Kamis, 18 Juni 2009

Know is Better

Ketika aku tidak tahu,
aku ingin tahu
Dan setelah aku tahu,
aku menyesal
Namun begitu aku tetap harus tahu.

Karena aku tidak mau,
ketidaktahuanku lebih membuatku menyesal.

Jadi,
Bantulah aku untuk tahu
sampai batas itu
dimana dimensiku tak lagi mampu
memberi sejuta titik untuk aku tahu.


Yang di atas itu lebih tepat disebut syair atau sajak yah?

Yang jelas kata-kata di atas terinspirasi dari dua orang, mereka adalah abah Hanafi dan mas Ijeps yang baru sebulan lalu aku mengenalnya.

Dari sewaktu aku kecil dan besar di rumah abah Hanafi, beliau selalu berkata akan petuah-petuah hebat yang tidak semua orang mau dan mampu buat mengatakannya padaku. Umumnya yang beliau katakan itu adalah sebuah hal yang berhubungan dengan tasawuf. Sewaktu aku kecil, mana aku tau tasawuf itu apa?.

Walau begitu, ketika sedang duduk sambil menyulut rokok di kursi, bersama anak-anaknya abah Hanafi selalu berkata. Berkata….dan berkata. Ntah didengar ntah tidak. Ntah ditanggapi ntah tidak. Yang beliau katakan itu bukanlah sebuah kritikan atas segala tingkah anaknya yang nakal-nakal dan tak mengerti aturan hidup, pun bukan pula sebuah larangan-larangan untuk tidak melakukan ini atau itu, (atau mungkin malah sindiran ya? :D).

Tetapi yang beliau katakan adalah lebih tentang sesuatu untuk kami tahu.

Dan akhirnya aku membuat suatu kesan tersendiri mengenai abah Hanafi, tak lain dan tak bukan adalah “He’s a great father”, I say.

Abah Hanafi pernah berkata, “Wong sing salah gara-gara rangerti kui ra dosa. Wong sing salah tur ngerti, kui dosa banget. Ana meneh, Wong sing dasare wegah ngerti lan ra nduweni usaha nggo ben ngerti, kui jenenge wong sing rugi.”

Dan abah Hanafi menjelaskan lagi kalau orang yang rugi itulah orang-orang yang hatinya jarang bersyukur. Sudah diberi hidup kok malah nggak pengen hidup..hahaha Beliau menjelaskan hadits dengan bahasa jawa-arab yang kira-kira bunyinya dalam bahasa indonesia seperti ini,

“Mencari ilmu di mata Allah lebih baik ketimbang salat, puasa, haji, umrah, jihad di jalan Allah”

Entah perawi-nya siapa aku tak ingat. Yang ingin ditegaskan hadits disitu adalah betapa pentingnya ilmu bagi seorang muslim, apalagi mukmin, apalagi muttaqin. Sampai-sampai Rosululloh bersabda demikian.

Aku mengerti, abah Hanafi ingin menjadi ayah yang baik di mata anak-anaknya (walaupun terkadang anaknya tak menyadari hal itu, I’m sorry pha...), terlebih juga abah Hanafi ingin menjadi manusia yang baik di mata Tuhan-Nya.

Karena itulah, aku ingin menjadi anak yang baik pula bagi abah Hanafi...semoga.

Abah Hanafi tiap pagi sehabis shubuh selalu membaca buku yang tak aku mengerti bahasanya, entah beliau belajar darimana karena aku tahu beliau tak sekolah tinggi sebagaimana profesor dan para kyai itu. Tapi beliau menegaskan bahwa siapa saja bisa menjadi gurunya. Tak harus seorang profesor di kampus-kampus tua. Yang penting ada kemauan untuk ’tahu’ agar tak menjadi orang yang merugi hidupnya. Guru bagi para penuntut ilmu di dunia ini banyak. Tak terbatas. Bahkan tak terhingga. Jumlahnya bertambah terus. Soalnya tidak ada ”mantan-guru”. Yang ada adalah ”yang sedang menjadi guru” dan ”yang akan menjadi guru”. Itu prinsip, katanya.

Saya akui, abah Hanafi adalah manusia dan ayah yang bijaksana... subhanallah.

Dan sifat itu menurutku didapatkannya dari kajian tasawuf dalam buku-bukunya.

Sebagaimana yang pernah dikatakan abah Hanafi, bahwa seseorang yang telah mengaku muslim hendaknya tak bisa lepas dari ilmu tasawuf. Tidak harus seorang sufi yang mengerti tasawuf, tapi muslim biasa pun harusnya mau mempelajarinya. Tasawuf bukan bagian dari Rukun Islam, tetapi ia merupakan bagian dari rukun akhlaq. Dan ’Abdurrahman Al Qina’i pernah ngendiko ”Islam adalah agama ilmu, pekerjaan, dan akhlaq. Barangsiapa meninggalkan salah satunya, ia akan tersesat jalannya”. Suatu laku tasawuf, itu seharusnya tak menghalangi seorang muslim untuk melakukan aktifitas usaha maupun dagang (pekerjaan) sebagaimana yang dilakukan Baginda Nabi SAW.

Hloooh yang dibahas disini ilmu apa tasawuf sih? Maaf jadi nglantur. Kalau menurutku, mensikapi tentang ”adanya ilmu” itu sendiri adalah suatu perilaku tasawuf. Hal-hal mengenai tasawuf yang ada di tulisan ini adalah penjelasan saja sebagaimana abah Hanafi mengajari anak-anaknya bagaimana hidup itu dengan suatu pendekatan tasawuf agar apa yang disampaikan menjadi bijaksana dan penuh hikmah.

Intinya, marilah kita memperbanyak ilmu agar tidak menyesal dan menjadi orang yang merugi. Setelah mendapatkannya, jangan lupa mengamalkannya. Dan dalam mengamalkannya, jangan lupa berlaku tasawuf. Supaya hidup kita sempurna di mata Yang Maha Sempurna.

InsyaAllah...

Jumat, 22 Mei 2009

Embun Sebelum Cahaya

“Miss Niha, coba deh dengar itu”, Miss Lan menunjuk radio kecil di kamarnya. Dan aku mendengarkannya. Sebuah lagu pop yang dinyanyikan salah satu band Indonesia. Memang lagunya unik, tapi syairnya tak dapat kumengerti. “Dengarlah manuver-manuver nadanya…maka kamu akan mengingat sesuatu yang baru saja kamu dengar. Itu mengingatkanku pada desa asramaku di Sukabumi. Pagi disana begitu khas, udaranya… Embunnya…”, Jelas Miss Lan. Dia adalah temanku di asrama Genta Female dulu.

“Bentar, aku baru saja mendengarnya? Kapan?”, tanyaku.

Dia mengernyitkan dahi, “Coba deh kamu ingat tadi pagi, apa kamu mendengar siluet irama seperti lagu itu? Walau tak sama persis setidaknya kan hampir mirip Miss Niha??”.

“Ooooh ya! Aku menemukan irama itu dalam memoriku. Benar Miss Lan. Ada tadi Pagi, barusan. Lagu Marawis yang dibawakan Zaki di pentas teatrikal Shubuh tadi itu tah? Memang… benar-benar mirip. Apalagi bagian intronya. Kira-kira Marawis tadi judulnya apa ya? Sayang bener kalau aku tak tau. Lha lagu yang di radio itu judulnya apa Miss?”, Jelas dan tanyaku begitu nglantur..

“ Yah, kata DJ-nya sih itu lagu barunya Letto. Judulnya ”Sebelum Cahaya”…

Kira-kira begitulah awal kisah aku mengenal lagu “Sebelum Cahaya” –nya Letto. Aku menganggap irama lagu itu adalah transkrip dari irama marawis yang dibawakan oleh Zaki dengan paduan gitar dan rebana sebagai persembahan terakhir baginya untuk teman-teman para penuntut ilmu di Asrama Genta. Karena pagi hari usai acara itu berlangsung, dia langsung bertolak dari Pare ke Surabaya. Karena kontrak belajarnya sudah habis. Jadi… tak adalah kesempatan bagiku untuk menanya kira-kira apa judul marawis itu? Begitu unik dengan pembawaan yang mengagumkan. Petikan gitar dan tabuhan rebananya sangat sempurna. Irama itu masih mengalun-alun lembut di hati, entah sampai berapa hari aku tak ingat.

Dan akhirnya irama lagu Sebelum Cahaya menggantikan irama indah itu sampai aku tak ingat lagi bagaimana. Waktu itu aku tak suka dengan lagu Letto yang satu itu. Karena telah merampas tempat di otakku yang kuperuntukkan untuk lagu marawis perpisahan itu. Apalagi aku tak mengerti sama si Author Sebelum Cahaya. Lagunya begitu rumit. Aku tak mengerti jalan ceritanya. Apalagi setelah melihat videonya. Maksudnya apa? Kupikir agak nggak nyambung. Mana itu “perjalanan sunyi”? Dan siapa yang telah menempuhnya? Kurasa gadis dan laki-laki yang main kejar-kejaran di kebun itu tak menempuhnya.

Tetapi… setelah menjelang dua tahun sekarang, kupikir aku mulai menyukainya. Dan ini gara-gara seorang temanku. Dia mengajakku ke sebuah tempat yang menunjukkan kebebasan memilih, kebebasan bepikir. Tempat dimana waktu itu kita semua yang hadir disitu adalah seorang jiwa dan menjauh dari jasad masing-masing. Disana, aku bertemu sang author lagu-lagu Letto, kudapati semua maksud yang tersembunyi dalam lagu-lagunya. Sebelum Cahaya adalah salah satunya.

Ternyata, lagu itu adalah diperuntukkan bagi Ayahandanya tercinta. Sepenuh hati ia menyusun kata demi kata dalam liriknya. Iramanya adalah irama waktu di kehidupan yang tak semua orang mengalaminya. Ayahandanyalah yang menempuh perjalanan sunyi itu dengan hati yang penuh mimpi. Berharap menemukan Cahaya dalam misbah di kalbu. Ia berharap ayahandanya selalu mengingatnya dalam pencarian Tuhan-Nya, sebagai embun pagi bersahaja… sebagai angin yang berhembus menyejukkan jiwa. Ia ingin ayahandanya kuat dengan adanya. Ia ingin menjadi anugerah yang sebenar-benarnya, dari Tuhan yang selalu ia dan ayahnya rindukan.

Kini aku mengerti apa maksud Sebelum Cahaya itu. Bagi author, Cahaya disitu tidak lain adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Sang author adalah fisikawan dari salah satu universitas di Kanada. Dan paham betul konsep dan seluk beluk cahaya yang ada di alam raya ini. Katanya, cahaya adalah sesuatu yang tak punya massa namun punya energi dengan frekuensi dari rendah hingga tinggi yang bisa bergerak dengan kecepatan yang tak tertandingi. Namun begitu, ini adalah analogi manusia dan para sufi saja. Agar akal kita tidak kelewat batas, seringkali analogi-analogi tersebut diperlukan. Karena bagaimana pun, kita tak akan bisa membandingkan kehidupan dunia dengan akhirat. Karena dunia itu bagai setitik air di samudra yang sangat luas.

Satu hal yang kutanya-tanya telah kudapatkan diperdagangan sepanjang malam itu. Jam 04.00 pagi acara itu selesai. Di tempat parkir, kudapati sepeda motorku basah. Bukan karena hujan, tapi ternyata embun telah menampakkan dirinya. Takjubku tiada usai sepanjang hari itu. Karena baru kali itu ketika aku melihatnya sebelum cahaya ia begitu menyejukkan jiwa. Di sepanjang jalan pulang, jalanan begitu sepi, lengang, dan gelap. Jalan raya Bantul-Jogja seperti karpet hitam besar yang menyambut perjalanan kami para jiwa baru. Rasa-rasanya... Jogja shubuh itu hanya milik aku dan teman-temanku saja.

Senin, 09 Februari 2009

Our Reflection (Part 2)

Sadarkah kita walaupun cermin memantulkan bayangan yang sesuai dengan apa adanya, namun tetap saja ia subjektif. Kenapa? Karena kesimpulan akhir yang terungkap dari cermin itu tentu saja dikeluarkan oleh orang yang bercermin. Ketampanan, kecantikan, dan bayangan seindah apa pun yang terpantul dari cermin itu tentang diri kita tetap saja merupakan sesuatu yang tidak obyektif. Lantas, siapakah cermin sejati itu?

Ini sebuah kenyataan yang harus kita terima bahwa orang lainlah tempat terbaik untuk menilai diri kita, sebab penilaian orang lain relative lebih obyektif. Karena bagaimanapun, orang lain relatif lebih terbebas dari nilai-nilai ego yang begitu kuat mencengkeram kita.

Namun, keobyektifan itu bernilai mahal dengan kerelaan kita menerima penilaian bukan hanya yang bernilai positif tapi juga yang bernilai negative, mahal karena jarang orang yang berlapang dada mau menerima kekurangannya, namun ia akan bahagia bila hal sebaliknya dilakukan.

Padahal mengelola refleksi diri berupa kritik akan mengantarkan kita menjadi pemimpin yang semakin hari semakin memiliki kualitas diri mnimal untuk memimpin diri sendiri.

Hal ini karena hakikat kelapangan dada untuk menerima kritik adalah parallel dengan usaha kita melakukan perbaikan dan peningkata kualitas diri.

Budaya bercermin seharusnya kita kembangkan dalam diri melalui upaya-upaya saling mengingatkan antar kita melalui media-media yang ada, salah satunya dalam suatu kinerja tim, dan dalam pergaulan kita sehari-hari. Jadikanlah upaya saling mengingatkan sebagai sarana kita untuk menjadi orang yang lebih dewasa dalam bersikap dan berhati-hati dalam bertindak. Mengingat kita semua adalah makhluk yang lemah dan jauh dari kesempurnaan. (-setuju??????-)

-Terimakasih untuk tim HSC Human Anatomofisiologi FA UGM yang tak kenal lelah membahasakan kuliah yang lalu, handout-nya sangat membantu.. -

Our Reflection (Part 1)

Dalam kuliah Kimia Farmasi Dasar November lalu, Dr. Ritmaleni yang baru saja memperoleh gelar Philsaphato Doctoral, menyampaikan pengalamannya waktu stay di Bristol Inggris. Bahwa disana itu menghargai orang berbicara adalah sebuah tradisi yang dijunjung tinggi nilainya. Berbeda dengan disini, bahwa yang seperti itu hanyalah menjadi sebuah ungkapan tata karma saja. Tidak ada realitanya.

Ditambahkan juga oleh Bapak Mitrayana, Dosen Fisika Farmasi, bahwa untuk menghasilkan karya yang besar dan fantastis, maka seseorang itu harus banyak membaca dan mendengarkan. Karena dari sebuah perkataan yang sepele dapat memunculkan kejayaan suatu peradaban. Entah bagaimana saya juga tidak terlalu tahu, karena waktu terlanjur membatasi kuliah kami waktu itu. Tapi Pak Mitra ngendiko, bahwa sebuah perkataan adalah sebuah informasi yang harus kita cerna baik buruknya. Intinya hargailah orang berbicara.

Dapat kita lihat sewaktu inauguration Barrack Obama sebagai presiden USA yang baru, ketertiban itu terlihat di saat sang Presiden berbicara maka rakyatnya diam dan mendengarkan dengan seksama. Berbeda dengan disini, sewaktu di dalam majelis, bila ada seseorang menyampaikan orasinya maka yang seharusnya mendengarkan malah sibuk sms-an, ngobrol dengan teman sebelahnya, berbisik-bisik, lebih parah juga ada yang tertawa-tawa dan becanda sendiri. Hal ini juga terjadi di majelis tinggi NKRI sewaktu sidang paripurna. Ketika sang ketua majelis memimpin rapat, para anggota dewan malah enak-enakan tidur, mengaca untuk berhias. Whaww!! Ternyata komplit banget, tidak rakyat, tidak juga wakil rakyat, tetapi semuanya. All walks of life… Wahai teman-temanku para mahasiswa dan para pembaca sekalian, janganlah hal ini terjadi pada generasi kita. Ironis juga, kita kan orang Jawa, orang timur yang mengunggulkan tata krama dan sopan santun.

Mari kita sama-sama berbenah diri. Bukan maksud aku untuk selalu melebih-lebihkan apa yang menjadi keburukan pada apa yang kita punya. Tetapi marilah kita mengingat bahwa, Orang yang berakal adalah orang yang mau mendengarkan dan mampu mengikuti apa yang baik di antara perkataan itu. Dalam artian lain, Orang yang berakal adalah orang yang PEKA, sekali lagi.

Baiknya sekarang, marilah kita bercermin pada sang cermin sejati.

Minggu, 08 Februari 2009

Akhirnya Bertemu Teman Lama Juga... Wecome to Jogja Riztky Feby!

Waktu itu, kamis pagi, HP ku berdering tanda ada sms masuk.. Siapa ya kira-kira, pikirku. Oh dari Kiki, udah lama juga nggak ada kabar.

Kiki : Nha.. skrg q lg d jogja nh.. Lg dmn skrang?
Niha : Hwah? di Jogja? Tepatnya? Ayo ktemu Ki.. km sama sapa? Brapa hari dsini?
Kiki : D jalan Kaliurang KM 12,5.. Ayo ketemu yuk, udah lama nih nggak ketemu..hhe. Tapi di sini aku ada acara MUNAS.. ma tmen2q dsini, dan ampe hari sabtu..
Niha : Lhoh.. Aku juga di Jakal 12,5. Kok nggak bilang2 dari kmrin? Wow Keren... Munas itu apa? Musyawarah Nasional Ya?hehe
Kiki : Serius 12,5, dimananya? Aku lagi di Pesantern Pandanaran. Iya donk keren. Iya ntar aku atur deh waktunya..
Niha : Itu deket sama rumahku.. Aku ada sekitar 100 m dari kamu.. Kok bisa kebetulan gini ya.. Kmu stay-nya disitu ato dmana? Klo iya, maen deh ke tempatku. Tapi sekarang aku lg di kampus.
(Meski aku tak mau mengakui ini adalah hal yang kebetulan, karena aku percaya tak ada yg kebetulan di dunia ini, Hidup adalah desain Holistik yg sempurna!!)
Kiki : Owh gitu. Ayo atuh kita ktemu. Iya nih bisa kbetulan gitu ya.. hhe. Owh situ lg di kampus? Sip dah, kita ktemu klo km dah balik.

Kiranya begitulah percakapan aku dg Kiki alias Riztky Feby via sms.
Kiki adalah teman seperjuanganku dulu waktu kita sama-sama menimba ilmu di Pare, Kediri, JaTim. Iseng-iseng aja aku kesana karena mendapat saran dari mbak Lika untuk memanfaatkan waktu liburan untuk improve my English. Tau-taunya disana aku sekelas sama Kiki, Rifqi, Elda, sama Rahmi. Yang paling pinter dari mereka menurutku adalah si Kiki itu. Kiki berasal dari Cikarang, Jawa barat. Sedangkan Rifqi berasal dari Bandung. Mereka berdua orang Sunda tentunya, dan sedang menempuh SMA di pesantren (The Internasional Modern Boarding School) Hayatan Thoyyibah, Sukabumi. Seumuranku, waktu itu mereka sedang naik ke kelas tiga SMA, sama sepertiku. Sedangkan Rahmi adalah Orang Betawi yang tinggal di Jakarta Selatan, naik kelas dua SMA di SMA negeri di Jakarta. Yang satunya, Elda, Orang Rembang, dan masih SMP kelas tiga.

Hmmm... Waw, di Pare itu, kami belajar bahasa Inggris bersama teacher2 yang keren. Suka duka kami lewati, Hingga akhirnya aku mengenal Kiki, dkk lebih dekat.
Selama 1 bulan kami bersama. Itu adalah pengalaman yang sungguh mengesankan bagiku.
Waktu itu, bersamaan, teman2 SMA-ku di Klaten sedang berwisata di Pulau Dewata. Tapi aku memilih menghabiskan waktu liburan di Pare, Kediri. Dan ternyata aku tak menyesal tidak ikut ke Bali. Karena di Pare itu aku mendapatkan teman-teman yang hebat dan keren. Aku bersyukur, karena aku setuju dengan pepatah yang mengatakan bahwa "Banyak Teman Itu Banyak Rezeki". Aku juga bersyukur, karena sepulang dari Pare, ternyata bahasa Inggrisku meningkat drastis. Gimana nggak, selama sebulan, whole day on there, I spoke in English.
Itulah pengalaman hidup yang tidak banyak orang dapat merasakannya. Tidak hanya Kiki, dkk saja aku mengenal orang. Banyak temanku disana yang lain. Selama ini kami masih berhubungan.. Diantaranya, ada miss Wulan dari Karawang (sekarang dia Kuliah di IPB), trus ada Kak Dede dari Bogor (yang tak henti2nya ngasih aku semangat, sampai saat ini), miss Ayiz (sekarang kuliah di ITS), dan baaaaanyak lagi. Alhamdulillah sekali kan banyak teman..

Tibalah saatnya aku berpisah dengan Kiki, Rifqi, dan Rahmi. Mereka bertiga pulang bareng naik kereta ke Bandung. (Tiketnya itu yang beli aku,Rifqi, sama Pharma di Jombang, What an amazing Travelling deh, dari Kediri ke Jombang naik bus sama becak, Wahahaha, bikin ketawa kalo inget, soalnya kita bertiga sempat salah bus dan becak yang kami naiki itu sampe bannya bocorrr, kebanyakan muatan.)
Aku dan Elda mengantar mereka bertiga sampe pertigaan Pare. Nangis juga. Lha gimana, baru saja kami kenal dan merasa sangat dekat, kok tiba2 langsung berpisah tanpa tau kapan kami ketemu lagi.

Itulah perjumpaanku yang terakhir sama Kiki, di pertigaan Pare sewaktu naik ke tangga Bis. Sampai Akhirnya pada hari Sabtu kemarin aku dipertemukan lagi dengan Kiki. Kira sudah satu tahun tujuh bulanlah kami tak berjumpa. Sekarang, Kiki kuliah di ITB jurusan Farmasi, sama sepertiku, tapi aku di UGM. Sedangkan Rifqi, di UIN Bandung (katanya nurutin ayahnya). Rahmi, sejauh ini masih SMA (katanya mau masuk Psikologi UI). Kami smua telah berkiprah dengan kesuksesan kami masing2.
Dulu Kiki sempat diterima di Teknik Kimia UGM lewat jalur PBS, tapi akhirnya dilepas gara2 dapat beasiswa ke Farmasi ITB (beasiswa mpe lulusss Bo...), keren dah Ki dirimu. Memang cerdas sih...
Nah kemarin itu, Kiki di jogja juga karena ngurus beasiswa yang di dapat itu. Tapi dari sekian banyak tempat yang dapat dijadiin setting but ketemu kok ya di Ponpes Pandanaran situh tempatnya.

Sabtu pagi itu aku ngobrol panjang lebar sama dia di serambi rumah orang dan meminjam kursi panjang yang punya rumah itu (pede banget, soalnya nggak bilang2 ma yg punya, hahaha).
Kami memperdebatkan Antara Kuliah di di ITB sama UGM. Saling memuji Universitas masing2 tentunya. Akhirnya tak ada yang kalah sama yang menang, karena UGM dan ITB memang sama2 keren. Kandidat penerima beasiswa terbanyak di Indonesia dari yayasan2 (Foundation). Yah kita saling mensyukuri, karena apa yang kami dapat tak lepas dari usaha dan kerja keras masing2. Terbincang-bincang juga suatu rencana untuk daftar kimia farma bareng setelah lulus nanti. Atau kalau nggak gitu, ya melamar beasiswa S2 bareng di suatu Foundation terkenal.
Dua jam lebih kami ngobrol, ditemani Maulana, kakak kelas Kiki dari Teknik Informatika ITB.
Sorenya kita ketemu lagi di Malioboro ( nggak hujan, aneh ya... karena biasanya hujan turun tiap sore). Di Malioboro itu, mereka belanja beli oleh2 sambil foto2. Aku menemani mereka karena di suruh menawar harga. Katanya kalau yang menawar orang Jawa, harganya bisa lumayan (beugh...aku mah juga tak canggih buat tawar menawar gitu). Aku sempat ditraktir minuman enak oleh Kiki, thanks yak friend..hehe. Di samping itu kita juga foto2 bareng, Kapan lagi ke Jogja, Choy! hwehe...

Menjelang maghrib aku pulang donk.. sementara mereka menuju masjid. Mereka dapat tiket kereta jam 9.30 malam dari stasiun Tugu, Jogja. Waah berpisah lagi deh. Ya sudah, memang tak ada pertemuan abadi. Dan juga Tak ada perpisahan abadi, itu yang aku yakini =)
Mereka mengajakku ke Bandung. Kapan2 deh... Jawabku. Aku juga ada rencana kesana sih, liburan nanti sama Mesa. Ntah jadi ntah tidak lihat saja nanti.. Hmmm. Manusia merencanakan, Allah yang menentukan.
Selamat Jalan Riztky Feby, semoga selamat sampai tujuan, Salam buat Bandung ya!

Rabu, 14 Januari 2009

Saat Sadar

Ibu...
Ternyata sakit itu rasanya sakit sekali ya, Bu
Sakit ini membawa jiwaku ke suatu sadar
Betapa mulianya engkau.
Tak adalah orang di dunia ini yang seberarti engkau, Bu
Maafkan aku, anakmu
Yang mungkin tak pernah bisa mengerti akan engkau

Andai kau tahu Ibu, malam ini aku mengingatmu.
Ingin sekali aku berada di sampingmu, di pangkuanmu
Mengungkap segala rasa sakit dan peluh hidup yang mendera
Menyatakan berjuta ma'afku
yang telah tersimpan lama di lubuk hati ini..

Ma'afkan durhakaku
Karena aku tak pernah bisa menjadi seperti harapanmu

Aku berjanji, do'aku untukmu tak akan pernah surut
Sampai akhir hidupku
Syukurku pada-Mu Ya Allah
Karena aku masih mempunyai ibu yang hidup di dunia ini

Ketika sakit, aku baru sadar
Aku sungguh butuh engkau, Ibu
Dan sekarang engkau tak ada disini

Sesal ini untuk diamku ketika engkau ada
Dan sesal ini untuk air mata yang selalu keluar sia-sia...

Berita dari Timur Tengah

…bukit ini telah menjadi saksi pertemuanku dengan Zelgav. Zelgav adalah temanku dari Tel Aviv. Kita sama-sama bersembunyi di lorong gua dalam bukit ini sewaktu tentara zionis itu melemparkan rudalnya. Seketika, kami berdua menyaksikan, bukit kini telah hancur. Tak ada lagi hijau rumput dan sepoinya angin. Kami membisu, dan Zelgav pun hanya dapat menatapku. Aku hanya pula dapat merasa bahwa dia sesungguhnya tidak menginginkan semua ini terjadi. Begitu pula aku. Itulah kali pertemuanku yang terakhir dengan Zelgav, satu-satunya insan Yahudi yang pernah kutemui yang benci akan bangsanya sendiri. Aku dan dia selalu berpikir, bisa nggak kita berdamai. Berdamai beriringan tanpa perselisihan. Hidup bertetangga dengan cinta, sebagaimana yang terjadi di luar sana. Aku, Ayyub, tak pernah minta dilahirkan disini, di tanah sengketa ini. Aku percaya kami semua lahir karena dan atas dasar cinta. Tapi, aku telah ada untuk bangsaku. Di tanah tumpah darah Abi dan Umi. Yang lalu menyaksikan dan menjalani hidup yang jauh dari kedamaian…”

Tanggal 27 Desember 2008, pembantaian warga sipil Palestina oleh tentara Zionis Israel marak lagi dikancah Internasional. Hari ini, tanggal 14 Januari 2009, sudah 19 hari warga Palestina yang tewas ada lebih dari 900 jiwa. Kebanyakan anak-anak dan ibu. Mengapa? Apa Zionis memang sengaja membunuh anak-anak dan kaum ibu? Jawabannya 99,99% Ya. Mereka begitu membenci umat islam. Yahudi adalah musuh Islam yang paling nyata, terbukti dengan selalu mengadakan perang terbuka, pintar membuat propaganda dan membolak balikkan fakta. Dan serangan berupa sedikit peluncuran roket Hamas, dijadikanlah mereka suatu santapan lezat. Mereka lapar dan haus akan realisasi arogansi. Mereka begitu tidak tahan untuk tidak menampakkan kreasi yang menurut mereka adalah kreasi hebat di mata dunia.

Sejak dulu, kaum Yahudi terkenal dengan kepicikannya, kelicikannya, arogansinya. Mereka begitu bernafsu untuk menguasai dunia, bahkan alam atau jagad raya. Mereka itu memang pintar untuk saat dan selama ini, tapi sayang sekali, mereka tidak cerdas. Kecerdasan mereka tidak pernah sinkron dengan seonggok daging yang bernama ‘hati’. Nurani mereka begitu hitam dan kosong. Mereka bukan bangsa yang cerdas dan kreatif. Apabila kita sadar, Yahudi adalah plagiat orang islam. Mereka meng-kopi ilmu yang dimiliki orang islam untuk menggapai kejayaan. Mereka adalah kaum yang suka membuat kerusakan di muka bumi, dan ini telah menjadi suatu hobi buat mereka. Kelicikan mereka sudah dibuktikan oleh nabi Muhammad SAW sendiri. Yahudi tak pernah mau diajak kompromi dan berdamai. Dan apabila mau pun, itu hanya suara di mulut semata. Ingkar janji tepatnya. Itulah mengapa bangsa Palestina tak pernah sudi membuat kesepakatan dan perjanjian dengan mereka. Kalau perang adalah suatu jalan, maka mereka akan berperang sampai titik darah terakhir.

Kebencian Yahudi terhadap umat islam, terutama bangsa Palestina, telah berkali-kali membuahkan sensasi yang benar-benar tak wajar untuk dapat dijadikan tontonan penduduk dunia pada abad 21 ini. Perang yang berlebihan, pembantaian pada bangsa Palestina telah menjadi ‘holocaust reversibel’. Mereka benci terhadap umat muslim. Mereka tidak terima akan keberadaan jejak orang Islam di tanah nenek moyang mereka. Ini adalah jawaban mengapa mereka begitu bernafsu menyerang warga sipil Palestina, terutama anak-anak dan kaum ibu. Betapa tidak, banyak anak-anak Palestina yang tewas adalah para penghafal Al Qur’an, sebagaimana kita tahu, mereka akan menjadi ilmuwan agama tentunya. Sedangkan kaum ibu, siapakah ibu? Beliau adalah yang melahirkan anak-anak titipan Allah. Apabila tak ada ibu, tentu tak akan ada lagi generasi penerus agama, bangsa, dan negara. Jelas sekali bukan?

Pembantaian, pembombardiran, nafsu mengusir dan mengenyahkan umat muslim telah menjadi prinsip yang mengakar kuat dalam jiwa para Zionis. Mereka merasa tak terkalahkan dan tak takut akan kecaman. Mereka selalu mempunyai alasan untuk dapat tidak dikatakan sebagai The Real Terrorist. Zionis berani membalikkan fakta. Tak hanya itu, bahkan mereka berani menolak ratusan point dalam resolusi PBB. Kutukan dunia yang seharusnya menjadi seperti air dingin, tetapi malah dijadikan bensin untuk membakar api emosi mereka.

Tapi saya percaya, Allah selalu menampakkan kebesaran-Nya…