Rabu, 16 Juli 2014

Suatu Siang di BSD

Hai semuaa.. lama sekali tidak menulis. Ada banyak moment yang terlewatkan dan berharga untuk ditulis kisahnya di sini. Tapi, kemarin-kemarin tidak ada sepercik keinginan untuk menulis. Sekarang sedang memulai untuk mengembalikan semangat bercerita. Mari dimulai. Hmm..

Saat ini, saya sedang di BSD di Serpong. Tadinya hari ini saya bermaksud untuk belanja ke Tanah Abang nyari baju koko buat suami. (Oh iya, Hey! aku udah punya suami! Hahaha.. nanti deh ceritanya) Di rumah sudah punya satu sih.. Tetapi tentu saja harus punya ganti. Mengapa memiliki baju koko penting? karena di desa kampung halamanku, radisi ketika sholat di masjid itu harus menggunakan baju koko, sarung, dan peci. Lengkap. Tidak ada jemaah yang sholat di masjid hanya menggunakan kaos dan sarung saja. Karena, budaya santri tidak memperbolehkannya. Menghadap Tuhan harus dengan pakaian bersih dan rapi, kalau bisa wangi juga. Oke, jadilah belanja ke Tanah Abang tertunda sampai besok. Oiya, hari ini saya di BSD karena ikut suami yang sedang tugas kerja di sini selama dua hari. Ndak enak banget buka dan sahur sendirian di Jakarta tanpa suami, saya kan lumayan urban. Baru 1,5 bulan di sini dan tak tahu medan. Sebenarnya ini hari kedua suami saya bertugas di sini. Cuma kemarin dia pulang dulu jemput saya. Kasian sih, nyampe rumah sudah hampir tengah malam dan kehujanan, jam 7 pagi sudah harus berangkat lagi. Dia pulang dulu karena katanya nggak tega membiarkan saya sahur sendirian. (Untunglah dia nggak tega.. jadi saya punya teman sahur, hahaha) Tadi ketika berangkat kami naik bajaj dari kantor suami. Sopir bajaj-nya berasal dari Kebumen, trus diajak ngobrol gitu sama suami pakai bahasa ngapak. Kami berhenti di dekat stasiun Tanah Abang. Eh, nggak dekat dink, pemberhentian kami masih jauh dari stasiun. Kami harus berjalan kaki dengan langkah panjang dan cepat agar tidak ketinggalan kereta. Olahraga pas puasa! Suami saya orangnya lumayan tinggi, sedangkan saya ini orangnya pendek. Jadi harus mengeluarkan tenaga lebih untuk bisa menyamai irama jalan suami. Akhirnya kami sampai BSD pukul 9 pagi, trus ditinggal suami bertugas, saya nunggu sampai dia selesai sambil tdur sambil internetan, sambil istirahat. Nanti sore kami bisa buka puasa bareng. Horeee... Besok pagi seusai sahur kami harus bergegas kembali ke Jakarta biar tidak ketemu kerumuman orang 'tumumplak' di kereta.

Sedikit cerita, suami saya ini seorang "Yes man" kepada atasan di kantornya. Jadi atasannya minta apa, selalu dia sanggupi. Diminta kemana ngerjain apa selalu bilang oke. Hingga sampai rumah itu selalu tepar. Hal yang tidak dimiliki oleh teman lain seangkatannya. Untung saja dia mempunyai atasan yang cukup baik hati dan membiarkannya bisa berkembang sesuai kesempatannya. Sehingga, dibanding teman lain seangkatannya, suami saya tergolong orang yang cukup berkembang. Meskipun saya tidak tahu menahu apa yang dikerjakannya, tapi saya memahami bahwa apa yang dikerjakannya tersebut bisa bermanfaat buat orang banyak dan membuatnya sanggup mengembangkan dirinya. Dia sudah bekerja cukup keras sebagai abdi negara. Jadi bila ada yang menganggap abdi negara semacam suami saya itu kerjaannya santai, enak, dan nyaman, maka saya kurang setuju. Bahkan saat akhir pekan pun terkadang dia masih bekerja, meskipun di rumah. Katanya belum sempat mengerjakan inilah itulah, gara-gara saking banyak apa yang harus dikerjakannya. "Gas poll" deh pokoknya! Belum ada seminggu setelah pernikahan kami pun, dia harus tugas ke luar kota dan meninggalkan saya, setelah itu masih ada tugas lagi, lagi, dan lagi. Namun saya tetap bersyukur suami saya menjadi seperti itu, untuk sekarang ini. Sebenarnya, keinginan utamanya adalah dia bisa sekolah lagi, mengejar saya sampai Nijmegen. Namun saat ini memang baru bisa sabar saja sambil berproses. Saya pun juga memastikan diri saya untuk tetap selalu berproses juga, hingga memutuskan untuk engharuskan diri ke luar negeri, mencari apa yang tidak saya jumpai di sini. Saya pun tidak ingin menjadi orang yang stagnan.

Hari ini saya download beberapa OST film Departures gara-gara suatu waktu kemarin, suami saya sebelum pergi muter lagu berjudul "Memory", dan... bagus juga. Kata dia, nanti lagu itu akan menjadi Theme Song dia pas aku departing dari Terminal 2 Soekarno-Hatta untuk 2 tahun ke depan. Haduuu... ingat itu malah bikin sedih. Sudah ah, sampai di sini dulu cerita dari saya. Tot ziens!

Tidak ada komentar: