Minggu, 14 September 2014

EROPA


“Kimia Organik ini asik banget deh. Mereka belajar darimana sih? Eh ada Pentagamavunon, dibuat sama Pak Jim dkk. Gimana bisa? Pak Jim ke Belanda, Pak Parjan ke Belanda, Bu Hilda ke Belanda. Oiya, dosen Mikrobiologi (A.k.a. Bu Silvy) kemarin ke Leeds yah.. (buka FB, ternyata ke Leiden)”. Satu semester pendidikan Sarjana berlalu.. Muncullah Bu Ritma. Kimia Organik juga.. Beliau ke Bristol, England. Beuh.. Langsung deh buka-buka website universitas di England. Suatu pemutusan sepihak saat itu bahwasannya aku memutuskan untuk ke Liverpool, negerinya The Beatles. Langsung aku kabari si Kincrut bahwa aku mau ke Liverpool. Dia mendukungku. Itu saja. Mungkin saat itu Kincrut berpikir “ini anak lagi ngimpi, tidur, kok bisa sms aku sih.” haha..
Trus di tahun 2013 (sudah hampir 5 tahun sejak saat itu) bertemulah saya dengan tokoh idola saya di Kimia Komputasi (tema riset skripsiku), Pak Enade. Beliau ke Belanda juga. Jreng jreng.. Muncul deh angan-angan setinggi langit “Mungkin nggak ya suatu saat nanti bisa seperti mereka, ke Luar Negeri kuliah Master dan Doktor.”

Sejak saat itu aku rajin browsing bagaimana caranya biar bisa lanjut kuliah ke Eropa. Ya. EROPA! Pramoedya Ananta Toer memang nggak terlalu salah untuk mengatakan lewat dialog Nyai Ontosoroh, bahwa “Kau sendiri ikut mengalami. Utara sendiri selalu jadi mata angin keramat bagi bangsamu, sampai-sampai dalam impian. Kan mimpi berlayar ke utara selalu dianggap oleh bangsamu sebagai firasat bakal mati. Kan sejak jaman-jaman tak dikenal bangsamu menguburkan mayatnya ke utara bujur? Kan ideal rumah kalian adalah menghadap ke utara? Kata Papa, karena dari utaralah datang kaki segala bangsa, meninggalkan kalian  setelah jadi buncit, dan sampah-sampahnya yang kalian dapatkan? Dan penyakitnya? Dan hanya sedikit dari ilmunya?”. Tapi zaman sudah sedikit berubah Mr. Pram. Bagaimana pun, banyak hati anak bangsamu yang mati-matian berniat dan berlaku bagaimana supaya Bangsa Indonesia ini tidak hanya tinggal buncit, sampah, dan penyakitnya saja. Melainkan mencuri ilmu sebanyak-banyaknya. Di Eropa. Kau tau Bung, aku mendapati Papa kurang lihai dalam menempatkan kami di negeri sendiri. Terkadang kami berpikir, biarlah Papa tidak memikirkan nasib kami, namun kami akan tetap mencari celah bagaimana supaya kami masih sanggup berguna untuk Anak Segala Bangsa lainnya. Hopefully.

Saat kuliah sarjana, aku bilang ke calon suami: Aku mau kuliah ke luar negeri lho buat belajar Kimia Organik. Dia menanggapi simpel saja: Ya kejar donk, tapi sebelum kamu ke sana, harus nikah dulu sama aku. Lalu aku bilang: Ya lihat saja nanti berhasil nggak. (Dalam hati: gawat kalau beneran, aku bakal nikah muda nih). Tidak banyak orang yang tahu kecuali segelintir orang bahwa aku memiliki mimpi untuk kuliah di Belanda. Segelintir orang itu pun tidak banyak berkomentar. Sehingga perjalanan anganku berlajut dalam diam, dalam hati, dalam pikiran, dan dalam doa saja. Tidak banyak kata. Pokoknya jalan terus, awas terhadap setiap kekurangan dan kesempatan yang ada. Sebenarya tidak cuma ke Belanda sih anganku, namun ke belahan dunia lainnya juga, pokoknya yang mau menerimaku, yang cukup berkualitas, dan tidak terlalu membebani. Saat itu ada banyak sekali pihan dengan banyak pertimbangan. Sampai-sampai, aku hafal banyak universitas baik nama, tempat, persyaratan masuk, dll. Teman-temanku ternyata banyak juga yang ingin ke luar negeri. Andai mereka tahu, mereka bisa menanyakan padaku segala hal tentang universitas dan beasiswa di luar negeri.

Aku ini orangnya penuh pertimbangan. Aku memikirkan saat yang tepat dan meramalkan sendiri kapan aku harus berangkat, menikah, punya anak, dsb. Sehingga aku harus persiapan apa saja dan sejak kapan. Bila dipetakan, maka anganku bisa menjadi peta selebar kertas ukuran A5 skala 1: 2 juta. Haghag.. *becanda. Namun jujur, aku berharap banget alam semesta berkonspirasi untuk mewujudkan impianku lewat bisikan Tuhan. Allah SWT nggak pernah mengingkari nikmat-Nya kepada hambaNya. Aku dilewatkan jalan yang penuh tantangan. Sepanjang jalan aku penasaran dan bertanya-tanya: mengapa ini terjadi padaku? Apa lagi nanti yang akan terjadi padaku? Bisakah aku melaluinya?

Kau tahu, banyak sekali rumus yang Dia pergunakan untuk mengatur hidupku yang menakjubkan ini hingga aku tak paham dan menganggapnya keajaiban. Percayakah kalian, bahwa semua anganku tersebut teraih dengan mulus. Tanah Eropa sudah aku injak-injak selama 3 minggu ini. Ya. Aku di Belanda.. EROPA yang menakjubkan untuk 2 tahun ke depan. Kuliah Master di salah satu universitas riset terkemuka. Yang publikasi risetnya sampai berkali-kali menjamah jurnal paling bergengsi di dunia: NATURE.




Namun tahukah kalian, perjalanan anganku belum berhenti. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, apa yang akan terjadi padaku nanti? Bilakah semua anganku tidak akan pernah sia-sia? Bisakah aku menikmati seluruh rangkaian perjalanan ini? Aku masih terus bergantung padaNya. Eropa ternyata hanya sekecil ini, dan aku tak ingin membiarkan kaki-kakinya mengangkangi Tanah Air Ibu Pertiwi tempat surga berada.



Senin, 18 Agustus 2014

Companion

"Masak iya aku harus selalu menemanimu?"

I realize that human can never be depent on. That isn't absolute. How lucky those who have someone to lean on for the rest of their life, not just become a single fighter. I realize that I'm often lost, can not remember that God is in me.. deep inside me. That is why I often come back to my father and my mother. Two people who always be there everytime I need, everytime I need to be closer to God. I think God will be happy if I can win my ego for Him.

Sabtu, 19 Juli 2014

Accident

So shocking.. I didn't have a chance to meet my father to say salam before going to my husband's house and this evening I found my father had a car crash while he drove his car after visiting Solo. What I am worrying about is that my father is not physically young anymore. Although there was no wound, how he shocked is something I have to take it as a deep attention. So sad and sorry that I can not see him, his face especially, right now. My father is someone who always provides everything I need in my whole life, even in this marriage life of mine. He gives, even though I do not tell or say a word. Hope everything is going well. :'(

Rabu, 16 Juli 2014

Suatu Siang di BSD

Hai semuaa.. lama sekali tidak menulis. Ada banyak moment yang terlewatkan dan berharga untuk ditulis kisahnya di sini. Tapi, kemarin-kemarin tidak ada sepercik keinginan untuk menulis. Sekarang sedang memulai untuk mengembalikan semangat bercerita. Mari dimulai. Hmm..

Saat ini, saya sedang di BSD di Serpong. Tadinya hari ini saya bermaksud untuk belanja ke Tanah Abang nyari baju koko buat suami. (Oh iya, Hey! aku udah punya suami! Hahaha.. nanti deh ceritanya) Di rumah sudah punya satu sih.. Tetapi tentu saja harus punya ganti. Mengapa memiliki baju koko penting? karena di desa kampung halamanku, radisi ketika sholat di masjid itu harus menggunakan baju koko, sarung, dan peci. Lengkap. Tidak ada jemaah yang sholat di masjid hanya menggunakan kaos dan sarung saja. Karena, budaya santri tidak memperbolehkannya. Menghadap Tuhan harus dengan pakaian bersih dan rapi, kalau bisa wangi juga. Oke, jadilah belanja ke Tanah Abang tertunda sampai besok. Oiya, hari ini saya di BSD karena ikut suami yang sedang tugas kerja di sini selama dua hari. Ndak enak banget buka dan sahur sendirian di Jakarta tanpa suami, saya kan lumayan urban. Baru 1,5 bulan di sini dan tak tahu medan. Sebenarnya ini hari kedua suami saya bertugas di sini. Cuma kemarin dia pulang dulu jemput saya. Kasian sih, nyampe rumah sudah hampir tengah malam dan kehujanan, jam 7 pagi sudah harus berangkat lagi. Dia pulang dulu karena katanya nggak tega membiarkan saya sahur sendirian. (Untunglah dia nggak tega.. jadi saya punya teman sahur, hahaha) Tadi ketika berangkat kami naik bajaj dari kantor suami. Sopir bajaj-nya berasal dari Kebumen, trus diajak ngobrol gitu sama suami pakai bahasa ngapak. Kami berhenti di dekat stasiun Tanah Abang. Eh, nggak dekat dink, pemberhentian kami masih jauh dari stasiun. Kami harus berjalan kaki dengan langkah panjang dan cepat agar tidak ketinggalan kereta. Olahraga pas puasa! Suami saya orangnya lumayan tinggi, sedangkan saya ini orangnya pendek. Jadi harus mengeluarkan tenaga lebih untuk bisa menyamai irama jalan suami. Akhirnya kami sampai BSD pukul 9 pagi, trus ditinggal suami bertugas, saya nunggu sampai dia selesai sambil tdur sambil internetan, sambil istirahat. Nanti sore kami bisa buka puasa bareng. Horeee... Besok pagi seusai sahur kami harus bergegas kembali ke Jakarta biar tidak ketemu kerumuman orang 'tumumplak' di kereta.

Sedikit cerita, suami saya ini seorang "Yes man" kepada atasan di kantornya. Jadi atasannya minta apa, selalu dia sanggupi. Diminta kemana ngerjain apa selalu bilang oke. Hingga sampai rumah itu selalu tepar. Hal yang tidak dimiliki oleh teman lain seangkatannya. Untung saja dia mempunyai atasan yang cukup baik hati dan membiarkannya bisa berkembang sesuai kesempatannya. Sehingga, dibanding teman lain seangkatannya, suami saya tergolong orang yang cukup berkembang. Meskipun saya tidak tahu menahu apa yang dikerjakannya, tapi saya memahami bahwa apa yang dikerjakannya tersebut bisa bermanfaat buat orang banyak dan membuatnya sanggup mengembangkan dirinya. Dia sudah bekerja cukup keras sebagai abdi negara. Jadi bila ada yang menganggap abdi negara semacam suami saya itu kerjaannya santai, enak, dan nyaman, maka saya kurang setuju. Bahkan saat akhir pekan pun terkadang dia masih bekerja, meskipun di rumah. Katanya belum sempat mengerjakan inilah itulah, gara-gara saking banyak apa yang harus dikerjakannya. "Gas poll" deh pokoknya! Belum ada seminggu setelah pernikahan kami pun, dia harus tugas ke luar kota dan meninggalkan saya, setelah itu masih ada tugas lagi, lagi, dan lagi. Namun saya tetap bersyukur suami saya menjadi seperti itu, untuk sekarang ini. Sebenarnya, keinginan utamanya adalah dia bisa sekolah lagi, mengejar saya sampai Nijmegen. Namun saat ini memang baru bisa sabar saja sambil berproses. Saya pun juga memastikan diri saya untuk tetap selalu berproses juga, hingga memutuskan untuk engharuskan diri ke luar negeri, mencari apa yang tidak saya jumpai di sini. Saya pun tidak ingin menjadi orang yang stagnan.

Hari ini saya download beberapa OST film Departures gara-gara suatu waktu kemarin, suami saya sebelum pergi muter lagu berjudul "Memory", dan... bagus juga. Kata dia, nanti lagu itu akan menjadi Theme Song dia pas aku departing dari Terminal 2 Soekarno-Hatta untuk 2 tahun ke depan. Haduuu... ingat itu malah bikin sedih. Sudah ah, sampai di sini dulu cerita dari saya. Tot ziens!

Selasa, 01 Juli 2014

Scream in Loud

Ternyata dunia ini penuh teriakan
Oleh hati orang-orang yang mengharu-biru
Oleh perasaan yang belum terselesaikan
Riuh dan gaduh
Tak terjamah orang lain
Dunia yang demikian seperti terkotak-kotak tebal
Kotakmu hening buatku
Namun demikian, aku yakin ada perasaanmu yang belum selesai sampai klimaks
Tangan mencakar dinding, aku tak tahu
Teriakmu menggelegar, aku tak dengar
Seperti juga aku, demikian juga aku.

Senin, 09 Juni 2014

LoS

Semakin nyata saja kalau saya harus pergi *menyiapkan hati*


Kamis, 01 Mei 2014

Teologi dan Teknologi

Ternyata ia rajin membaca blog-blog empunya motivator dan guru meditasi. Nampaknya ia tak familiar dengan cara kontlemplasi Nabinya sendiri. Tak paham bagaimana membuat dzikir merasuk sampai jiwanya hingga transenden. Adakah sufi Jawa? Memang sebuah tarekat tak diajarkan secara online, yang ada hanya wacana tak masuk akalnya. Teknologi dan teologi juga ternyata hanya bisa berdiri sendiri-sendiri. Teknologi hanya bisa menyajikan permukaan teologi. Sungguh kasihan anak sekarang. Bapak, tolong ajarkan. Demikian, aku perlu merenung sebelum mempunyai anak, bagaimana aku bisa membuatnya menghubungkan jiwanya dengan Sang Pemilik Jiwanya. Aku tak boleh melepas anak panah yang tumpul bukan? Ia tak akan bisa menancap tajam pada sasarannya. Bisa terlempar dan pecah berkeping-keping. Dan aku tak bisa melepaskan anak panah tanpa ilmu memanah bukan? Anak panahku hanya akan melesat tanpa arah dan tujuan.