Senin, 18 April 2011

Catatan 17 April Malam

Aku berjalan, melintasi malam… 

sebenarnya ini tidak bisa disebut intisari karena terlalu panjang, jadi saya beri judul catatan. Inilah beberapa catatan saya dari acara Maiyah Mocopat Syafaat bersama Cak Nun di TKIT Kasihan, Bantul (21.00-23.59)
  • Menikmati dunia tapi jangan sampai memperistrinya (menjadikan dunia sebagai satu-satunya kecintaanmu) ~> kok mirip Rubaiyat Omar Khayyam yaa..hwehe
    Berlindung kita kepada Allah saat terlibat cinta primordial yang terlalu sempit, cinta dunia yang terlalu sangat.

  • Ulama itu merupakan Warasatul An Nabiy, berkewajiban melakukan da’wah khoir nahi munkar. Sedangkan Ulil Amri merupakan Warasatul Ar Rasul, berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Tapi sekarang, khususnya di negaeri ini yang ada malah keterbalikan-keterbalikan serta tumpang tindih peran. Presiden bertingkah seolah Ulama, sedangkan Ulama melarang ini melarang itu.

  • Majelis Ulama (Indonesia) harusnya dibagi sesuai bidang keahliannya masing-masing. Ada Ulama Politik, Ulama kesehatan, Ulama budaya (budayawan), Ulama teknik, dsb sehingga masing-masing dapat memaksimalkan peran namun tanpa sekularisasi dalam melaksanakan prosesnya.

  • Ulil Abshar, Ulin Nuha, Ulil Albab harus dibedakan!
    Ulil Abshar : Orang yang memiliki pandangan hati
    Ulin Nuha : Orang yang berakal
    Ulil Abab : Orang yang pandai berpikir.
  • Yang benar apakah ji, ro, lu, pat atau ji, ro, lu? Kalau menurut aturan Jawa yang benar yang mana? Ini ada keterkaitan dengan sejarah kepemimpinan NKRI. Indonesia selama ini telah dipimpin oleh empat presiden. Pertama, Soekarno. Kedua, Soeharto, Ketiga, Gus Dur. Keempat, SBY. Sedangkan Megawati dan Habibie hanyalah pengganti saja, jadi tidak termasuk hitungan karena mereka masih 1 periode dengan yang digantikan. Selama ini manusia berbudaya tidak jarang menggunakan ilmu titen dalam hidupnya. Ada perhitungan interval-interval tertentu, seperti hitungan waktu, ada Senin-Minggu, Januari-Desember, Pahing-Legi, dll. Barangkali rumus-rumus seperti ini berlaku juga bagi Indonesia sebagai Negara yang selama ini selalu gagal menjadi sebuah Negara.
    Sesuai rumus ji, ro, lu, pat tersebut, kita tahu kan kalau selama ini Indonesia selalu batal. Sudah 4 pemimpin, namun tak ada yang berhasil menjadikan Indonesia. Analoginya saat kita mananak nasi dari sebuah beras, beras tersebut selalu tidak menjadi nasi, yang salah siapa? Lha yang nanak nasi, dia tidak melakukan prosedurnya dengan benar kok. Begitu pula Indonesia ini, pengelolanya hanya bisa menjungkir-balikkan obyek olahan. Jadi, kita harus mau dan harus hijrah! Secara De Jure, Indonesia ini belum jadi, belum ada saat ini. Namun secara De Facto, okelah.. Indonesia ada.
  • Sampailah pada tema yang diangkat, yaitu Nahdlatul-Muhammadiyah (merupakan gabungan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah). Tak ada pretense apa pun di sini. Inisiatif pengadaan Nahdlatul-Muhammadiyah karena kegamangan masyarakat selama ini. Kebanyakan masyarakat tidak jelas, apakah mereka ikut NU atau Muhammadiyah atau hanya setengah-setengah. Kehadiran Nahdlatul-Muhammadiyah dimaksudkan untuk mengisi (bahasa Jawanya ndempul) lobang-lobang kekosongan yang ada pada diri masyarakat, tanpa berseberangan dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Jadi, Nahdlatul-Muhammadiyah tak perlu menyeluruh, seperti tak perlu manafsir Al-Qur’an karena menafsir Al-Qur’an itu tak bisa dilembagakan. Nahdlatul-Muhammadiyah mengikuti kebutuhan masyarakat, ndempul apa yang mereka bingungkan, meng-ijtihadi-nya supaya relevan dan komunikatif dengan kebutuhan masyarakat. Dakwah ala Kanjeng Nabi SAW adalah PR nomer 1 bagi Nahdlatul-Muhammadiyah. Dalam dakwah, ajaklah yang sesat kepada kebaikan, jangan mengajak yang sudah baik, supaya lebih efektif. Produknya adalah berupa, kebijakan, kebijaksanaan, kearifan, dll.
  •  Kita, punya hak untuk negosiasi dengan Allah, agar Tangan-Tangan Allah diperpanjang, agar Dia bersedia untuk berfirman dan berkehendak “Kun Faya Kun”. Karena Dia menciptakan anomali dalam hidup, Dia menciptakan pengecualian.
  • Allah mengejek orang-orang yang meratap-ratapi kekufuran gara-gara kelara-lara hatinya. Jadi sebaiknya bila ada kekufuran, tidak usah kita meratap-ratap, harus maju terus, bangkit kembali. Karena seluruh yang datang kepada kita bisa kita khalifahi, bisa kita selesaikan.
  • Ada yang bertanya kepada Cak Nun, berdasarkan ji, ro, lu, pat tadi, apakah tidak ada satu pun yang bisa ngliwet (mengelola dan menjadikan sebuah Indonesia) di sini? Kalau ada siapa? Maka Cak Nun menjawab : ada. Tentu saja ada. Kita semua bisa ngliwet. Tapi permasalhannya sekarang sedang dalam waktunya nggak bisa karena kita semua belum mau berubah. Lha bagaimana mau berubah? Wong kita ini selalu disikapi kalau mau berubah (wah jadi inget lirik lagu Hati Matahari… hihihi). Kini, kita diberi waktu 3 tahun untuk menjadikan nasi (Indonesia). Seperti sikap hidup para leluhur Jawa, Memayu Hayuning Bawono, ikut memelihara, menjaga dan melestarikan alam semesta ini.
  •  Cak Nun pun juga melontar kritik, menjadi Ulama jangan sampai sekuler. Perhatikan segala aspek, jangan memisahkan ilmu umum dengan ilmu agama.
  • Ada salah seorang yang bertanya kepada Cak Nun. “Untungnya apa Allah menciptakan kita? Padahal Allah tak butuh segala ibadah kita.” (waduh wis tau tak bahas karo mas Misbah 2 tahun lalu via email, hehehe) Kemudian Cak nun menjawab kurang lebih seperti ini, “pertanyaan ini kalau minta jawaban dari saya maka saya beri Anda tafsir saya, yang mungkin suatu waktu bisa berkembang lho ya.. saya tak mau menjawab seperti kebanyakan ulama menjawab yang seolah-olah mereka sekretaris Allah. Jawaban saya adalah karena Allah ingin mesra dengan kita. Maka dari itulah terkadang hal-hal-Nya ditunaikan secara tidak efektif oleh manusia. Jadi icon Allah itu Ar-rahman dan Ar-rahiim. Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Itulah mengapa saya katakana tadi, kita bisa bernegosiasi dengan-Nya. Manfaatkanlah icon Allah yang Ar-rahman dan Ar-rahiim, dengan catatan pakai cara yang benar dan pantas. Misalnya, kita sholat tidak khusyuk itu tidak dosa secara fiqh, tapi kalau nggak khusyuk kebangeten soalnya kita kan sedang bermesraan dengan Allah. Orang yang berdosa kok harus masuk neraka segala, itu karena soal kompatibilitas, sesuainya begitu. Karena ya logikanya orang yang bersalah itu harus dihukum, apalagi Dia Maha Adil. Jadi, orang hidup harus punya imajinasi, humor, atau kelakar. Lha Gusti Allah menciptakan segala sesuatu kadang lucu kok, tak bisa dinalar. Ini kita lakukan supaya hidup ada bumbunya. Dia ingin silaturrahmi, ingin dipuji… ya itu nggak apa-apa. Mengapa? Ya nanti silakan ditanyakan sendiri. Itu intinya.
  • Sejak Awal Allah sangat demokratis, kalau Dia mengatur, itu karena Dia ingin melindungi kita… Dia sayang kepada kita.
  • Kemerdekaan seharusnya jangan dijadikan tujuan, tetapi jadikan suatu ‘tools’ untuk kita bisa menentukan batas kita. Kita harus punya kesadaran batas. Dalam menggapai sesuatu jangan selalu memuncak, batasilah diri kita, agar kita bisa mencapai eternal dimension.
Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa tepi
Bolehkah aku mendengarmu
Terkubur dalam emosi, tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku merindukanmu

Terpurukku di sini, teraniaya sepi
Dan kutahu pasti kau menemani… yeah
Dalam hidupku, kesendirianku
...
(Sandaran Hati - Letto)

cont...

Minggu, 17 April 2011

What Can I Do?

Lagi-lagi judulnya berupa tanda tanya. Apa gara-gara karena sedang maraknya film "?"-nya Hanung Bramantyo? hahaha.. Tentu tidak. Selama sekian hari mungkin blog ini akan penuh dengan tulisan yang berkesan introspeksi. Tapi kali ini aku menulis tentang topik umum, kok. Sama sekali bukan maksud untuk menonjolkan pencitraan diri di dunia maya ini.

Selama ini aku telah banyak mengetahui sesuatu, selepas aku mengetahuinya seharusnya otakku bisa memproses sesuatu yang menakjubkan, seharusnyalah simpul-simpul sarafku bekerja menyalurkan listrik-listrik sebagai respon atas apa yang telah kuketahui dengan menggerakkan hati yang telah senantiasa dibersihkan dari kotoran dan karat-karat, dan pada akhirnya menggerakkan anggota gerakku untuk melakukan sesuatu.
Seharusnya itulah yang terjadi. Semakin banyak input maka semakin banyak output, apalagi untuk urusan seperti ini... output itu pasti menjadi hal yang wajib.

Tapi kenapa aku masih diam saja? Apakah ada sesuatu di dalam diriku yang kurang peka? Sudahkah aku menjadi manusia yang sebenarnya, sesuai yang dimaksudkan Tuhanku menciptakanku? Sudah tepatkan apa yang telah kulakukan?
Rasa-rasanya sedih sekali untuk menjawabnya, selain malu pula, rasa-rasanya selama ini aku hanya dapat memberi guna untuk diri sendiri. Padahal aku tidak hidup di dunia ini sendirian. Begitu banyaknya orang lain, begitu baiknya mereka mengakui keberadaanku di dunia ini, sebagai manusia. Pikirku, barangkali banyak orang di luar sana mengaharapkanku memberi guna pada mereka demi kehidupan yang lebih baik. Sementara aku belum bisa melakukan apa-apa buat mereka, belum bisa sepenuhnya memberi manfaat yang berarti buat mereka. Aku jadi nggak yakin kalau aku ini lebih baik dari mereka di luar sana, walau dengan segudang title keberuntungan yang telah kuterima.
I want to be able to help others...
Parah memang. Apalagi aku hanya bisa menulis ini, menulis itu... yang mungkin saja pada nantinya belum bisa merubahku untuk bergerak. Mungkin aku hanya sedikit terlecut, belum mampu membangunkan energi-energi yang telah lama tersimpan karena mungkin tidak tahu bagaimana caranya. Aku merasa belum mampu melampaui keterbatasanku.

Perasaan lainnya adakah? Merasa berdosa, tentu saja. Aku banyak tahu, tetapi mungkin selama ini aku pura-pura tidak tahu akan realita, selalu sembunyi di balik topeng. Ini manusia atau bukan... Mungkin peradaban manusia sedang berrevolusi ke arah yang buruk, vakum, tidak peka, karena diisi oleh orang-orang bodoh, seperti saya ini. Bodoh? Tentu saja, karena orang-orang seperti saya inihanya bisa bicara dan belajar terus-terusan, tanpa kejelasan implementasi yang berarti.

Benar kan kalau kondisi di luar sana sedang carut marut tidak karuan. Atas nama apa saja. Negara dan agama, dunia dan alam... silakan dilihat di berbagai media media yang mumpuni memuat berita.

Hanya menyadarkan ke diri sendiri dan pembaca bahwasannya masih ada manusia yang seperti saya ini yang tidak patut dicontoh. Berusahalah untuk bisa lebih baik lagi. Bergerak, lebih peka, tidak hanya terus bicara, menulis, atau belajar di sekolah. Kalau sudah merasa baik dirimu, maka menjadilah baik juga untuk orang lain.

Tulisan ini sungguh general. Hanya berisi curhatan dan sama sekali tidak ilmiah. Silakan dispesialisasi menurut selera pembaca.

To talk is to reflect. The quality of our action improves with the quality of how we talk and reflect on what and how we acted.

Rabu, 13 April 2011

apa yang terjadi?

bagaikan sedang menjadi sebuah elektron yang tereksitasi dalam keadaan terpaksa, karena suatu musabab tertentu yang baru saja kualami dan bikin tidak enak hati.
tapi sesungguhnya tiada elektron yang tereksitasi dalam keadaan terpaksa, mereka hanya tidak stabil saja saat sedang tereksitasi.
ingin kembali ke groundstate... :(
saat elektron kembali ke groundstate, mereka melepaskan energi, dan energi itu dapat berupa photon cahaya yang panjang gelombangnya dapat terlihat oleh manusia, MeJiKuHiBiNiU, indah sekali...itulah fosforesensi dan fluoresensi. kebahagiaan...
tidak hanya ingin kembali ke groundstate saja, setelah balik ke groundstate pun ingin berikatan hidrogen lagi dan akhirnya makin stabil di groundstate.
akan tetapi saat ini aku masih non-visible, tereksitasi, dan tidak stabil. terlalu banyak energi, ingin kulepaskan perlahan-lahan...
tapi aku tak punya alasan untuk langsung balik ke groundstate.
wahai sebab, telah kualami akibat, akankah sesuatu mengembalikanku lagi?
something good come to me!

bagaikan sebuah molekul yang polar sebagian. hanya mengalami tarikan elektron aja, tapi nggak diimbangi dengan donasi elektron. atau sebaliknya.. ikatan phi jadi nggak kuat, nggak stabil, gampang patah... itulah aku sekarang. meskipun begitu, bersyukur masih ada ikatan sigma.
mungkin terlalu banyak berharap, terlalu tinggi imajinasi tanpa implementasi yang berarti, ada implementasi pun mungkin nggak signifikan.
yang satu merasa egois, yang lain tidak.. atau sebaliknya.
sungguh sadar, benar-benar sadar... bila terus-terusan seperti ini, bukan tidak mungkin ikatan sigma pun bisa putus.
dan aku nggak mau itu sampai terjadi :(
entah apa yang harus kulakukan, aku sedang miskin ide dan lupa bagaimana menjadi seorang yang cerdas.
aku pun tak mau berlama-lama vakum. bagaimana pun aku manusia biasa, butuh interaksi untuk mengembalikan semuanya.
"something always gets contagious to its homeostasis when it goes to the high contrary"

Sabtu, 02 April 2011

your signal

sorry for being a selfish drama queen of yours
sorry for bothering you in all your life recently
sorry for being a too tender lover
I’m about frailness
sometimes, I have to be lost to find a place as can’t be found in you. Elseways, I would know where it was.
but you are someone for me with a red rose in your hand, teddy bear every night I sleep, a jar of fireflies long days ago, and many things about you, those are just too good to me..

A signal which is love letter alike, always comes close to me, as if you say nicely :
“Believe in me. I just want to say that I love you so much. Love in a simple way, so you don’t have to think about it. Just believe that I love you, more and more and more, Like I ever said. I love you whatever you are, so you don’t need to be perfect for me because I’m not perfect for you too. I just want to be the best for you.”

Thank you for all that you’ve done to me whether it being naughty or nice. I’m sorry I cant give anything to you. Now, I just can give my pray to you. I can only bring my plenty wishing stars for you. I wish I could make smile be my jewelry all the time for you.

It doesn’t matter where we are, we’ll be alright even if we’re miles apart.


Kamis, 31 Maret 2011

Masa Lalu

menyenangkan sekali bagiku, memiliki memori dan bisa tarik ulur pikiran di masa lalu.
terkadang bila sendiri, aku berbaring dan memejamkan mata, mulai melayangkan pikiran ke masa lalu. ada segala sesuatu di sana yang membuatku rindu. sudah menjadi kebiasaanku seperti ini, mungkin hampir tiap hari, tak pernah bisa terlepas dari masa lalu.

aku senang bila kebetulan masa lalu yang kulayangkan dari memori adalah sesuatu yang menyenangkan untuk ditelusuri kembali di suatu ruang yang aku tidak tau itu dimana dan apa.
tapi aku sedih bila kebetulan masa lalu yang kuingat itu sesuatu yang bisa mengingatkan kembali rasa sakit hati yang mungkin pernah hilang.
atau...apa benar-benar telah hilang? aku tidak tahu apa aku orang yang bisa memaafkan dengan mudah akan suatu rasa sakit hati. kini aku mulai membedakan tentang "memaafkan" dan "melupakan". aku ingin belajar untuk bisa mempraktekkan bagaimana memaafkan yang benar.
agar bila suatu saat di masa depan aku menelusuri masa lalu lagi, aku tidak lagi merasakan sakit hati yang mungkin pernah kualami.
aku harus bisa untuk lebih maafkan daripada melupakan, karena betapa gemarnya aku sendirian, betapa gemarnya aku bernostalgia, betapa kuatnya memori masa lalu itu bagiku.
karena suatu saat kesalahan akan menjadi sesuatu yang manis untuk diingat kembali.

Jumat, 18 Maret 2011

"The Wind Will Carry Us" - by Abbas Kiarostami (1999)

 Rubaiyat Omar Khayyam-
They tell me the other world is as beautiful as a houri from heaven!
Yet I say that the juice of the vine is better.
Prefer the present to those fine promises.
Even a drum sounds melodious from afar.
Forough Farrokhzād-
In my night, so brief, alas
The wind is about to meet the leaves.
My night so brief is filled with devastating anguish
Hark! Do you hear the whisper of the shadows?
This happiness feels foreign to me.
I am accustomed to despair.
Hark! Do you hear the whisper of the shadows?
There, in the night, something is happening
The moon is red and anxious.
And, clinging to this roof
That could collapse at any moment,
The clouds, like a crowd of mourning women,
Await the birth of the rain.
One second, and then nothing.
Behind this window,
The night trembles
And the earth stops spinning.
Behind this window, a stranger
Worries about me and you.
You in your greenery,
Lay your hands – those burning memories –
On my loving hands.
And entrust your lips, replete with life’s warmth,
To the touch of my loving lips
The wind will carry us!
The wind will carry us!

Rabu, 09 Maret 2011

Dekomposisi Obat

Bagaimana obat bisa kadaluarsa? Bagaimana obat sudah tak layak lagi disebut obat? Yak itu bila dosis obat sudah tak sesuai dengan yang seharusnya sesuai untuk bisa mengobati sakit. Apa cuma karena dosis yang nggak tepat saja? Tentu tidak, kalau dosis itu berkaitan dengan zat aktif obat, sedangka isi obat itu biasanya nggak hanya zat aktif saja, maka obat tak layak lagi disebut obat bila eksipien obat juga rusak dan mengalami dekomposisi. Apalagi kalo yang nge-formulasi obat itu farmasis geblek, milih eksipien obat yang nggak inert. Otomatis akan mempengaruhi stabilitas zat aktifnya, kan?

Oke. Sekarang, apa yang menyebabkan obat terdegradasi? Itu adalah karena terjadi dekomposisi kimiawi dan fisika, serta bila obatnya sudah terkontaminasi mikroba, biasanya jamur endofit serta bakteri gitu… dan obat seperti itu, apabila tetap dikonsumsi, akan bisa mengurangi efek ~~> tidak berefek ~~> menimbulkan efek samping ~~> (dan akhirnya) obat itu menjadi TOKSIS! Jadi, jangan coba-coba mengonsumsi obat yang sudah kadaluarsa. Oke, temans! Lalu bagaimana para analis mengetahui suatu obat telah rusak? Salah satunya dengan menetapkan kadar obat tersebut, dan itu menjadi salah satu pekerjaan  para analitik di bagian Quality and Assurance di Industri obat. (konon katanya, biasanya para farmasis nggak banyak berminat kerja di bagian ini, mending di marketing ato produksi gitu. Sama tingkat gajinya, beda tingkat pusingnya, chuy! Hehehehe :p)

1.  Dekomposisi Kimiawi Obat
a.       Oksidasi
Obat yang teroksidasi biasanya mengalami perubahan warna, karena biasanya oksidator menyebabkan reduktor  (lemah atau kuat)makin banyak memiliki ikatan rangkap terkonjugasi, sehingga warnanya makin jelas. Lihat saja pada keterangan gambar-gambarnya. Sistem kromofornya (ikatan rangkap berselang-seling) jadi lebih panjang.
·         Contoh pertama nih ya : produk Vitamin C bila kemasannya nggak rapat dan terlalu lama dibuka maka warnanya menjadi bintik-bintik kecoklatan. Tetapi, vitamin C murni memiliki warna putih, dan bila teroksidasi warnanya menjadi kekuningan.
·         Contoh keduanya adalah : obat tetes mata Epinefrin yang teroksidasi akan menjadi berwarna merah.
 
b.       Membentuk produk toksis, contohnya…
·         Tetrasiklin. Antibiotik yang satu ini sekarang sudah jarang digunakan karena diketahui memiliki efek samping yang fatal. Yah, semua antibiotic memang tergolong dalam obat keras. Maka penggunaannya harus dengan resep dokter. Tetrasiklin dapat memiliki efek yang fatal karena dapat berubah menjadi epianhidrotetrasiklin setelah termetabolisme di liver, yang nantinya akan mnengakibatkan Fanconi Syndrome. Apa itu? Yaitu kerusakan sel-sel ginjal.
Penyebab kerusakan ginjal antara lain : obat, metabolit obat analgetik, dan penyakit Diabetes Mellitus.
Efek samping kedua dari Tetrasiklin adalah menyebabkan gigi kuning sampai agak coklat, abu-abu (seperti gigi mati). Penggunaan tetrasiklin berlebihan pada balita, maka efeknya akan terlihat setelah si balita berumur belasan tahun dan perubahan warna gigi ini permanen! So, beware! Tentu saja bila ini terjadi akan sangat mengganggu etika dan estetika, mau keep smiling jadi susah…hehe. Apalagi buat cewek. Kalau cowok mungkin dikira dia perokok berat,  ya kan?
Nah, antibiotik yang sampai sekarang masih aman adalah derivat penisilin. Contohnya ampisilin, amoksisilin, penisilin G, penisilin H.

·         Benzil penisilin. Antibiotik ini bila terhidrolisis akan menyebabkan dia berubah menjadi asam penisilinat. Asam ini dapat menyebabkan alergi. Jadi ceritanya, obat yang biasanya menyebabkan alergi itu ada dua, yaitu derivat penisilin dan analgetik (parasetamol, aspirin, dll). Alergi ringan bisa berupa mual atau gatal-gatal (tergantung sensitivitas masing-masing orang). Sedangkan alergi berat bisa berupa shock anaphylaxis yang bisa sampai berakibat meninggal. Penisilin alam yang diperoleh dari Penisilium notatum diketahui dapat menyebabkan shock anaphilaxis.
Hasil sintesis penisilin alam adalah Benzil Penisilin, Ampisilin, Amoksisilin, Penisilin G, Penisilin H, yang kesemuanya mengandung cincin β-Laktam. Tanpa cincin ini, maka tak akan bersifat sebagai antibiotik. Bila cincin β-Laktam rusak maka akan menjadi suatu asam dan semuanya akan memiliki efek samping alergi. Parahnya, gugus aktif ini tak boleh dimodifikasi  karena merupakan gugus utama. Sedangkan rantai sampingnya (cincin benzene) juga dapat menimbulkan sifat alergi, akan tetapi rantai samping ini bukan gugus utama sehingga boleh dimodifikasi.
Perlu diketahui juga, gedung yang membuat antibiotic ini pun disendirikan. Hal ini untuk mencagah kemungkinan penisilin berinteraksi dengan obat lain dan untuk menghindari reaksi alergi pada pekerjanya. Pekerja pada bagian ini pun sebelum masuk diperiksa dulu, apakah menderita alergi atau tidak. Begitu…hehe

·    Asetosal. Obat ini dapat berubah menjadi asetosal anhidrat. Jadi mengalami reaksi anhidrasi alias kehilangan air. Sehingga tabletnya dapat mengeras. Apa yang terjadi bila tablet asetosal mengeras? Maka obat akan sulit terdisintegrasi di usus, dan lambat memberikan efek. Asetosal anhidrat ini pun kalau berefek juga dapat menyababkan alergi. Selain itu asetosal yang terhidrolisis membentuk asam salisilat dan asam asetat akan dapat mengiritasi lambung (ingat kan di lambung ada HCl yang dapat menghidrolisis obat-obat bentuk ester). Sehingga karena banyak kekurangannya, obat ini sudah jarang digunakan atau diresepkan.

1.  Dekomposisi Fisika Obat
Misalnya ditandai dengan tablet mengeras, dan ini pun tergantung dari zat aktifnya. Jadi, menjadi formulator itu pun juga diwajibkan pinter! Paham eksipien. Okay!
Tablet bila higroskopis menjadi rapuh karena mudah mengikat air di udara, bila tidak higroskopis bisa mengeras (mengalami anhidrasi) menyebabkan disolusi-disintegrasi di tubuh lama.
Contoh : fenitoin (obat Epilepsi, Na+ channel-Blocker), yang dipakai adalah yang bentuk garamnya karena biasanya untuk obat suntik. Jadi harus benar-benar larut dalam cairan injeksi. Garam fenitoin ini bila mengalami perubahan pH maka akan menjadi asam fenitoin yang mengendap dalam cairan injeksi. Padahal, obat untuk injeksi harus benar-benar jernih, tak boleh ada satu partikel kecil pun tak larut di dalamnya. Karena akan menghambat perjalanannya di pembuluh darah, partikelnya bisa menyumbat pembuluh darah (bahaya!)

source : Drug Stability Lecture with  Dra. Mimiek Murukmihadi, SU., Apt. (March 2011)