Sabtu, 17 Juli 2010

Iman Itu idah.

Pagi ini, di hari Sabtu saya kembali memperoleh pelajaran Tauhid. Seperti biasa Bapak Hanafi menyalakan speaker me-replay DVD pengajian al-Hikam Ibnu Athaillah,  dari salah seorang kyai dari ponpes Bahrul Ulum Jombang sana. Dan seperti biasa, saya sedikit mendengarkan sayup-sayup dari kamar di bawah selimut karena tiap pagi saya selalu merasa kedinginan karena penyakit alergi. Ini ada sedikit yang aku tangkap dan mememorikannya kemudian bisa aku tulis di sini. Semoga bermanfaat.
 
Bismillahirrahmanirrahiim. Alfatihah…
 
Iman itu indah. Dan sebenar-benarnya keindahan iman itu akan terasa salah satunya  bila kita tidak terusik oleh segala perbedaan yang ada di dunia ini.
Janganlah menebangi pohon, jangan merusak gereja dan vihara orang-orang untuk mereka beribadah. Apa hak kita melakukannya? Tidak ada, sungguh kita tidak punya hak melakukannya.
 
Biar saja orang-orang melakukan segala sesuatu menurut kepercayaan dan keyakinannya masing-masing asal tak mengganggu, melarang,  dan membatasi kita. Orang mau berkata apa terserah, bahkan orang mau bertindak atau berbuat apa terserah. Sungguh Tuhan tidak perlu dibela dengan kita melakukan semua itu. Kita hanya perlu membela bagaimana agar kita bisa bebas berekspresi dalam beribadah kepada-Nya di dunia ini. Kita baru boleh melawan bila kebebasan berekspresi dalam beribadah kita dilarang dan dibatasi oleh orang lain.
Mengapa demikian? Karena Tuhan sudah berfirman bahwasannya kebenaran dan kesesatan itu sudah nyata adanya, sudah nyata bagi kaum yang mau berfikir. Hanya mereka yang diberi rahmat dan hidayah-Nya yang mampu melihat kebenaran dan kesesatan itu adalah beda dan bagaimana bedanya. Dan hanya orang-orang yg dikehendaki-Nya yang memperoleh kelebihan itu. Itulah mengapa setiap manusia diberi akal dan hati, untuk menyerap segala yang ada, untuk kita belajar sesungguhnya. Seperti filosofi lebah yang menghisap madu dari berbagai macam bunga, namun yang keluar darinya adalah madu yang bermanfaat. Kita dapat menjadikan perbedaan-perbedaan itu sebagai "sebuah" guru. Hukum alam saja tidak mebatasi, mengapa kita membatasi diri dan kemudian berfikiran sempit?
 
Mengapa? Apakah Tuhan pilih kasih? Tentu tidak. Justru Tuhan menciptakan segala perbedaan di dunia ini karena kebesaran rahmat-Nya bagi makhluk semesta alam.
Jadi, mengapa kita mempersoalkan perbedaan? Inilah latar belakang mengapa umat islam harus bersikap toleransi. Karena sekarang banyak yang mempersoalkan, apakah toleransi berarti pluralisme? Saya sendiri lebih suka mengartikan pluralisme sebagai “melepas formalisme beragama saat kita bercampur dan bergaul dengan mereka yang berbeda agama”, karena kita adalah sama-sama makhluk Tuhan yang dikasihi-Nya.
 
Seharusnya perbedaan keyakinan tak menjadi persoalan, sama halnya dengan perbedaan budaya antar umat manusia tak menjadi persoalan. Karena ini penting bagi kita umat manusia untuk bisa bersatu membangun peradaban dunia yang lebih maju. Kita tak perlu risih dengan adanya perbedaan. Tak mungkin peradaban di dunia ini maju hanya diprakarsai oleh satu agama saja, misal, oleh agama Islam sahaja. Lha wong dunia ini ditempati oleh macam-macam manusia dari berbagai latar belakang kok yaa…
 
Coba dan mari kita tengok,
Sekarang ini kita dirisaukan oleh orang-orang yang sibuk ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam. Apabila itu terjadi, lalu bagaiamana nasib orang-orang yang bukan Islam? Apa mereka disuruh pergi dari Tanah Air Tumpah Darah-nya sendiri? Tak akan mungkin itu terjadi. Waktu Zaman Rasulullah saja tidak ada kok yang namanya Negara Islam. Kita mau membangun Negara Islam darimana? Zaman Rasulullah itu adanya Negara Madinah. Di sana hiduplah bermacam-macam manusia dari berbagai etnis dan kalangan. Orang Yahudi banyak, orang Protestan juga banyak, Orang Tiongkok pun melakukan transaksi berdagang di sana dan tak merasa tak nyaman.
 
Jadi, janganlah kita merasa terganggu dengan cemooh yang tidak penting yang terlontarkan dari mulut-mulut orang-orang bodoh, dari mereka yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan. Sesungguhnya mereka hidup tidak menggunakan akal dan hati mereka. Mata dan telinga mereka terbuka namun tertutup oleh penyakit hati. Tidak ada gunanya, menghabiskan waktu saja.
 
Biarkan hati kita dipenuhi oleh iman yang indah, yang Allah anugerahkan kepada kita dengan penuh kasih sayang. ….lillahita’ala. Karena sesungguhnya, kebenaran dan kesesatan itu sudah nyata bagi mereka yang mau berfikir. Dengan begitu, segala yang kita lakukan natinya akan menjadi indah, tidak hanya bila dilihat dari kacamata sendiri melainkan juga dari kacamata orang-orang yang berbeda dari kita. Dan keindahan yang kita lakukan akan dapat membangun peradaban umat manusia yang selama ini kita impikan menjadi nyata, tidak seperti sekarang ini. Peradaban yang baik itu adalah yang mampu menjadikan dunia ini lebih baik. Betapa pentingnya peradaban seperti itu bagi dunia dan seisinya, bagi generasi penerus selanjutnya.
 
Intinya, persatuan dan kesatuan itu adalah sebagian dari iman.

7 komentar:

Anonim mengatakan...

OKEY GOOD pernyatan Ibnu 'Athaillah dlm kitab al-Hikam sebg kitb kajian primer para santri ma'had. Nmun ttg p'nytaan neng Nihayah ada bbrp catatn:
1. Qt hrs bs m'bdakn antr pluralisme (sbg sbuah ideolog/ism) dan pluralitas. Pluralisme adalah paham yg mnyatkn bhw smua agama sm, jd tdk blh ada truth claim bg stiap pmluk agm, krn stiap agm sm hny sj b'bda jln (dan ini b'tntngn dg aqidh). Sedgkn pluralits adlh mngkui adny kragamn agama, bukn kebnaran agam lain (yg ini cih oce2 ojo he..)
2. Ttg negara Islam. Scr fitrah s'tiap muslim pst mrindukn negara Islam (daulah islamiyyah)-t'lpas dari p'bedaan cork dan interpretasny ssuai dg ijtihad dan ijma 'ulama. Negr Madinh mrupkn cork dan p'wjudn negr Islam di Zaman Rasul. Sbg agama, Islam mmlk karkter rahmatan lil'alam. Olh krn itu, tenang z neng, twjdx negara Islam b'art t'wjdny negara yg rhmatan lil'alamn yg mmbrikn hak kebbsn kpd non mslim u/ttp mmluk & b'ibdh ssuai dg kyknn, bhkan untk mslh ijtima'iyyah (sosial kemasyraktan)smua pmluk mdptkn hakny ssuai dg syariat Islam dg prinsip kemaslahtn ummat. Bhkn kwjbn negara Islm ad/ mlksnkn apa yg smstny (kewjbn negara) serta mmberkn apa yg shrsny (hak warga negara). Jd to umat Islam dan pemeluk agama lain, jgn takut dan jangan bimbang, yuk sm2 qt wujudnya negara Islam! YAKIN DECH BIKIN HIDUP LEBIH HIDUP!he...Wallahu 'alam.

Dede Moch. Mahfudh mengatakan...

OKEY GOOD pernyatan Ibnu 'Athaillah dlm kitab al-Hikam sebg kitb kajian primer para santri ma'had. Nmun ttg p'nytaan neng Nihayah ada bbrp catatn:
1. Qt hrs bs m'bdakn antr pluralisme (sbg sbuah ideolog/ism) dan pluralitas. Pluralisme adalah paham yg mnyatkn bhw smua agama sm, jd tdk blh ada truth claim bg stiap pmluk agm, krn stiap agm sm hny sj b'bda jln (dan ini b'tntngn dg aqidh). Sedgkn pluralits adlh mngkui adny kragamn agama, bukn kebnaran agam lain (yg ini cih oce2 ojo he..)
2. Ttg negara Islam. Scr fitrah s'tiap muslim pst mrindukn negara Islam (daulah islamiyyah)-t'lpas dari p'bedaan cork dan interpretasny ssuai dg ijtihad dan ijma 'ulama. Negr Madinh mrupkn cork dan p'wjudn negr Islam di Zaman Rasul. Sbg agama, Islam mmlk karkter rahmatan lil'alam. Olh krn itu, tenang z neng, twjdx negara Islam b'art t'wjdny negara yg rhmatan lil'alamn yg mmbrikn hak kebbsn kpd non mslim u/ttp mmluk & b'ibdh ssuai dg kyknn, bhkan untk mslh ijtima'iyyah (sosial kemasyraktan)smua pmluk mdptkn hakny ssuai dg syariat Islam dg prinsip kemaslahtn ummat. Bhkn kwjbn negara Islm ad/ mlksnkn apa yg smstny (kewjbn negara) serta mmberkn apa yg shrsny (hak warga negara. Jd to umat Islam dan pemeluk agama lain, jgn takut dan jangan bimbang, yuk sm2 qt wujudnya negara Islam! YAKIN DECH BIKIN HIDUP LEBIH HIDUP!he...Wallahu 'alam.

Dede Moch. Mahfudh mengatakan...

Oya, yg t'akhir: LAGUNYA OK TUCH!!!he...by k'dede urang bogor tea

Nihaya mengatakan...

lah...tapi di Al Qur'an nggak diwajibkan buat membikin negara islam kan....nggak ada dalilnya.
trus juga, interpretasi dunia sekarang amatlah sangat fobia bila mendengar kata islam, apalagi "negara islam". saya bayangkan betapa fobianya mereka. islam yg dipenuhi teroris, kekerasan, dan kefanatikan yang dikoar-koarkan keluar.
itu kan parah sekali keadaannya, itu menjadi tugas kita untuk mengembalikan citra agama kita yg rahmatanlil 'alamin ini.
dan juga mana bisa indonesia dijadikan negara islam.
landasannya saja Pancasila yang sudah universal, mana ke-Bhinnekaan itu?
yaaa jelas dan sangat pasti orang-orang non-islam nggak setujulah kak dede...
klo kita orang islam punya hak mendirikan negara islam di Tanah Air Indonesia, sudah barang tentu para non-muslim juga akan menuntut hak yang sama...karena kita semua punya sejarah yg sama. kemudian apa? pasti timbul peperangan, dimulailah lagi gong perang paregreg itu....dimulailah lagi kehancuran Indonesia untuk yg kesekian kalinya.
apakah ini yg disebut manusia beradab?
tentu saja tidak.

saya sangat mengagumi Wali Songo yang berhasil 100% berdakwah menyebarkan agama islam tanpa perlu menimbulkan pertumpahan darah.
seharusnya dicontoh itu.
dan mereka tak perlu mendirikan negara islam untuk bisa berhasil berdakwah, beribadah kepada-Nya dengan leluasa.
tinggal pinter2nya orang islam aja gimana menemukan cara gimana berdakwah yg baik.
orang Islam kan harus pintar... begitu kan Kak Dede?? hhe

kalo mau mendirikan negara islam, lebih baik entar aja nunggu kita semua sudah sampai di surga. pasti nggak akan ada pro kontra, ato pertumpahan darah gini.

mengenai pluralisme dan pluralitas, oke anda benar sekali kak dede. terimakasih atas koreksinya yak! :)

kak dede, bukankah sudah bersyukur sekali kita ini terlahir sebagai seorang muslim, ayah ibu kita pun muslim pula...kita dibiarkan-Nya beribadah di dunia ini dengan bebasnya, di tanah air kita tercinta ini.
bagi kita, itu adalah rahmat Allah yg sangat besar kepada kita bukan?
seharusnya cukuplah itu bagi kita, kita tak boleh menuntut hadiah yg lebih besar yg mungkin tak sanggup kita pikul di pundak kita.
Negara Islam itu, fitrahnya sudah ada sendiri, kita tak perlu sibuk untuk memimpikannya di dunia ini, karena itu akan diberikan-Nya kelak ketika waktunya sudah tepat.

terimakasih atas komentarnya, kalau mau lanjut, silakan saja.

Dede Moch. Mahfudh mengatakan...

لكم دينكم ولي دين
Coba dech neng Niha amati lg konsep Negara Islam yg sy uraikan!/khilafah yg diajukan oleh Hizbuttahrir hnylh slh st corak sj (sy bukan HTI loch he...). Klo kaum orientalis, zionis, imperialis, dkk sj bs mmbangun "p'adaban" di bumi Indonesia lewat "perjuangan" Belanda,portugis,dkk (yg jg m'bw misi kristenisasi) bhkn bs kita "terimo dg legowo", knp kita mst ragu untuk mmbangun p'adaban Islam dan m'buat mereka legowo? Tdkh qt m'lht p'juangn pra Rasul,khalifah, dan para ulama u/menegkkan daulh Islamiyyah? Jgnlah saudariku mnjd kader penerus p'juangan mereka (imperialis dkk) to menguatkn tonggk arus p'mikrn mrk atas nama Bhinneka or Pancasila (tolng kritisi ttg "ketuhanan"), Sungguh yg pny karakter Universalitas/syamil/kamil/integral/komprehensif hnyalh hukum Allah lwt Al-Qur'an dan As-Sunnah, yg tntu sj lbh pintar "omong" ttg p'satuan. Klo mrk sj brni mengkritsi pmkrn ulama2 bsr bhkn Al-Qur'an dan Hadits (demi materi/materialism: slhkn cr sumber ttg zionism dan freemasonry lwt kacmat Islamic worldview), knp kita tdk brn mlwn arus pmikrn mrk bhkn mjd spt "bebek" yg hny ikut2an? Tolong pula buka dan amati kmbali bgmn cork dan metode dakwh walisongo dan p'juangn para khalifh, lg2 dg kacamata Islamic worldview. Oke dech....lbh hangat lagi klo diskusinya langsung sambil minum kopi ditambah ubi goreng+pagi2 di pegunungan smbil mndngarkn alunn musik Kitaro, beethoven, or bhkn lgu2 khs sunda or jawa...mantap dech...klo nulis pegel he... اللهم اهدها فإنها لا تعلم

ahmad saifuddin mengatakan...

masalahnya adalah bukan pada kita sebagai orang Islam meragukan negara islam, namun banyak orang non Islam yang tidak setuju dengan hal itu karena kesakitan sejarah tentang peperangan ideologi islam versus non islam. selain itu, orang non islam juga tidak siap tidak seperti orang non islam jaman nabi. yang penting juga bukan struktural, namun lebih pada budaya kita menegakkan hukum Alloh, ibda' binafsika. jika budaya kita menegakkan hukum Alloh SWT sudah bagus, tak masalah sistemnya apa karena individu sudah mendalami hukum islam. jangan salah juga, banyak pejuang kita orang islam, namun mereka tidak menghendaki negara islam, termasuk NU yang menghendaki negara damai (darussalam), tidak perlu negara Islam namun pemerintah harus menjamin hak dan kebutuhan dlururiyyat warganya (agama, akal, jiwa, harta, kehormatan)

Nihaya mengatakan...

yup, itulah hak yg dikemukakan al Ghazali...agama, akal, jiwa, harta, kehormatan.

mari kita berpikir lebih jauh,
kalo hukum Allah SWT benar2 ditegakkan, akan sangat bahaya sekali...bahaya sekali.
mengapa saya katakan bahaya?
karena apa yg dikehendaki Allah itu kadang tidak sama dengan apa yang dikehendaki hambaNya.
kita membikin keputusan saja harus pake percobaan, masak hukum Tuhan dipake bermain2 dengan mencoba2....tidak bisa.
kita jelas tidak boleh main-main dengan kehendakNya yg kita tidak pernah tahu itu.
manusia itu terbatas.
manusia itu berbudaya, negara dibuat juga berdasarkan kebudayaan setempat.
Tuhan saja tak punya negara...
kalau kita mau membikin negara Islam otomatis kita harus tunduk pada segala kehendakNya, mengikuti kemauan Allah...memangnya itu gampang?

lagipula manusia jaman sekarang beda, lihat saja, orang-orang yang diam2 bersatu mau merubah ideologi indonesia menjadi ideologi Islam, kebanyakan pake cara kekerasan seperti FPI itu.
masak pas natalan ngerusakin gereja...
orang punya akhlaq tinggi aja enggak kok mau mendirikan negara islam...mana itu modal??
sudah nggak ada.
mau mewujudkan darussalam aja susahnya setengah mati kok apalagi darul islam.