuat mental kita turun ketika harus bersosialisasi dengan mereka, ada yang gaya hidup atau kepribadiannya tidak cocok dengan kita sehingga kita lebih memilih diam daripada bercerita banyak hal (paling nggak menyapa saja cukup), membuat kita merasa inferior, tipe obrolan maupun gaya berbicaranya tidak menarik minat kita. Jadi, karena menemukan sahabat dekat itu sulit, aku akan berusaha tidak menyia-nyiakan sahabat yang sudah aku punya, akan berusaha selalu ada bila mereka membutuhkan, meminta ijin kepada suami untuk memberikan waktu berbagi dengan mereka.

Tidak ada komentar: