Selasa, 25 Mei 2010

Adoring Love Story of Habibie

We see things not as they are but as we are

In the west time, Onni Lika said “Tahu nggak sih, Ibu Ainun Habibie meninggal dipelukan suaminya…”

She was a great wife. That’s why her husband, B. J. Habibie, was so much taking care of her, adoring her wife till the end of her life. I don’t know how they are in personal, when they were youthful especially. Take an eye, as a great engineer, Habibie comes around the world at many times. Regardless, Mrs. Ainun must consent for her husband. But she didn’t will to take the distant. So where country there was Habibie, there was Mrs. Habibie as well.


Involving this statement, Ketika seorang wartawan bertanya tentang pendapatnya atas situasi di Timor Leste, Habibie hanya menjawab singkat. “Maafkan, saya sedang mencari di mana mantan pacar saya. Mana Ainun? Saya belum pernah pisah dengan Ainun. Mana Ainun?”, that would be so much meaningful statement for her wife.


For example in other situation, Mrs. Ainun Habibie used to rule all medicines or food supplements consumption of her husband which can support the activities, it’s all about paying attention to healthy.

Nevertheless, as we all know she just predeceased. Since Mrs. Ainun took a bed rest in the hospital, her husband never moved away. He was such faithful up to the last second she was breathing.


I just wonder, they should so much know how to romanticize relationship, they should have an adroit attitude. See, that’s not kinda easy to go through the state in the entire life. Particularly, you’ll just find it out whither among the adroit couples. And that’s for sure. They were not only intelligent in common sense but also in inner self. For warranty, we can prove it. It is full of dichotomies if one does not understand the method how to love correctly, right? ^__^


Ainun Habibie was a doctor, alumnus of Indonesia University. While B. J. Habibie is a great engineer which the fame is worldly. Though they had a cross profession, I think it didn’t abate the appropriateness. After all, all knowledge has been imagined at some point, no matter how fixed it may be at certain. I don’t know what Habibie thought about it. Miserable… If I were him, I wonder how very soon she leaved him. I’d be simply shocked at the blatant ways of the system, then hope for sincere.

I just showed you the true and only motivation for being alive as far as the vast majority of people on this planet are concerned. That’s a commendable story.

Sabtu, 15 Mei 2010

They Do Knotty Whim

Barusan aku dapat message “HATI-HATI penustaan agama, mulai lagi nih maen nggak sportif! Faa la’natullahi ‘alal kaafiriin”.

Kaget deh saya mendengar kata “maen” yang disangkut pautin sama masalah agama, apalagi Islam sebagai kedoknya (agama saya). Kenapa saya bisa kaget begitu? Tak lain dan tak bukan, “masak agama Islam dipakai buat main-main sih?”. Apakata Allah, hah?! Aku pikir, tentu aja Tuhanku pasti murka.

Kalau si orang-orang kafir ini main-main dengan agama kita, aku bakal bilang “Itu mah Wajar…!!”, dan dalam kitab suci Al-Qur’an sudah tertulis bahwa mereka memang akan dila’nat Allah TANPA KITA MINTA sekalipun. Udah tertulis sejak di Lauhul Mahfudz bahwa jatahnya orang kafir itu masuk neraka Jahannam!!


Yang aku herankan adalah, mengapa kita musti meladeni mereka yang bermain-main dengan agama kita? Malah kalimat di message saya itu menyiratkan bahwa kita seolah-olah terlibat dalam ‘permainan’ itu.

A’udzubillahimindzalik deeh..

Maaf ya, hidup saya tanpa permainan saja sudah cukup pusing dan banyak dosa.

Saya nggak mau menambah kepusingan dan membikin banyak dosa lagi!!

Apalagi dengan hal konyol, melibatkan diri dalam ‘permainan’ orang-orang yang dianggap kafir itu, permainan seperti itu??? Weeks!

Bila orang-orang kafir itu bermain-main dengan agama Islam ya biarin aja, toh mereka akan dapat ganjarannya sendiri kelak.


Sesuatu hal yang harusnya kita nggak boleh tinggal diam itu adalah bila mereka orang-orang terlaknat itu mengganggu kesejahteraan hidup kita di dunia, khususnya di Indonesia kita tercinta ini, dan terutama juga bila mereka menganiaya kita secara fisik. Itu artinya kita ada pertahanan diri. Nggak akan menyerang kalau nggak diserang. Bahkan dalam usaha pertahanan diri itu pun kita harus mengedepankan adab dan susila, menjunjung tinggi segala kebaikan yang telah diajarkan para nabi dan kitab suci. Dengan catatan, jangan sampai ya kita ini terganggu secara batiniah oleh mereka. Bodoh kalau sampai itu terjadi. Dalam hal ini menurutku, pikirkan juga panji-panji ke-Bhineka-an yang telah dibangun sejak nenek moyang kita dengan susah payah. Karena apa? Karena setahuku ada orang-orang seperti itu yang banyak menggunakan alasan Geopolitis! Dassaarrr…!! –jangan sampai yaa nasib kita jadi kayak Bangsa Palestina…!!


Yeah, sekali lagi, menurutku konyol bila kita sampai terlibat pada permainan orang-orang kafir. Buat apa cobba, Cuma menguras otak dan menghabiskan umur kita doank yang harusnya kita gunakan untuk ibadah kepada-Nya, sincerely and genuinely.!

Orang-orang kafir itu hidup di alam bawah sadar mereka, mereka nggak akan sadar tanpa hidayah-Nya.

Dan Dia hanya memberikan hidayah-Nya pada orang-orang yang dikehendakinya saja.

Beruntunglah kita, dan itu sudah lebih dari cukup, seharusnya kita bersyukur… Alhamdulillah.


*** ngomong-ngomong ini adalah entri ke-seratus-ku lhoow… Horray!! \(^__^)/ ***



Rabu, 12 Mei 2010

Nilai Pre-test, Oh!

Hari ini kuawali membuka mata dengan rasa cemas.

Dan taukah apa yang membuatku merasa cemas? Simpel.

Takut nanti nggak bisa mengakhiri hari dengan rasa puas dalam hati sekaligus gembira ceria!

Yah, berbagai hal yang “nggak seperti biasa” telah agak nyangkut dalam aliran hidup saya beberapa hari lalu. Ditambah cuaca udara Jogja nggak mendukung, takut sakit dan nggak bisa bergerak bebas selayak sehat.


Don’t you know, the most mainly affection of mine on this day is nothing but Synthesis of PGV-0 Pre-test! Yeah, how did it come? Karena hasil pre-tes sintesis organik-ku praktikum lalu hancur 2 kali. Dan yang parah, aku nggak nemuin alesan mengapa bisa hancur. Dua kali aku dapat nilai enem! Dan itu sempet membuatku shock! Dimana kredibilitasku sebagai asisten kimia organik kalau sintesis organik aja masih blo’on gitu?? Aku kira pre-tes yang lalu nggak sulit-sulit amat loh… semuanya ada di buku yang sudah aku baca semaleman dan akhirnya hapal di dalem kepala. Kok bisa dapet enem?? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.


Ehm, dan hari ini, kumantapkan sebagai perjuangan terakhirku karena di hari inilah kegiatan praktikum sintesis organik-ku berakhir dalam semester ini. Malam hari kemarin aku donlod jurnal habis-habisan tentang Pentagamavunon-0 temuan Prof. Jim –dosen saya. Karena inilah materi praktikum yang akan diujicoba ulang. Segala analisis diskoneksi dan mekanisme pembuatannya kusikat habis.


Dan tadi pagi, sewaktu pre-tes berlangsung, sempet deg-degan, takut pikiran dan memori nggak sudi kompromi. Beberapa yang keluar adalah tentang kepolaran yang dihubungkan dengan kebasaan antar gugus-gugus di senyawa organik. Haih! Sebel sesaat! Tadi malem aku nggak baca itu woooy…!!

Tapi ya dengan pemikiran pendek nan singkat karena waktunya yang sempit, akhirnya terjawablah semua yang ragu tadi dengan 30% ngawur.


Setelah pre-tes berlangsung, teman saya, Nella selalu mempunyai kebiasaan “nyegat” pak dosen buat diinterogasi jawaban-jawaban ,dari keraguan dibenaknya, yang benar secara teori. Karena Nella minta jawaban secara teori, maka Profesor Supardjan hanya menjawabnya dengan penuh teori pula. Hal inilah yang membodohiku! Dari jawaban teoritisnya Sang Profesor, dinyatakan bahwa aku salah 2 dari 10 soal. Padam nih muka, maunya kecewaaa aja. Mengapaaa aku nggak bisa menjawab dengan sempurna. Mengapaaa orang jenius itu selalu dibuntuti dengan kesempurnaan di tiap langkahnya. Seperti Nella, dia mahasiswa yang menurutku jenius bengeeettt. Pleasure of her, ckckck


Di tengah kekecewaan sepanjang praktikum berlangsung, mas Ajun (asisten kami), memanggilku dengan pelan : “SSStttT, niha, kesini bentar deh.”

“ada apa mas? Apa maserasinya salah?”, jawabku.

“Ah enggak, Cuma mau Tanya. Tadi pas pre-test alesanmu menjawab “sikloheptanon” itu apa?”, Tanya dia.

“hah? Apa ya… aku salah denger soal mas, kukira paling basa, ternyata basa lemah ya… jadi aku jawab sikloheptanon padahal harusnya siklopropanon…salah deh aku L”, keluhku.

“Salah? Heei! Yang benar aja, kamu benar kali. Sikloheptanon itulah jawaban yang bener. Bahkan kamu yang paling gedhe nilenya, 10! Artinya kamu tadi jawab bener semua…! Kok bisaa ni anak..”, timpalnya.

“are you kidding me, mas ajun?? Aku? Bahkan dari penjelasannya pak parjan, jawaban gugus metoksiku aja juga salah! Gimana bisa dapet 10 cobbaa?”, kagetku nggak percaya! How come??

Tapi di dalam hati, rasa bahagiaku menjerit! Gimana nggak, kalo nilaiku 10, berarti nilai dua praktikumku yang kemarin bisa terkatrol…donk.

Kemudian mas ajun menjawab semua keraguanku. Bahwa penjelasan Prof. Parjan ke Nella yang kuanggap benar tadi hanya teoritis belaka. Tahukah kalian? Di farmasi itu, segala kerja menganut hukum “Lege Artis”, yaitu, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan, perlu “buatan tangan sendiri untuk menghasilkan sesuatu yang sempurna”.


Tadi aku salah menganggap bahwa penjelasan Pak Parjan adalah harga mati. Tadi kan hanya secara “Teori”. Hmm ini pelajaran. Kita nggak boleh memandang sesuatu hanya dari satu sudut pandang. Dunia kan nggak Cuma selebar daun kelor…


Tadi itu, aku sedih 4 jam doank… sambil berpikir, gimana biar otakku agak tergantikan dengan otaknya Pak Profesor Kimia Organik itu, biar aku jadi jenius kaya dia, nggak sulit-sulit mikir dan melambungkan cita-cita buat jadi ahli Kimia Organik! Ahahahahh adddaaaa aja, bodo amat!


Akhirnya, hari ini aku bisa senyum kembali, setelah sekian lama dirundung kekhawatiran, cahaya itu datang lagi. Terimakasih, Komaweyo! ^__^

Sabtu, 01 Mei 2010

When April 2010 ends`'

Kututup kuliahku di minggu terakhir bulan April ini. Hari ini, hari Jumat. Telah kulewatkan waktu sehari ini meraga dengan kampus.


Sehari yang sungguh melelahkan… bukan, seminggu tepatnya. Seminggu ini aku kebagian shift praktikum 5x dalam seminggu. Bayangin aja yaa… 1x praktikum itu 4-5 jam harus betah stay di laboratorium. Jadi kalao 5x, ada 20-25 jam seminggu harus betah di laboratorium. Berkawan dengan teman-teman segolongan 20 orang, masing-masing kebagian tugas yang sama beratnya.

Berat? Yeah, berat banget tau nggak sih… urutan ranking praktikum dari yang terberat selama seminggu ini adalah :

1. Praktikum Kimia Produk Alam

Hari Selasa, 12.00-17.00. Disana, kita melakukan Screening Phytochemistry. Tugas kami adalah menentukan kandungan bahan kimia suatu simplisia (daunnya) pake reaksi-reaksi kimia gitu. Jadi kami harus mencampur-campurkan bahan-bahan kimia beracun agar teridentifikasi apakah simplisia itu mengandung glikosida, terpenoid, alkaloid, karbohidrat, dsb. Lima jam kami wira-wiri, berdiri, mondar-mandir, menunggu reaksi kimia usai, dan memperlakukannya sedemikian rupa sampai Uji Kromatografi segala, cuaaappeknyooooh masi terasa sampe sekarang.

Dan yang paling kaga nahan nih ya, adalah saat dimana kita melakukan maserasi (menyari) simplisia dengan Petroleum Eter, Eter, sama Etanol-Air. Walaopun udah ditutup erlenmeyernya, tapi bauknya masih aja tercium sama hidung. Masuk deh ke dalem tubuh. Pas praktikum berakhir dan turun tangga meninggalkan Lab, rasanya tuh kaya habis nelen berliter-liter bensin coba! Berasa pingin ambruk aja ragaku.

Parah, ada banyak kecelakaan terjadi saat itu. Tersangka pertama adalah Pita, sewaktu ekstraksi dengan corong pisah, tiba-tiba buntut tuh corong patah gitu karena terlalu kenceng gojognya. Padahal harga corong pisah, ratusan ribu gitu deh. Nggak berhenti sampe situ, lalu pas dia mau mindah ekstrak Petroleum Eter (PE), pyaaaarrrrr!!! Pecahlah Erlenmeyer, dan muncratlah ekstrak PE hijau di dalemnya… aduh Pita… I’m sorry to watch that, yang sabar ya pita… hiks jadi sedih deh kita.

Insiden kedua adalah because of Zahrul. Pas dia lagi nguapin ekstrak Etanol-Air dan ingin membenahkan letak cawan porselennya, tiba-tiba… Pyuurrrr….terjunlah isi di dalemnya dengan bebbas! Sepertinya isi cawan Zahrul itu nggak merasa ya kalo dia itu berharga sekalihihihihikkzz. Melihat ini semua, kelompok Zahrul merah padam, hmm kita pasang tampang empati gitu deh waktu itu, turut sedihlah, karena mereka harus mengulangnya. Once more, MENGULANGNYA dari AWWAL!!

Kukira, hal-hal seperti kecelakaan kaya gitu nggak akan mampir ke kelompok saya, karena kami telah dan akan sangat berhati-hati karena belajar dari pengalaman temen-temen. Tapi… OMMAIGAAADD, 30 menit kemudian kami mengikuti jejak mereka. Ekstrak Etanol ijo kami tumpah!!! Sekonyong-konyong tanpa dinyana kita diharuskan pasrah gitu… aduh ngalamat… mau tak mau harus nelen uap atanol lageee, :( udah lemes gitu bawaannya, nggak semangat lagi. Untunglah masih ada sisa yang nggak tumpah, jadi agak bisa dimanfaatin.

Di praktikum kali itu, ada banyak temenku dari kelompok lain yang bermasalah juga. Senada dengan kecelakaan di lab. Apalagi ditambah Nella yang sensi karena dia terkontaminasi banyak senyawa organik sama ketakutan kalo2 ada gelombang UV attacked her!

Yang terakhir, adalah Aku dan Ari Gunawan. Kami kebagian uji kromatografi bersama-sama untuk identifikasi kualitatif senyawa dari simplisianya. Jadi kami kerja bareng. Mulai dari notolin sampel, ngeringin, elusi, kenampakan di UV, sampe nyemprot lempeng pake reagen. Ari ini kerjanya lumayan baik, dan dia nurut-nurut aja sama segala opini yang aku usulin. Ari baik hati, Komabta! Yang salah adalah saat kami milih fase gerak buat elusi, hadooooowh…. udah setengah jalan coba. Kami nggak boleh sembarangan ganti lempeng karena satu lempeng harganya mahal. Dudul banget deh si Ari, diam-diam tanpa sepengetahuan asisten2 lab dia ngambil lempeng milik kami dan memindahkannya ke fase gerak yang benar. Hwahwahwah! Mana ada KLT ganti fase gerak di tengah jalan gitu… Jadilah uji kualitatif kami nggak valid.

Dan selasa sore, kami semua pulang dengan muka kayak mau pingsann…!

2. Praktikum Sintesis p-nitroasetanilida

Ini dia, praktikum yang kalah mengerikannya. Selain zat-zat organik beracun, kami juga harus berinteraksi dengan senyawa Asam-asam pekat yang notabene dapat melobangi kulit bila sampe kena. Karena salah satu langkah adalah Nitrasi, jadi harus mencampurkan 7,5 ml H2SO4 pekat + 4 ml HNO3 pekat di lemari asam. Dan yang bikin kami semua capek adalah tiap detik harus mantengin thermometer, gimana agar suhunya nggak lebih dari 10°C. Kemudian kami juga harus amat sangat bersabar meneteskan asam penitrasi setetes demi setetes sampe bermilimililiter pakai pipet agar reaksinya nggak terlalu eksotermis. Huaaaaah soouuwwwiiiii! Dari jam 7 pagi, jam 12 selese langsung capcus kuliah KPA, “tolooooonggg, kami kelaparan!”

3. Praktikum Bioanalisis

Di hari jumat ini lhoow kita action di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi Unit V! dan hari ini, kami semua bertindak sebagai algojo 5 ekor tikus. Oohh, I hate it! Selama ini kami cuma suntak-suntik intraparenteral aja tanpa harus mewafatkan tikus-tikus pake penggal kepala atau tarikan maut. Nah sekarang karena kami melakukan analisis sulfadiazine dalam sampel biologis, jadi mau tak mau tikus-tikus itu harus dibedah badannya setelah dipejanin sama sulfadiazine peroral dosis 150 mg/kg BB. Cara yang kami lakukan buat bikin tikus-tikus tak bernyawa lagi adalah dengan : leher tikus ditaroh di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri, sedangkan jari telunjuk dan jempol tangan kanan memegang pangkal ekornya. Kemudian apa? Ditarik deh sampe terdengar “KREKK!”, itu tandanya semua tulang belakangnya udah terputus, ruas-ruas yang berisi sarafnya patah semua. Yang perlu diperhatikan adalah menariknya harus dengan gerakan cepat dan kuat, agar tikus yang dikorbanin itu nggak tersiksa sekarat kelamaan. Kan kasian… aduh, ngliatnya nggak tega deh, swear!

Algojo pertama adalah Ari Gunawan, karena kelompok dia nggak ada yang berani, jadi dia turun tangan dewean. Tau nggak, seorang algojo itu diharuskan untuk TEGA SECARA TOTAL. Jadi nggak setengah-setengah. Salahnya, Ari hanya punya ke-tega-an setengah doank. Jadi walo udah ditarik-tarik tulang belakangnya dengan kuat tapi tikusnya nggak mati-mati. Sekaratnya lama. Aduuuh pemandangan yang bikin miris! Tikusnya tuh masih bisa kejang-kejang lama. Kan harusnya langsung mati.

Algojo kedua adalah Octav (kami manggilnya Gustavo, ahahahah berasa pemain telenovela!). Ini dia algojo yang penampilannya mirip surgery. Kemana-mana jalannya cepat namun pasti. Di lab pake jas lab, masker, sama sarung tangan surgery. Karena dia telah mendapatkan Algojo Award Cup. Hahaha gimana lagi, dialah yang paling tega mengeksekusi para mencit dan tikus, dan dialah yang pegang rekor terbanyak mengeksekusi hewan-hewan itu. Salut deh, tak ada dia maka praktikum bakal berjalan lebih lama. Dari 5 tikus, dia berhasil membunuh 2 tikus dengan kecepatan 5 sekon sadja! Satu yang lain dikerjakan Ari tadi, satu lagi didik (katanya pingin nyoba, dan berhasil), dan satu tikus terakhir dieksekusi Dedek.

Kemudian, teknik inisiasi pembedahan, Miss Nella-lah yang paling banyak melakukan karena katanya dia sudah terlatih di CCRC. Okay deeh We’re with you ajah. Kemudia kita ambil hepar dan ginjalnya, ditimbang, diulek, di tetapkan kadar obat sulfadiazine di dalamnya pake spektrofotometri metode Bratton-Marshall.

Praktikum Jumat ini berlangsung 5 jam tepat, jam 12 siang kami meninggalkan Lab dengan rasa kelaparan dan capek.

4. Praktikum TSFP Tablet Salut Gula

Di sini akami membuat tablet salut gula. Tablet ini dibuat karena pembuatannya beda dengan tablet biasa yang hancurnya di lambung. Tablet ini nanti –kalau hasilnya bagus, hancurnya tuh di usus halus bukan di lambung. Langsung aja ya, kemarin yang kami lakukan itu adalah Polishing (mengkilapkan) tablet salut biru –hampir jadi- yang sudah kami warnain biru di minggu kemarin. Polishing-nya pakai kloroform! You know cairan pembius? That’s a kloroform actually. Habis itu, jadi deh tablet salut kita, warnanya biru blentong-blentong… hahaha kami nggak punya seni indah mewarnai tablet kali ya, sehingga warnanya jadi nggak homogen. Trus yang kami lakukan selanjutnya adalah melakukan uji kerapuhan, uji kekerasan, uji waktu hancur, dan uji keseragaman bobot. Ini dilakukan biar diketahui apakah kualitasnya bagus.

Hasilnya adalah Tablet kami nggak jelek-jelek amat.


Tara....!!!


5. Praktikum Farmakokinetika

Ini adalah praktikum yang paling menyenangkan dari 5 praktikum seminggu ini. Karena apa? Kami nggak praktikum basah, yang kami lakukan adalah praktikum kering. Jadi kami dikasih data kadar obat di dalam tikus versus fungsi waktu, disuruh ngitung parameter-parameter farmakokinetiknya. Di sini kita harus canggih membuat kurva semi-logaritmik, biar perhitungan yang dilakukan itu tepat. Jadi entar, bila kita menghitung dengan benar, kita akan tahu perjalanan obat di dalam tubuh, kita dapat memperkirakan, kira-kira pada jam sekian setelah obat diminum itu si obat lagi ngapain. Apakah sudah terabsorpsi usus halus, berapa lama ia berada di dalam darah, berapa lama ia akan di keluarkan dalam tubuh, berapa kadar obat utuh yang terekskresi lewat urin, dan lain-lain banyak lagi.

Wahahaha… bakalan jadi ahli obat beneran nih. Harus bisa ngitung kayak gitu tuh... Dengan begini kami para farmasis dan calon farmasis tak perlu diragukan kemampuannya menghitung dosis dengan tepat. Karena keahlian farmakokinetik mengantarkan pada pengetahuan seberapa besar dosis obat yang dibutuhkan pasien agar bisa sembuh dan nggak mengalami overdosis.

Kami menghitung dengan cepat. Dalam 1 jam, perorang dapat menyelesaikan 2 paket data dan semakin mahir cetak-cetik kalkulator. Akhirnya kami pulang jam 13.00. I made my day!! :)



Semua berjalan dengan lancar. Semoga yang kulakukan selama ini bukan hal yang nyampah. Akhir minggu yang menyenangkan karena dilengkapi dengan rasa syukur saat ini masih bisa menghirup udara dengan bebas dan masih bisa hidup dengan sehat-sehat saja. Alhamdulillah… semoga akan terus begini.