Minggu, 19 Juli 2009

One of My Friday on July

Ini adalah kejadian hari jum’at tanggal 17 Juli kemarin. Tebak deh , kira-kira aku mau cerita apa ya? Di bawah ini ada paragraf-paragraf rahasia, yang kuhadiahkan untukmu semua, sebagai bingkisan liburan! Silakan dinikmati, jarang-jarang lho aku ngasih hadiah kaya gini..hehehe enjoy on.

Ceritanya, hari itu ada rencana untuk ngampus, karena ya memang ada keperluan. Kalau nggak ada hal yang penting, nggak bakal deh aku sekonyong-konyong mau dolan ke kampus liburan gini. Entah kenapa aura kampus berpotensi membuat kepalaku terasa berat, leher pegel-pegel, pasang tampang muka serius (waaah bukan aku banget! Beneran) yang bikin capek kening mata, serta harus siap setiap saat mendapat tugas yang hwooooaaaam mallessss buat dipikir dan digarap.

-(Wah kok aku malah buka kartu gini. Jadi ketahuan kan aku mahasiswa kaya apa…. Kesannya kok nggak bersyukur banget, nggak ikhlas banget, ato apalah. Tapi teman-teman, itu hanya sebagian kecil masalah, masih bisa aku atasi! Kiranya nggak hanya aku, ada banyak teman-teman sekampus lain yang bahkan mempunyai kesan yang lebih mengerikan. Yang penting nggak banyak keluhan, one of the solution.)-

Nah, selanjutnya. Hari itu agenda pertama adalah untuk membawakan handout Farmakognosi dan Biokimia bagi salah seorang senior yang kebetulan sedang akan remed mata kuliah tersebut. Maklum, pinjam meminjam handout gini sudah biasa di kalangan kami. Aku juga suka minjem handout punya teman sih sebenarnya, tapi biasanya pada waktu semingu menjelang UTS atau UAS doank. Buat dibaca-baca seperlunya, malah sok kadang cuma pinjem aja nggak tak baca, hla wong waktunya aja mepet banget. Mana ada handout setebal masing-masing 400 sampai 600an halaman kelar dalam waktu seharian. No way! Sulit dimengerti lagi bahasanya, apalagi yang versi UK atau Netherland…wuyh sangarrr aku kalau sampai ngedonk. Dan senior yang sedang pinjem handout ini adalah contohnya. Malahan dia minjemnya dua hari sebelum ujian. Tarohan pasti the hand out would be just the next friends of the head in bed…hahaha dasar. Setelah aku bertemu sang senior di sekre BEM dan menyerahkan pesenannya kami pun ngobrol barang sebentar sambil nunggu pak bendahara datang membawakan LPJ buatku yang tumben katanya sudah beres dengan bagus (Siiippo! Biasanya kerjaanku selalu ditolak dengan alasan nggak pernah perfect. Teorinya, jadi bendahara harus jual mahal kalau mau slamet. Mmmh teori engkong siapa tuh!).

Lalu agenda kedua adalah refresh aura kampus dalam otakku sebentar, ngenet-online-atau apalah itu namanya. Kupilih perpus sebagai setting. Sepi, pada pulang kampuang sih. Wah nggak enak bener. Kok aku lebih suka kalau perpus ramai ya daripada sepi. Mungkin karena aku suka mengamati orang-orang pada ribut sok sibuk kali ya, rasanya gembira sekali. Biasanya aku ikut-ikutan hanyut dalam arus sok sibuk tersebut. Berlagak nyari-nyari buku tebal, lalu membukanya di tengah meja nan panjang dan mendiskusikan isinya dengan teman-teman. Waaauw, berasa jadi mahasiswa sejati!! Hahah obsesi seperti apakah itu? Hmmm. Aku berkawan dunia maya kira-kira dua jam-an nyari tugas yang belum kelar, food supplement, dan mengirimkannya ke Kadep lewat surat elektronik. Selesailah satu beban, tinggal dua. Sebenarnya mau aku selesaikan hari itu juga, tapi ternyata aku nggak ketemu partner di kampus. What to be done. Keluar dari perpus jam 11-an karena diusir oleh penjaganya pake bell berdering dengan alasan waktunya jumatan. Wah… kampus memang benar-benar sepi. Aku nggak pernah suka kampus farmasi yang selalu sepi. Nggak libur, nggak masuk, nggak pagi, nggak siang. Sepi adalah kesan tersering yang hinggap di otakku. Mari aku beri tahu alasannya, yaitu karena civitas akademikanya hanya sibuk di dalam ruangan. Kalau nggak di kelas ya di laboratorium, dari pagi sampai sore, dari senin sampai jumat, dan bergilir. Buanyak kendaraan yang parkir namun nggak ada orang di halaman, serasa di telan udara deh. Selain sepi mungkin angker adalah kata yang tepat. :p Nggak kayak di MIPA, teknik, atau kampus Bulaksumur yang selalu ramai, paling nggak ada beberapa oranglah di halaman. Lha farmasi paling cuma satu atau dua orang yang kalau aku lihat biasanya sedang melangkah buru-buru kebirit masuk ruangan…hhhh. Weirdo, maybe just like me ya.

Lalu aku cabut dari kampus ngacir ke fotokopian langganan dekat selokan mataram, murah soalnya. Fotokopian yang lain biasanya kejam kalau ngasih harga. Hidup di kota besar walau nggak sebesar Jakarta harus pinter-pinter milih toko biar uang di dompet nggak cepat hilang ditelan kebutuhan. Nah di fotokopian itu aku membukukan bahan kuliah dari para dosen semester II yang kalau diukur tebalnya sudah mencapai 10-15 cm. Sebelumnya berantakan banget tercecer di kamarku, bikin kakakku teriak-teriak tiap pagi. Akhirnya setelah dijilid pake kertas warna-warni, rapi juga tampilannya. Good girl… hehe.

Sampailah pada hal konyol cerita. Langsung saja, sehabis dari fotokopian tadi aku pergi ke perpustakaan pusat buat pinjem buku Pram berjudul Bumi Menangis (sudah lama pingin aku baca… L tapi nggak pernah jadi). Buku kayak gitu kan nggak mungkin ada di perpus farmasi. Nah di pos satpam aku tanya Pak satpam apakah kalau jam-jam jumatan gini perpus tutup? Pak satpam-nya bingung. Aku pikir nggak dengar suaraku kali ya, mungkin terlalu pelan. Aku ulangi lebih keras pertanyaanku. Pak satpamnya tambah bingung, malah menawari aku masjid buat ikut jumatan! “Haduuu…bukan itu maksudku Pak”, I said. Lantas pak Satpamnya memanggil dua satpam lain. Dan akhirnya aku mengulang pertanyaan yang sama. Parah! Ketiga satpam itu itu pun juga nggak ngedonk sama pertanyaanku. Heemmm…sabaaaar. Lantas aku mengubah pola kalimatku supaya lebih terang seterang matahari kala siang itu, dengan mengganti kata ‘perpus’ dengan kata ‘perpus pusat’. Dan apakah yang terjadi? You all can imagine the scene. Let me tell you that, Pak satpam bilang bahwa aku sedang berada di kampus kedokteran hewan! You know, kedokteran hewan! Oh oh oh dan ternyata perpus pusat ada di gedung sebelah. Duh, rasanya pingin langsung ber-disapparate saja waktu itu…mati gaya dah aku, gimana mau nyembunyiin muka coba?? Untung aku masih sadar, sehingga aku masih sanggup mengambil gaya yang tersisa di otakku untuk aku pentaskan di panggung drama kekonyolan yaitu di depan ketiga satpam, acting deh aku… ya biar kagak malu banget-bangetlah setidaknya. Dan waw! Ternyata ada penonton lain, seorang mahasiswa. Selamat! Semakin banyak penonton semakin cihuuuui! Tampang mahasiswa itu terlihat benar-benar membahasakan kalau, “ Masak mahasiswa UGM kagak tau perpus sendiri dimana?? Yang benar aja! Parah banget sih…” dan kubalas dengan tatapan, “Siapa suruh, gedung kampus kok sama kaya gedung perpus! Nggak kreatif banget sih. Nggak ada gaya lain po? kaya miskin arsitek aja.

Akhirnya aku mengurungkan niat untuk meminjam buku Pram. Trauma. Jangan-jangan nanti aku salah masuk gedung lagi, gedung MIPA Selatan (Milan) adalah salah satu gedung lain yang punya gaya eksterior dan interior sama dengan gedung perpus pusat. Kagak mau aku malu lagi. Benar-benar nasib. Tungguin aku ya Pak Pram, bukumu pasti berhasil takbaca… suatu saat nanti.

Kamis, 16 Juli 2009

My Silly Theory

1. Mengutip kalimat yang baru-baru kemarin aku tulis, ”Untuk menjadi diri sendiri adalah dengan menjadi orang yang tidak terlalu hebat”.
2. Kalau kata seorang teman, ”Mending menjadi diri sendiri dan menjadi orang yang hebat”. Kenapa harus nggak terlalu hebat? Kan nanggung banget.
Sebenarnya apa yang dikatakan temanku tersebut nggak bisa dikatakan salah juga juga sih, at least menurutku. Kalau menurut orang-orang kemungkinan besar malah akan lebih condong pada kata-kata temanku itu, lebih membenarkannya. Dan di lain sisi aku pun juga sependapat. That’s not irrelevant. Tapi kalau boleh aku katakan pendapat kami muncul dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Bagaimana? Here it is.

Menjadi diri sendiri dan menjadi orang yang hebat. Siapa sih yang nggak ingin demikian? Semua orang pun menginginkannya. Apalagi seseorang yang dalam hidupnya sedang mengalami fase pencarian jati diri (Anak muda beghitcu deh..!). Sekarang pertanyaannya, bagaimanakah prosesnya? Caranya? Nah disinilah perbedaan kalimat pertama dan kedua di atas. Kalimat pertama lebih memaksudkan pada the way, Sedang kalimat kedua lebih mengisyaratkan pada the result.

The next question arises, mengapa dipilih ”dengan menjadi orang yang tidak terlalu hebat”? (Tapi kan pada pasal 28 UUD ’45 pendapat warga sipil mendapat perlindungan hukum!, walaupun alesannya konyol sih..ahaha).
Setelah membaca sebuah buku yang aku lupa judulnya (maaf yah, ingatanku parah :D), kemudian membayang-bayangkan banyak hal, dan akhirnya berkesimpulan nggak jelas seperti tersebut di atas bahwa menjadi orang yang nggak terlalu keren atau terlalu hebat adalah sebuah pilihan yang menarik buatku. Tak bisa dipungkiri juga kalau umur 18 menjelang 19 tahun ini adalah masuk dalam range fase labil yang memerlukan banyak pedoman teori supaya tidak salah langkah.

Let you come into my eclipsing mind. Begini, aku pikir bahwa orang lain, teman, pak guru, bu guru, kakak, pokoknya orang-orang di sekitar maupun yang nggak di sekitar itu semuanya adalah manusia yang hebat. Setidaknya mereka bisa menjadi apa yang mereka inginkan, memperoleh apa yang mereka sukai (walau tidak semuanya tentu), paling nggak kalau menurut kita maka kita akan mengatakan ”Waaaow, He’s amazing!”, ”She’s great!”, ”What a perfect girl (or guy)!”. Sering kan kita membatin demikian? Yes, we really do. Mereka hebat dan menawan di mata kita. Apabila kita menyadari, sebenarnya mereka itu motivator ataukah inhibitor kita dalam mengungkap siapa diri kita sebenarnya? Bisa jadi keduanya. Disinilah kehati-hatianku muncul.

Yah, orang lain memang hebat, bisa ini itu, sempurnalah. Hal ini berpotensi membuat seseorang minder, mematikan ekspresi, atau malah meniru-niru gaya mereka yang hebat. Orang lain tetaplah orang lain. Bukan diri kita. Kehebatan yang dimiliki orang lain relatif terhadap orang satu dengan orang lainnya. Dalam keadaan yang seperti ini tidakkah kita berfikir bahwa, sssssttt...sebenarnya banyak lho orang-orang yang tengah mengidolakan kita dan menganggap kita ini hebat! (sedikit narsiz nggak papa..hhe).
Parameter kehebatan yang dimiliki orang lain menurut mata pandang kita tentu berbeda dengan parameter kehebatan menurut mata pandang orang lain.
Banyak orang yang kita anggap hebat dan kita menginginkan seperti mereka, itu wajar. Namun dibalik itu semua, telah ada berdiri dengan anugerah sebuah jasad ber-ruhkan jiwa yang tidak sama dengan para jiwa lainnya. Orang lain memang hebat, dan kita memiliki kehebatan tersendiri yang tidak dimiliki orang lain. Walaupun tidak hebat menurut kita, namun biarlah. Bagaimana pun inilah kita, diri kita sendiri. We have our own style. Aku yakin orang yang rendah hati memiliki konsep pemikiran yang mirip seperti ini..hehehe.

Haduu...sulitnya. Pokoknya that's all, my silly theory hahaaha, -- what if I were wrong, so just be mine --
Ancur dah mikir kaya gini. Siapa gue?? (pake gaya Jojo - red).
Ngitung kadar obat aja setaun selalu nihil (kagak ngerti juga sih kok Kimia Analisis bisa dapet A yah??? Perlu dipertanyakan dan me-ra-gu-kan!!haha but I'm thankful).
Bukan apa-apa sebenernya aku menulis hal kaya gini, iseng saja. Liburan di tahun pertama kuliah ini memang banyak rencana yang nggak kelakon. Apa mau dikata, banyak sistem yang nggak mendukung sih. Jadi bingung mau ngapain. Di rumah boooooorrring banget, bikin nggak mood ngapa-ngapain, banyak waktu yang astaghfirullah kebuang sia-sia kukira. Pingin ikut kegiatan kampus tapi kok monoton, pingin kerja tapi kerja apa, pingin diskusi ma teman tapi takut ganggu, pingin tidur ngrasa bersalah, pingin baca tapi mata lelah, ini salah itu salah.
Akhirnya nulis ancur-ancuran kaya gini.
Sebenarnya pingin juga sih nulis artikel berguna tentang kefarmasian. Tapi masalahnya aku ini belom tahu menahu dan belum berbobot mengenai hal-hal keren kaya gitu. Daripada salah, mending nulis hal lain. Contohnya ya akhirnya kaya yang di atas itu. Hhhhh

Okay, buat kalian yang lagi liburan dan punya waktu berguna selamat deh!
The last words, Have a good time. :)


Kamis, 18 Juni 2009

Know is Better

Ketika aku tidak tahu,
aku ingin tahu
Dan setelah aku tahu,
aku menyesal
Namun begitu aku tetap harus tahu.

Karena aku tidak mau,
ketidaktahuanku lebih membuatku menyesal.

Jadi,
Bantulah aku untuk tahu
sampai batas itu
dimana dimensiku tak lagi mampu
memberi sejuta titik untuk aku tahu.


Yang di atas itu lebih tepat disebut syair atau sajak yah?

Yang jelas kata-kata di atas terinspirasi dari dua orang, mereka adalah abah Hanafi dan mas Ijeps yang baru sebulan lalu aku mengenalnya.

Dari sewaktu aku kecil dan besar di rumah abah Hanafi, beliau selalu berkata akan petuah-petuah hebat yang tidak semua orang mau dan mampu buat mengatakannya padaku. Umumnya yang beliau katakan itu adalah sebuah hal yang berhubungan dengan tasawuf. Sewaktu aku kecil, mana aku tau tasawuf itu apa?.

Walau begitu, ketika sedang duduk sambil menyulut rokok di kursi, bersama anak-anaknya abah Hanafi selalu berkata. Berkata….dan berkata. Ntah didengar ntah tidak. Ntah ditanggapi ntah tidak. Yang beliau katakan itu bukanlah sebuah kritikan atas segala tingkah anaknya yang nakal-nakal dan tak mengerti aturan hidup, pun bukan pula sebuah larangan-larangan untuk tidak melakukan ini atau itu, (atau mungkin malah sindiran ya? :D).

Tetapi yang beliau katakan adalah lebih tentang sesuatu untuk kami tahu.

Dan akhirnya aku membuat suatu kesan tersendiri mengenai abah Hanafi, tak lain dan tak bukan adalah “He’s a great father”, I say.

Abah Hanafi pernah berkata, “Wong sing salah gara-gara rangerti kui ra dosa. Wong sing salah tur ngerti, kui dosa banget. Ana meneh, Wong sing dasare wegah ngerti lan ra nduweni usaha nggo ben ngerti, kui jenenge wong sing rugi.”

Dan abah Hanafi menjelaskan lagi kalau orang yang rugi itulah orang-orang yang hatinya jarang bersyukur. Sudah diberi hidup kok malah nggak pengen hidup..hahaha Beliau menjelaskan hadits dengan bahasa jawa-arab yang kira-kira bunyinya dalam bahasa indonesia seperti ini,

“Mencari ilmu di mata Allah lebih baik ketimbang salat, puasa, haji, umrah, jihad di jalan Allah”

Entah perawi-nya siapa aku tak ingat. Yang ingin ditegaskan hadits disitu adalah betapa pentingnya ilmu bagi seorang muslim, apalagi mukmin, apalagi muttaqin. Sampai-sampai Rosululloh bersabda demikian.

Aku mengerti, abah Hanafi ingin menjadi ayah yang baik di mata anak-anaknya (walaupun terkadang anaknya tak menyadari hal itu, I’m sorry pha...), terlebih juga abah Hanafi ingin menjadi manusia yang baik di mata Tuhan-Nya.

Karena itulah, aku ingin menjadi anak yang baik pula bagi abah Hanafi...semoga.

Abah Hanafi tiap pagi sehabis shubuh selalu membaca buku yang tak aku mengerti bahasanya, entah beliau belajar darimana karena aku tahu beliau tak sekolah tinggi sebagaimana profesor dan para kyai itu. Tapi beliau menegaskan bahwa siapa saja bisa menjadi gurunya. Tak harus seorang profesor di kampus-kampus tua. Yang penting ada kemauan untuk ’tahu’ agar tak menjadi orang yang merugi hidupnya. Guru bagi para penuntut ilmu di dunia ini banyak. Tak terbatas. Bahkan tak terhingga. Jumlahnya bertambah terus. Soalnya tidak ada ”mantan-guru”. Yang ada adalah ”yang sedang menjadi guru” dan ”yang akan menjadi guru”. Itu prinsip, katanya.

Saya akui, abah Hanafi adalah manusia dan ayah yang bijaksana... subhanallah.

Dan sifat itu menurutku didapatkannya dari kajian tasawuf dalam buku-bukunya.

Sebagaimana yang pernah dikatakan abah Hanafi, bahwa seseorang yang telah mengaku muslim hendaknya tak bisa lepas dari ilmu tasawuf. Tidak harus seorang sufi yang mengerti tasawuf, tapi muslim biasa pun harusnya mau mempelajarinya. Tasawuf bukan bagian dari Rukun Islam, tetapi ia merupakan bagian dari rukun akhlaq. Dan ’Abdurrahman Al Qina’i pernah ngendiko ”Islam adalah agama ilmu, pekerjaan, dan akhlaq. Barangsiapa meninggalkan salah satunya, ia akan tersesat jalannya”. Suatu laku tasawuf, itu seharusnya tak menghalangi seorang muslim untuk melakukan aktifitas usaha maupun dagang (pekerjaan) sebagaimana yang dilakukan Baginda Nabi SAW.

Hloooh yang dibahas disini ilmu apa tasawuf sih? Maaf jadi nglantur. Kalau menurutku, mensikapi tentang ”adanya ilmu” itu sendiri adalah suatu perilaku tasawuf. Hal-hal mengenai tasawuf yang ada di tulisan ini adalah penjelasan saja sebagaimana abah Hanafi mengajari anak-anaknya bagaimana hidup itu dengan suatu pendekatan tasawuf agar apa yang disampaikan menjadi bijaksana dan penuh hikmah.

Intinya, marilah kita memperbanyak ilmu agar tidak menyesal dan menjadi orang yang merugi. Setelah mendapatkannya, jangan lupa mengamalkannya. Dan dalam mengamalkannya, jangan lupa berlaku tasawuf. Supaya hidup kita sempurna di mata Yang Maha Sempurna.

InsyaAllah...

Jumat, 22 Mei 2009

Embun Sebelum Cahaya

“Miss Niha, coba deh dengar itu”, Miss Lan menunjuk radio kecil di kamarnya. Dan aku mendengarkannya. Sebuah lagu pop yang dinyanyikan salah satu band Indonesia. Memang lagunya unik, tapi syairnya tak dapat kumengerti. “Dengarlah manuver-manuver nadanya…maka kamu akan mengingat sesuatu yang baru saja kamu dengar. Itu mengingatkanku pada desa asramaku di Sukabumi. Pagi disana begitu khas, udaranya… Embunnya…”, Jelas Miss Lan. Dia adalah temanku di asrama Genta Female dulu.

“Bentar, aku baru saja mendengarnya? Kapan?”, tanyaku.

Dia mengernyitkan dahi, “Coba deh kamu ingat tadi pagi, apa kamu mendengar siluet irama seperti lagu itu? Walau tak sama persis setidaknya kan hampir mirip Miss Niha??”.

“Ooooh ya! Aku menemukan irama itu dalam memoriku. Benar Miss Lan. Ada tadi Pagi, barusan. Lagu Marawis yang dibawakan Zaki di pentas teatrikal Shubuh tadi itu tah? Memang… benar-benar mirip. Apalagi bagian intronya. Kira-kira Marawis tadi judulnya apa ya? Sayang bener kalau aku tak tau. Lha lagu yang di radio itu judulnya apa Miss?”, Jelas dan tanyaku begitu nglantur..

“ Yah, kata DJ-nya sih itu lagu barunya Letto. Judulnya ”Sebelum Cahaya”…

Kira-kira begitulah awal kisah aku mengenal lagu “Sebelum Cahaya” –nya Letto. Aku menganggap irama lagu itu adalah transkrip dari irama marawis yang dibawakan oleh Zaki dengan paduan gitar dan rebana sebagai persembahan terakhir baginya untuk teman-teman para penuntut ilmu di Asrama Genta. Karena pagi hari usai acara itu berlangsung, dia langsung bertolak dari Pare ke Surabaya. Karena kontrak belajarnya sudah habis. Jadi… tak adalah kesempatan bagiku untuk menanya kira-kira apa judul marawis itu? Begitu unik dengan pembawaan yang mengagumkan. Petikan gitar dan tabuhan rebananya sangat sempurna. Irama itu masih mengalun-alun lembut di hati, entah sampai berapa hari aku tak ingat.

Dan akhirnya irama lagu Sebelum Cahaya menggantikan irama indah itu sampai aku tak ingat lagi bagaimana. Waktu itu aku tak suka dengan lagu Letto yang satu itu. Karena telah merampas tempat di otakku yang kuperuntukkan untuk lagu marawis perpisahan itu. Apalagi aku tak mengerti sama si Author Sebelum Cahaya. Lagunya begitu rumit. Aku tak mengerti jalan ceritanya. Apalagi setelah melihat videonya. Maksudnya apa? Kupikir agak nggak nyambung. Mana itu “perjalanan sunyi”? Dan siapa yang telah menempuhnya? Kurasa gadis dan laki-laki yang main kejar-kejaran di kebun itu tak menempuhnya.

Tetapi… setelah menjelang dua tahun sekarang, kupikir aku mulai menyukainya. Dan ini gara-gara seorang temanku. Dia mengajakku ke sebuah tempat yang menunjukkan kebebasan memilih, kebebasan bepikir. Tempat dimana waktu itu kita semua yang hadir disitu adalah seorang jiwa dan menjauh dari jasad masing-masing. Disana, aku bertemu sang author lagu-lagu Letto, kudapati semua maksud yang tersembunyi dalam lagu-lagunya. Sebelum Cahaya adalah salah satunya.

Ternyata, lagu itu adalah diperuntukkan bagi Ayahandanya tercinta. Sepenuh hati ia menyusun kata demi kata dalam liriknya. Iramanya adalah irama waktu di kehidupan yang tak semua orang mengalaminya. Ayahandanyalah yang menempuh perjalanan sunyi itu dengan hati yang penuh mimpi. Berharap menemukan Cahaya dalam misbah di kalbu. Ia berharap ayahandanya selalu mengingatnya dalam pencarian Tuhan-Nya, sebagai embun pagi bersahaja… sebagai angin yang berhembus menyejukkan jiwa. Ia ingin ayahandanya kuat dengan adanya. Ia ingin menjadi anugerah yang sebenar-benarnya, dari Tuhan yang selalu ia dan ayahnya rindukan.

Kini aku mengerti apa maksud Sebelum Cahaya itu. Bagi author, Cahaya disitu tidak lain adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Sang author adalah fisikawan dari salah satu universitas di Kanada. Dan paham betul konsep dan seluk beluk cahaya yang ada di alam raya ini. Katanya, cahaya adalah sesuatu yang tak punya massa namun punya energi dengan frekuensi dari rendah hingga tinggi yang bisa bergerak dengan kecepatan yang tak tertandingi. Namun begitu, ini adalah analogi manusia dan para sufi saja. Agar akal kita tidak kelewat batas, seringkali analogi-analogi tersebut diperlukan. Karena bagaimana pun, kita tak akan bisa membandingkan kehidupan dunia dengan akhirat. Karena dunia itu bagai setitik air di samudra yang sangat luas.

Satu hal yang kutanya-tanya telah kudapatkan diperdagangan sepanjang malam itu. Jam 04.00 pagi acara itu selesai. Di tempat parkir, kudapati sepeda motorku basah. Bukan karena hujan, tapi ternyata embun telah menampakkan dirinya. Takjubku tiada usai sepanjang hari itu. Karena baru kali itu ketika aku melihatnya sebelum cahaya ia begitu menyejukkan jiwa. Di sepanjang jalan pulang, jalanan begitu sepi, lengang, dan gelap. Jalan raya Bantul-Jogja seperti karpet hitam besar yang menyambut perjalanan kami para jiwa baru. Rasa-rasanya... Jogja shubuh itu hanya milik aku dan teman-temanku saja.

Senin, 09 Februari 2009

Our Reflection (Part 2)

Sadarkah kita walaupun cermin memantulkan bayangan yang sesuai dengan apa adanya, namun tetap saja ia subjektif. Kenapa? Karena kesimpulan akhir yang terungkap dari cermin itu tentu saja dikeluarkan oleh orang yang bercermin. Ketampanan, kecantikan, dan bayangan seindah apa pun yang terpantul dari cermin itu tentang diri kita tetap saja merupakan sesuatu yang tidak obyektif. Lantas, siapakah cermin sejati itu?

Ini sebuah kenyataan yang harus kita terima bahwa orang lainlah tempat terbaik untuk menilai diri kita, sebab penilaian orang lain relative lebih obyektif. Karena bagaimanapun, orang lain relatif lebih terbebas dari nilai-nilai ego yang begitu kuat mencengkeram kita.

Namun, keobyektifan itu bernilai mahal dengan kerelaan kita menerima penilaian bukan hanya yang bernilai positif tapi juga yang bernilai negative, mahal karena jarang orang yang berlapang dada mau menerima kekurangannya, namun ia akan bahagia bila hal sebaliknya dilakukan.

Padahal mengelola refleksi diri berupa kritik akan mengantarkan kita menjadi pemimpin yang semakin hari semakin memiliki kualitas diri mnimal untuk memimpin diri sendiri.

Hal ini karena hakikat kelapangan dada untuk menerima kritik adalah parallel dengan usaha kita melakukan perbaikan dan peningkata kualitas diri.

Budaya bercermin seharusnya kita kembangkan dalam diri melalui upaya-upaya saling mengingatkan antar kita melalui media-media yang ada, salah satunya dalam suatu kinerja tim, dan dalam pergaulan kita sehari-hari. Jadikanlah upaya saling mengingatkan sebagai sarana kita untuk menjadi orang yang lebih dewasa dalam bersikap dan berhati-hati dalam bertindak. Mengingat kita semua adalah makhluk yang lemah dan jauh dari kesempurnaan. (-setuju??????-)

-Terimakasih untuk tim HSC Human Anatomofisiologi FA UGM yang tak kenal lelah membahasakan kuliah yang lalu, handout-nya sangat membantu.. -

Our Reflection (Part 1)

Dalam kuliah Kimia Farmasi Dasar November lalu, Dr. Ritmaleni yang baru saja memperoleh gelar Philsaphato Doctoral, menyampaikan pengalamannya waktu stay di Bristol Inggris. Bahwa disana itu menghargai orang berbicara adalah sebuah tradisi yang dijunjung tinggi nilainya. Berbeda dengan disini, bahwa yang seperti itu hanyalah menjadi sebuah ungkapan tata karma saja. Tidak ada realitanya.

Ditambahkan juga oleh Bapak Mitrayana, Dosen Fisika Farmasi, bahwa untuk menghasilkan karya yang besar dan fantastis, maka seseorang itu harus banyak membaca dan mendengarkan. Karena dari sebuah perkataan yang sepele dapat memunculkan kejayaan suatu peradaban. Entah bagaimana saya juga tidak terlalu tahu, karena waktu terlanjur membatasi kuliah kami waktu itu. Tapi Pak Mitra ngendiko, bahwa sebuah perkataan adalah sebuah informasi yang harus kita cerna baik buruknya. Intinya hargailah orang berbicara.

Dapat kita lihat sewaktu inauguration Barrack Obama sebagai presiden USA yang baru, ketertiban itu terlihat di saat sang Presiden berbicara maka rakyatnya diam dan mendengarkan dengan seksama. Berbeda dengan disini, sewaktu di dalam majelis, bila ada seseorang menyampaikan orasinya maka yang seharusnya mendengarkan malah sibuk sms-an, ngobrol dengan teman sebelahnya, berbisik-bisik, lebih parah juga ada yang tertawa-tawa dan becanda sendiri. Hal ini juga terjadi di majelis tinggi NKRI sewaktu sidang paripurna. Ketika sang ketua majelis memimpin rapat, para anggota dewan malah enak-enakan tidur, mengaca untuk berhias. Whaww!! Ternyata komplit banget, tidak rakyat, tidak juga wakil rakyat, tetapi semuanya. All walks of life… Wahai teman-temanku para mahasiswa dan para pembaca sekalian, janganlah hal ini terjadi pada generasi kita. Ironis juga, kita kan orang Jawa, orang timur yang mengunggulkan tata krama dan sopan santun.

Mari kita sama-sama berbenah diri. Bukan maksud aku untuk selalu melebih-lebihkan apa yang menjadi keburukan pada apa yang kita punya. Tetapi marilah kita mengingat bahwa, Orang yang berakal adalah orang yang mau mendengarkan dan mampu mengikuti apa yang baik di antara perkataan itu. Dalam artian lain, Orang yang berakal adalah orang yang PEKA, sekali lagi.

Baiknya sekarang, marilah kita bercermin pada sang cermin sejati.

Minggu, 08 Februari 2009

Akhirnya Bertemu Teman Lama Juga... Wecome to Jogja Riztky Feby!

Waktu itu, kamis pagi, HP ku berdering tanda ada sms masuk.. Siapa ya kira-kira, pikirku. Oh dari Kiki, udah lama juga nggak ada kabar.

Kiki : Nha.. skrg q lg d jogja nh.. Lg dmn skrang?
Niha : Hwah? di Jogja? Tepatnya? Ayo ktemu Ki.. km sama sapa? Brapa hari dsini?
Kiki : D jalan Kaliurang KM 12,5.. Ayo ketemu yuk, udah lama nih nggak ketemu..hhe. Tapi di sini aku ada acara MUNAS.. ma tmen2q dsini, dan ampe hari sabtu..
Niha : Lhoh.. Aku juga di Jakal 12,5. Kok nggak bilang2 dari kmrin? Wow Keren... Munas itu apa? Musyawarah Nasional Ya?hehe
Kiki : Serius 12,5, dimananya? Aku lagi di Pesantern Pandanaran. Iya donk keren. Iya ntar aku atur deh waktunya..
Niha : Itu deket sama rumahku.. Aku ada sekitar 100 m dari kamu.. Kok bisa kebetulan gini ya.. Kmu stay-nya disitu ato dmana? Klo iya, maen deh ke tempatku. Tapi sekarang aku lg di kampus.
(Meski aku tak mau mengakui ini adalah hal yang kebetulan, karena aku percaya tak ada yg kebetulan di dunia ini, Hidup adalah desain Holistik yg sempurna!!)
Kiki : Owh gitu. Ayo atuh kita ktemu. Iya nih bisa kbetulan gitu ya.. hhe. Owh situ lg di kampus? Sip dah, kita ktemu klo km dah balik.

Kiranya begitulah percakapan aku dg Kiki alias Riztky Feby via sms.
Kiki adalah teman seperjuanganku dulu waktu kita sama-sama menimba ilmu di Pare, Kediri, JaTim. Iseng-iseng aja aku kesana karena mendapat saran dari mbak Lika untuk memanfaatkan waktu liburan untuk improve my English. Tau-taunya disana aku sekelas sama Kiki, Rifqi, Elda, sama Rahmi. Yang paling pinter dari mereka menurutku adalah si Kiki itu. Kiki berasal dari Cikarang, Jawa barat. Sedangkan Rifqi berasal dari Bandung. Mereka berdua orang Sunda tentunya, dan sedang menempuh SMA di pesantren (The Internasional Modern Boarding School) Hayatan Thoyyibah, Sukabumi. Seumuranku, waktu itu mereka sedang naik ke kelas tiga SMA, sama sepertiku. Sedangkan Rahmi adalah Orang Betawi yang tinggal di Jakarta Selatan, naik kelas dua SMA di SMA negeri di Jakarta. Yang satunya, Elda, Orang Rembang, dan masih SMP kelas tiga.

Hmmm... Waw, di Pare itu, kami belajar bahasa Inggris bersama teacher2 yang keren. Suka duka kami lewati, Hingga akhirnya aku mengenal Kiki, dkk lebih dekat.
Selama 1 bulan kami bersama. Itu adalah pengalaman yang sungguh mengesankan bagiku.
Waktu itu, bersamaan, teman2 SMA-ku di Klaten sedang berwisata di Pulau Dewata. Tapi aku memilih menghabiskan waktu liburan di Pare, Kediri. Dan ternyata aku tak menyesal tidak ikut ke Bali. Karena di Pare itu aku mendapatkan teman-teman yang hebat dan keren. Aku bersyukur, karena aku setuju dengan pepatah yang mengatakan bahwa "Banyak Teman Itu Banyak Rezeki". Aku juga bersyukur, karena sepulang dari Pare, ternyata bahasa Inggrisku meningkat drastis. Gimana nggak, selama sebulan, whole day on there, I spoke in English.
Itulah pengalaman hidup yang tidak banyak orang dapat merasakannya. Tidak hanya Kiki, dkk saja aku mengenal orang. Banyak temanku disana yang lain. Selama ini kami masih berhubungan.. Diantaranya, ada miss Wulan dari Karawang (sekarang dia Kuliah di IPB), trus ada Kak Dede dari Bogor (yang tak henti2nya ngasih aku semangat, sampai saat ini), miss Ayiz (sekarang kuliah di ITS), dan baaaaanyak lagi. Alhamdulillah sekali kan banyak teman..

Tibalah saatnya aku berpisah dengan Kiki, Rifqi, dan Rahmi. Mereka bertiga pulang bareng naik kereta ke Bandung. (Tiketnya itu yang beli aku,Rifqi, sama Pharma di Jombang, What an amazing Travelling deh, dari Kediri ke Jombang naik bus sama becak, Wahahaha, bikin ketawa kalo inget, soalnya kita bertiga sempat salah bus dan becak yang kami naiki itu sampe bannya bocorrr, kebanyakan muatan.)
Aku dan Elda mengantar mereka bertiga sampe pertigaan Pare. Nangis juga. Lha gimana, baru saja kami kenal dan merasa sangat dekat, kok tiba2 langsung berpisah tanpa tau kapan kami ketemu lagi.

Itulah perjumpaanku yang terakhir sama Kiki, di pertigaan Pare sewaktu naik ke tangga Bis. Sampai Akhirnya pada hari Sabtu kemarin aku dipertemukan lagi dengan Kiki. Kira sudah satu tahun tujuh bulanlah kami tak berjumpa. Sekarang, Kiki kuliah di ITB jurusan Farmasi, sama sepertiku, tapi aku di UGM. Sedangkan Rifqi, di UIN Bandung (katanya nurutin ayahnya). Rahmi, sejauh ini masih SMA (katanya mau masuk Psikologi UI). Kami smua telah berkiprah dengan kesuksesan kami masing2.
Dulu Kiki sempat diterima di Teknik Kimia UGM lewat jalur PBS, tapi akhirnya dilepas gara2 dapat beasiswa ke Farmasi ITB (beasiswa mpe lulusss Bo...), keren dah Ki dirimu. Memang cerdas sih...
Nah kemarin itu, Kiki di jogja juga karena ngurus beasiswa yang di dapat itu. Tapi dari sekian banyak tempat yang dapat dijadiin setting but ketemu kok ya di Ponpes Pandanaran situh tempatnya.

Sabtu pagi itu aku ngobrol panjang lebar sama dia di serambi rumah orang dan meminjam kursi panjang yang punya rumah itu (pede banget, soalnya nggak bilang2 ma yg punya, hahaha).
Kami memperdebatkan Antara Kuliah di di ITB sama UGM. Saling memuji Universitas masing2 tentunya. Akhirnya tak ada yang kalah sama yang menang, karena UGM dan ITB memang sama2 keren. Kandidat penerima beasiswa terbanyak di Indonesia dari yayasan2 (Foundation). Yah kita saling mensyukuri, karena apa yang kami dapat tak lepas dari usaha dan kerja keras masing2. Terbincang-bincang juga suatu rencana untuk daftar kimia farma bareng setelah lulus nanti. Atau kalau nggak gitu, ya melamar beasiswa S2 bareng di suatu Foundation terkenal.
Dua jam lebih kami ngobrol, ditemani Maulana, kakak kelas Kiki dari Teknik Informatika ITB.
Sorenya kita ketemu lagi di Malioboro ( nggak hujan, aneh ya... karena biasanya hujan turun tiap sore). Di Malioboro itu, mereka belanja beli oleh2 sambil foto2. Aku menemani mereka karena di suruh menawar harga. Katanya kalau yang menawar orang Jawa, harganya bisa lumayan (beugh...aku mah juga tak canggih buat tawar menawar gitu). Aku sempat ditraktir minuman enak oleh Kiki, thanks yak friend..hehe. Di samping itu kita juga foto2 bareng, Kapan lagi ke Jogja, Choy! hwehe...

Menjelang maghrib aku pulang donk.. sementara mereka menuju masjid. Mereka dapat tiket kereta jam 9.30 malam dari stasiun Tugu, Jogja. Waah berpisah lagi deh. Ya sudah, memang tak ada pertemuan abadi. Dan juga Tak ada perpisahan abadi, itu yang aku yakini =)
Mereka mengajakku ke Bandung. Kapan2 deh... Jawabku. Aku juga ada rencana kesana sih, liburan nanti sama Mesa. Ntah jadi ntah tidak lihat saja nanti.. Hmmm. Manusia merencanakan, Allah yang menentukan.
Selamat Jalan Riztky Feby, semoga selamat sampai tujuan, Salam buat Bandung ya!