Minggu, 03 Februari 2013

Medicament: Kado dari Kota Nabi SAW


oleh Hanafi (My beloved Father)

#
Carilah kebaikan orang lain, jangan keburukannya hingga kita melupakan keburukan diri sendiri. Diri kita tidak lebih baik dari orang lain. Selain membuang waktu, hal itu memakan kebaikan diri kita. Selain kita merugi di dunia, kita juga akan merugi di akhirat.

#
Ada 21 macam nafsu. Nafsu itu seperti anak kecil yang tendensinya selalu ingin menang dan menunggangi kita, menyetir kita di depan. Ketika nafsu benar-benar telah menunggangi kita, maka itulah nafsu buruk. Tapi bila kitalah yang menunggangi nafsu dan mengontrolnya di belakang, itulah nafsu baik, nafsu yang tenang (karena kita kendalikan) dan diridhai oleh Tuhan (mardhliyyah). Seperti ayat-ayat terakhir di QS. Al Fajr ini, Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah, irji’I ilaa rabbiki raadhiyatan mardhliyyah, fadkhulii fii ‘ibaadi wadkhulii jannatii. Hanya jiwa yang diridhai oleh Tuhan yang boleh memasuki surga-Nya. (Tidak dipungkiri, ini membuatku bertanya, apakah nanti Ruh kita kembali ke fitrah kepada-Nya, sedangkan jiwa kita tertinggal di surga atau neraka? Seperti apakah jiwa tanpa Ruh? Wallahu a’lam.)

#
Dari suku kata ‘Bhis’ dari Bhismillahirrahmanirrahiim, oleh Sayyidina ‘Ali r.a. dapat ditafsir menjadi 300 tafsir berbeda. Oleh karenanya Baginda Nabi SAW menjuluki Sayyidina ‘Ali sebagai pintu masuk ilmu. Analoginya, ketika melihat kayu dari jati, maka oleh Sayyidina ‘Ali dapat dimanfaatkan menjadi 300 kemanfaatan, oleh kita mungkin hanya 1 kemanfaatan, misalnya hanya untuk bikin tiang penyangga saja. Betapa jauh jarak keilmuan kita terhadap Sayyidina ‘Ali, lebih-lebih terhadap Baginda Nabi SAW yang merupakan kota Ilmu. Bahkan Khalifah Umar r.a. pernah berkata “Seburuk-buruknya majlis adalah majlis yang tidak ada Abu Al-Hasan (Imam ‘Ali r.a.)”.

#
Selama hidup Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul, yakni 22 tahun lebih beberapa bulan, bila dirata-rata maka setiap harinya ada 15 orang berbondong-bondong masuk Islam. Mengapa bisa sedemikian suksesnya? Karena dalam dakwah Nabi terkandung ajaran reward and punishment. Ya, kebanyakan umat masuk Islam waktu itu tergantung dari kedua hal itu meskipun tidak semuanya. Sebagian dari mereka keimanannya terus meningkat sampai tingkat hakikat atas pengajaran langsung dari Nabi SAW. Setelah masuk Islamlah mereka baru merasakan bagaimana Islam sebenarnya.

Wallahua'lam bisshawab ..

Tidak ada komentar: